Tak Menjawab Sebuah Pertanyaan Terkadang Bukan Hal Bodoh, Imam Syafii Juga Begitu

0
1269

BincangSyariah.Com – Disadari atau tidak kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan dibutuhkan oleh orang lain dalam kehidupan. Kita dianugerahkan akal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta untuk kita survive dalam hidup, untuk berfikir bagaimana cara berkomunikasi, dan untuk melanjutkan hidup dengan sesama manusia dan juga alam. Dari situlah kita senantiasa berhubungan dengan orang lain, untuk kelangsungan hidup di dunia.

Salah satu hal yang tidak bisa dipungkiri  dalam kehidupan sehari-hari adalah menanyakan suatu masalah kepada orang lain, atau kita ditanya oleh orang lain perihal masalah tertentu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dianjurkan untuk tidak menjawab dengan sesuka hati atau lebih ke jawaban yang condong pada urusan pribadi. Melainkan dipikirkan terlebih dahulu sebelum terucap dari mulut.

Atau bahkan jika memang pertanyaannya tersebut tak membutuhkan jawaban, kita diperbolehkan untuk tidak menjawab. Sebab tidak menjawab sebuah pertanyaan yang tak perlu adalah sebuah jawaban. Yang demikian merupakan etika yang mulia yang dicontohkan Imam Syafi’i. dalam kitab Ihya Ulumuddin milik Imam Ghazali menceritakan:

وسئل الشافعي رضي الله عنه عن المسألة فسكت، فقيل له: ألا تجيب رحمك الله لك؟ فقال: حتى أدري الفضل في سكوتي أو في جوابي

Imam Syafii ketika ditanya tentang suatu masalah, beliau diam. Begitu ditanya, “Apakah kau tak tau jawabannya?” Jawabanya, “(Bukannya aku tak tau), tapi aku berpikir dulu mana yang lebih utama (afdhal) apakah dijawab atau tidak.”

Begitulah beliau, seorang ulama yang tak bertutur atau berdiam, kecuali harus jadi sebuah kebaikan. Perlu kiranya bagi kita untuk tidak mengabaikan teladan yang ditorehkan Imam Syafi’I tersebut.

Dalam Syarah Arbain, karya Imam Nawawi juga disebutkan bahwa Imam Syafi’I mengatakan jika seseorang akan berbicara, maka hendaknya dipikir terlebih dahulu. Jika ia merasa bahwa perkataan (jawaban) tersebut tidak merugikan, maka ucapkanlah. Namun jika perkataan (jawaban) tersebut mengandung madharat tertentu atau bahkan masih dalam keraguan, maka hendaknya ditahan saja atau tidak perlu dikatakan.

Baca Juga :  Bacaan Shalawat yang Pertama Kali Dipopulerkan Imam Syafii

Yang demikian tentu berlandaskan hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HRBukhari Muslim)

Etika yang mulia di atas mencerminkan bahwa Rasulullah mencintai umat muslim dengan cinta luar biasa. Mengapa demikian, sebab jika kita mengeluarkan perkataan atau jawaban yang tidak mengarah pada kebaikan tentu akan kembali dengan rupa tidak baik pula.  Karena selamatnya insan sebab terjaganya lisan. Begitu pun dengan beberapa pertanyaan yang sering hadir menyelip dalam tiap aktivitas, seyogyanya dijawab dengan apa yang baik-baik dan mengarah pada kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here