Tahapan Kondisi Spiritual atau Ahwal dalam Tasawuf

0
9

BincangSyariah.ComAhwal adalah jamak dari kata al-hal, yang oleh al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah (t.th.: 66) diartikan dengan, sebuah kondisi yang datang ke hati dengan tanpa disengaja dan tanpa diupayakan, seperti kondisi gembira, sedih, jengkel, rindu dan lain sebagainya.

Abdullah bin Ali as-Sarraj dalam al-Luma’ (t.th.: 42) mendefinisikan ahwal dengan kondisi yang berada dalam hati atau hati yang berada dalam kondisi tertentu, yaitu berupa kemurnian dzikir.

Perbedaan Hal dan Maqamat

Menurut al-Qusyairi (t.th.: 66), ahwal dan maqamat memiliki perbedaan: ahwal adalah pemberian (mawaahib), sedangkan maqaamat adalah usaha (makaasib). Ahwal berasal dari kemurahan Allah, sedangkan maqaamat diperoleh dengan mengerahkan segenap upaya.

Artinya, ahwaal didapatkan tidak melalui cara mujahadah, ibadah dan riyadah, sebagaimana maqamat.

Namun menurut analisa As-Suhrowardi dalam Awariful Ma’arif (t.th.: 265), ahwal dan maqamat, keduanya adalah mawaahib. Karena makaasib itu diliputi oleh mawaahib, demikian pula, mawaahib juga diliputi oleh makaasib. Ahwaal adalah sesuatu yang didapatkan, dan maqaamat adalah jalan untuk mendapatkannya.  

Dari analisa ini bisa dipahami bahwa bagian luar dari maqaamat adalah kasab (usaha), kemudian bagian dalamnya adalah pemberian atau anugerah (mawaahib). Adapun ahwaal, bagian luarnya adalah mawaahib, dan bagian dalamnya adalah kasab.

Sebagian sufi ada yang membedakan ahwal dan maqamat, ahwal itu sifatnya tidak permanen, cepat seperti kilat. Sedangkan yang bersifat permanen disebut dengan hadiits an-nafs (bisikan nafsu).

Namun menurut As-Suhrowardi, keberadaan ahwaal memang terkadang tidak permanen, terkadang dia datang kemudian dihilangkan oleh nafsu. Namun pada dasarnya ahwaal tidak bisa tercampur dengan nafsu, bagaikan minyak yang tidak bisa bercampur dengan air.

Bahkan menurut sebagian sufi, ahwaal baru bisa disebut dengan ahwaal apabila dia telah permanen. Sedangkan kondisi yang tidak permanen disebut dengan lawaaih (sesuatu yang tampak), thawaali’ (sesuatu yang terlihat) dan bawaadir (sesuatu yang mendahului) yang menjadi permulaan ahwaal.

Macam-macam Ahwal

As-Sarraj telah membagi al-ahwaal dalam sepuluh tingkatan sebagai berikut:

Muraqabah

Muraqabah adalah mengetahui dan meyakini bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui isi hati hambaNya, sehingga hamba tersebut selalu mengontrol bisikan-bisikan hati yang tidak baik yang bisa melalaikan, tidak ingat kepada Tuhannya.

Al-Qurbu

Pengertian dari al-qurbu adalah seorang hamba melihat dengan hatinya bahwa Allah dekat dengan dirinnya, kemudian dia mendekat kepada Allah dengan melaksanakan ibadah serta mengumpulkan seluruh perhatiannya di hadapan Allah, dengan cara selalu berzikir baik ketika di depan publik atau ketika sendiri.

Mahabbah  

Hal mahabbah adalah, seorang hamba melihat dengan matanya atas semua nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Kemudian melihat dengan hatinya bahwa Allah sangatlah dekat, selalu memperhatikan dan menjaganya. Juga melihat dengan iman dan keyakinannya terhadap semua yang telah diberikan Allah, berupa perhatian, hidayah dan cintaNya yang qadim, sehingga dirinya juga mencintai Allah.

Ciri-ciri dari rang yang mencintai Allah diantaranya adalah: selalu mengingatNya, perilaku lahir-batinnya sesuai dengan aturan Allah, dan mengikuti Rasulullah, mulutnya selalu menyebut namaNya, serta merasakan manisnya munajat kepadaNya.

Ketika Husain bin Ali ditanya tentang mahabbah (cinta), dia menjawab, “badzlu al-majhuud wal habiibu yaf’alu maa yasyaa’” (cinta adalah mencurahkan segenap upaya, sementara dia yang dicintai melakukan apa saja sesukanya).

