Tanggapan Sayyid Muhammad Al-Maliki tentang Larangan Memuji Nabi

0
85

BincangSyariah.Com – Bermula dari sabda Nabi Muhammad Saw., dengan redaksi sebagai berikut:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Jangan kalian puji aku sebagaimana orang Nasrani memuji Isa bin Maryam. Aku adalah hamba-Nya, maka katakanlah Abdullah (hamba Allah) dan Rasuluhu (utusan-Nya).” (H.R. Bukhari)

Sebagian orang bepandangan bahwa perintah yang terkandung dalam hadis di atas adalah sebuah larangan memuji Rasulullah secara umum. Mereka menganggap bahwa memuji dan melebih-lebihkan Nabi dibanding manusia lain adalah perbuatan tercela yang mendekatkan diri terhadap perbuatan syirik.

Orang yang memuji dan mengungunggul-unggulkan Nabi di atas manusia umumnya pun dianggap sebagai orang yang berbuat bid’ah dalam hal agama. Selain itu juga disebut sebagai orang yang melanggar sunnah Nabi Muhammad Saw.

Merasa ada kekeliruan terhadap pemahaman yang disandarkan pada sabda Nabi di atas, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menjawabnya melalui tulisan beliau yang terkumpul dalam kitabnya Mafahim Yajibu an Tushahhah. Dalam kitabnya tersebut, Sayyid Muhamnad menyatakan bahwa pemahaman di atas merupakan pemahaman yang buruk, serta menunjukkan sempitnya pandangan pemiliknya.

Sayyid Muhammad pun menambahkan bahwa dimaksudkan Nabi bukanlah pujian secara umum. Tetapi larangan atas pujian sebagaimana pujian umat Nasrani kepada Nabi Isa bin Maryam dengan sebutan Ibnullah (anak Tuhan). Sehingga konsekuensi yang didapat atas hadis Nabi di atas adalah apabila umat Nabi Muhammad menyandangkan pujian tersebut kepada beliau, maka perilaku mereka sama saja dengan perikalu umat Nasrani.

Konsekuensi itulah yang kemudian mendasari penuturan Imam Al-Busyiri dalam Qashidah Burdah. Tinggalkanlah keyakinan umat Nasrani terhadap Nabi mereka dan berilah beliau pujian sesukamu. Karena keutamaan Rasulullah tidak memiliki batas hingga mampu diungkapkan dengan lisan. Batas pengetahuan kita adalah beliau manusia, padahal beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah

Adapun orang yang memuji dan menyifati Nabi dengan sesuatu yang tak mengeluarkan dari hakikat kemanusiaan beliau, maka tiada keraguan akan keimanan orang tersebut. Begitu pun dengan orang yang tetap meyakini bahwa Nabi adalah putra Abdullah, maka ia terjauhkan dari keyakinan yang serupa dengan kaum Nasrani.

Baca Juga :  Inilah Kisah Khalid Al-Miski; Pemuda yang Harum Aroma Tubuhnya karena Hal Ini

Dalam Al-Qur’an secara jelas dapat dijumpai sanjungan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Misalnya, sebagaimana dalam Q.S. Al-Qalam [68]: 4, yang berisikan tentang sanjungan Allah akan pekerti Rasulullah. Selain itu, ayat yang memuat perintah supaya beradab ketika berbicara dengan Rasulullah termaktub dalam Q.S. Al-Hujurat [49]: 2. Serta Q.S. An-Nur [24]: 63, yang menjelaskan tentang larangan memanggil Nabi sebagaimana memanggil orang lain.

Andaikan Nabi melarang orang-orang untuk memuji beliau secara umum, tentunya Nabi sudah mencegah para sahabat dari memuji beliau. Akan tetapi hal itu tidak dilakukan Nabi kepada Hasan bin Tsabit ketika memuji Nabi dengan pujian-pujian elok melalui syairnya, atau Ka’ab bin Zuhair melalui syair Burdah yang sangat terkenal itu.

Bahkan Rasulullah pernah memuji dirinya sendiri.

أنَا أتْقَى وَلَدِ آدَمَ وَأكْرَمُهُمْ عَلَى اللهِ وَلاَ  فَخْرَ

“Dan akulah anak Adam yang paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah dan aku tidak sombong.” (H.R. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dimengerti bahwa pujian terhadap terhadap Nabi tetap diperkenankan selama masih melekatkan sifat kemanusiaan Nabi Saw. Mengunggulkan Nabi dibanding manusia lainnya sekali pun. Sedangkan pujian yang tidak diperkenankan adalah melebih-lebihkan dalam memuji Nabi sebagaimana pujian kaum Nasrani kepada Nabi dari kaum mereka. Dalam hal ini dicontohkan menyebut Isa bin Maryam dengan sebutan Ibnullah (anak Tuhan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here