Tak Ada Alasan untuk Meninggalkan Ibadah, Lihatlah Pengorbanan Empat Nabi Ini

0
685

BincangSyariah.Com – Selagi nyawa masih ada, Muslim harus tetap selalu mendekatkan diri pada Allah sesuai kemampuannya. Seorang Muslim yang sakit parah dan tidak bisa bergerak sekalipun, menurut Muḥammad Bâ‘aṭiyyah ad-Dû‘anî, tetap harus melaksanakan salat meskipun menggunakan isyarat kelopak matanya. Kalau sudah tidak bisa menggunakan gerakan kelopak mata, maka dia bisa melaksanakan salat menggunakan hatinya (Gâyahal-Munâ Syarḥ Safînahan-Najâ, 2008: 243).

Hal ini berarti sesuai dengan tujuan primer ibadah, sebagaimana dikatakan oleh Imam asy-Syâṭîbî, yaitu: menghadapkan diri kepada Allah dengan hati tulus karena-Nya dalam rangka tunduk dan patuh kepada-Nya; memperoleh derajat (kedudukan) mulia di akhirat; atau menjadi kekasih (wali) Allah (Yûsuf al-Qaraḍâwî, al-‘Ibâdahfî al-Islâm, 1995: 119).

Selain itu, terdapat ibadah badan batin (al-‘ibâdât al-badaniyyah al-qalbiyyah) yang bisa dilaksanakan oleh setiap Muslim meskipun dalam keadaan sakit, seperti iman, makrifat, tafakur, tawakal, sabar, rajâ’, rida terhadap kada dan kadar, cinta kepada Allah, tobat, dan membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, seperti tamak dan sifat buruk lainnya. Beberapa ibadah badan batin tersebut, menurut Imam Nawawî al-Jâwî, lebih utama daripada ibadah badan lahir seperti salat sekalipun (Syarḥ Kâsyifah as-Sajâ, hlm. 5-6).

Adapun terkait dengan orang yang berani meninggalkan ibadah, Imam Nawawî al-Jâwî (Syarḥ Naṣâ’iḥ al-‘Ibâd, hlm. 27) menyebutkan hadis Nabi saw. bahwa besok di hari kiamat Allah akan berhujah atau berargumentasi dengan empat orang nabi untuk menolak alasan orang-orang yang meninggalkan ibadah.

Pertama, Nabi Sulaiman as. untuk orang-orang kaya; kedua, Nabi Yusuf as. untuk para budak atau pembantu; ketiga, Nabi Ayyub as. untuk orang-orang yang sakit; dan keempat, Nabi Isa as. untuk orang-orang fakir.

Imam Nawawî al-Jâwî menjelaskan bahwa Allah akan bertanya kepada orang-orang kaya yang meninggalkan ibadah seraya berkata “mengapa kalian meninggalkan ibadah kepada-Ku?” Kalau mereka menjawab, “kami sibuk dengan harta dan kerajaan (pemerintahan) kami, ya Allah,” maka Allah akan membalas, “adakah kerajaan (pemerintahan) yang lebih besar dan harta yang lebih banyak daripada kerajaan dan harta milik Sulaiman? Dan dia sekali-kali tidak pernah meninggalkan ibadah kepada-Ku.”

Baca Juga :  Doa Ketika Diangkat Menjadi Pejabat

Pertanyaan serupa akan ditanyakan kepada para budak atau pembantu yang meninggalkan ibadah. Kalau mereka menjawab, “kami sibuk melayani tuan atau majikan kami, ya Allah”, maka Allah akan membalas, “hamba-Ku, Yusuf, bertahun-tahun menjadi pelayan raja Mesir dan istrinya dan dia tidak pernah meninggalkan ibadah kepada-Ku.” Begitu pula dengan orang-orang sakit yang meninggalkan ibadah.

Kalau mereka menjawab, “kami sakit, ya Allah,” maka Allah akan membalas, “hamba-Ku, Ayyub, dia sakit keras selama bertahun-tahun dan dia tidak pernah meninggalkan ibadah kepada-Ku.” Demikian pula dengan orang-orang fakir (sangat miskin) yang meninggalkan ibadah. Kalau mereka menjawab, “kami berada dalam kefakiran, ya Allah,” maka Allah akan membalas, “hamba-Ku, Isa, adalah orang yang paling fakir di muka bumi. Dia tidak punya apa-apa selama hidup di dunia. Dia tidak punya rumah, harta, dan istri. Namun, dia tidak pernah meninggalkan ibadah kepada-Ku.”

Dengan demikian, semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan godaan dan tipuan. Sehingga kita bisa istikamah melaksanakan ibadah, baik mahḍah maupun gair mahḍah, dalam rangka menghamba kepada Allah dengan hati yang bersih dan tulus. Akhirnya, waallâh ’a‘lamwaa‘lâwaaḥkam…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here