Khauf  

Menurut al-Qusyairi, khauf adalah hal yang berkaitan dengan masa depan, karena takut terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan atau kehilangan sesuatu yang menyenangkan. Khauf tidak memiliki keterkaitan dengan sesuatu yang terjadi pada masa sekarang.

Sedangkan takut kepada Allah artinya adalah, seseorang takut akan siksaan Allah, baik di dunia mau pun di akhirat.

Raja’

Menurut al-Qusyairi, raja’ adalah keterkaitan hati dengan sesuatu yang disukai yang akan terjadi pada masa mendatang.

Sebagaimana khauf, raja’ juga terkait dengan masa depan. Raja’ terjadi karena hati mengharapkan terjadinya sesuatu yang menyenangkan pada masa mendatang.

Menurus as-Sarraj, raja’ ada tiga macam, yaitu: raja’ atau mengharapkan Allah,mengharapkan luasnya kasih sayang Allah, dan mengharapkan pahala Allah.

Syauq

Syauk adalah kerinduan seorang hamba, ingin bertemu dengan kekasihnya.

Ada juga yang mengatakan syauq adalah hati yang jatuh cinta ketika mengingat kekasihnya.

Tingkatan orang-orang yang syauq bermacam-macam, ada yang rindu dengan janji Allah untuk orang-orang yang Ia cintai, berupa pahala, kemuliaan, anugerah dan keridhaan. Juga ada yang rindu kepada kekasihnya kerena cintanya yang sangat mendalam, dia mengeluh atas keberadaannya di dunia, dan rindu ingin lekas berjumpa dengan kekasihnya.

Al-unsu (Nyaman / Tenang)

Pengetian al-unsu adalah percaya kepada Allah, tenang dengan Allah, dan memohon pertolongan kepadaNya.

Ada sekelompok orang yang tenang dengan dzikir dan resah ketika lalai tidak berdzikir, juga tenang ketika melaksanakan ketaatan dan resak ketika berdosa. Demikian pula ada yang tenang dengan Allah dan resah dengan selainNya, yaitu setiap perkara yang menyibukkan hati, membuatnya jauh dari Allah.

Thuma’ninah

Sahl bin Abdillah mengatakan, ketika hati seorang hamba telah tenang dengan Tuhannya, maka kondisinya menjadi kuat. Ketika kondisinya kuat, maka segala sesuatu akan terasa menyenangkan baginya.

Manusia ada yang merasakan tenang ketika berdzikir kepada Allah, dan bagian untuknya dari Allah adalah terkabulnya doa, luasnya rezeki, dan terhindar dari bahaya. Ada lagi manusia yang rela dengan ketetapan Allah, sabar atas musibahnya, ikhlas, bertakwa dan memiliki jiwa yang tenang.

Al-Musyahadah

Ketika seseorang telah musyahadah (menyaksikan) Allah dengan hatinya, maka segala sesuatu selain Allah akan mundur menjauh, memudar dan hilang. Semuanya akan sirna ketika seseorang telah mendapati wujud keagungan Allah, dan tidak ada yang berada dalam hati kecuali Allah SWT.

Al-Yaqin 

Sebagian sufi mendefinisikan yaqin dengan, tidak memprihatinkan hari esok.

Ada yang mengatakan, yaqin adalah ketika hati bisa meyakini kebenaran sesuatu yang gaib.

Al-Junaid mengatakan, yaqin adalah pengetahuan yang telah tertanam kuat sehingga tidak berubah-ubah di dalam hati. Atau di tempat lain al-Junaid mengatakan, yaqin adalah hilangnya keraguan.

Allah telah meyebutkan tiga macam yaqin, yaitu: Ilmul Yaqin, Ainul Yain dan Haqqul Yaqin.

Ilmul yaqin diperuntukkan bagi orang-orang yang mengetahui dengan dalil dan bukti, ainul yaqin untuk yang mengetahui dengan kasyaf dan fakta, dan haqqul yaqin untuk yang mengetahui dengan musyahadah dan nyata.

Contohnya, orang yang pernah mendengar keberadaan kota Makkah tetapi belum pernah melihatnya, maka pengetahuannya disebut ilmul yaqin, ketika sudah melihat tetapi belum memasukinya, maka pengetahuannya disebut ainul yaqin, dan ketika telah memasuki dan menguasainya, maka pengetahuannya disebut haqqul yaqin.

Demikianlah penjelasan singkan tentang al-ahwal dalam tasawuf semoga bermanfaat dan bisa menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT. amin.

Wallahu a’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here