Tafsir Tarbawi: Belajar Sikap Tawadhu dari Kisah Nabi Khidir dan Musa

0
1095

BincangSyariah.Com – Sikap tawadhu terhadap sesama manusia merupakan sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan ke-mahakuasa-an Allah swt atas segala hamba-Nya. Manusia adalah makhluk lemah yang selalu membutuhkan karunia, ampunan dan rahmat dari Allah.

Orang yang tawadhu akan menyadari bahwa segala hal yang dimilikinya baik bentuk rupa yang menawan, ilmu pengetahuan, harta kekayaaan, maupun pangkat dan kedudukan semuanya itu adalah karunia dari Allah swt.

Pohon yang akarnya menghujam ke dalam tanah, akan berdiri kokoh dan kuat. Manakala dihempas anghin, bahkan diterjang badai sekalipun ia akan tegak berdiri. Inilah perumpamaan implementasi sikap tawadhu yang tergambar dalam Kisah Nabi Khidir dan Musa dalam Q.S. al-Kahfi ayat 60 dan 82.

Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 60 dan 82

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun).” (Q.S. al-Kahfi [18]: 60).

Muhammad Fakhruddin al Razi dalam Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib menafsirkan ayat di atas,

أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَعَ كَثْرَةِ عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ وَعُلُوِّ مَنْصَبِهِ وَاسْتِجْمَاعِ مُوْجِبَاتِ الشَّرَفِ التَّامِّ فِيْ حَقِّهِ ذَهَبِ اِلَى الْخَضَرِ لِطَلَبِ الْعِلْمِ وَتَوَاضُعِ لَهُ

“Sungguh Musa a.s besertaan banyaknya ilmu, amal, keluhuran derajat dan adanya berbagai hal yang menetapkan kemuliaan yang sempurna padanya pergi mendatangi Khidir untuk menuntut ilmu dan tawadhu (rendah hati) kepadanya.”

Penafsiran al-Razi di atas secara gamblang menjelaskan bahwa sebenarnya Nabi Musa a.s. adalah pribadi yang agung, keluasan ilmu dan kuantitas amalan yang banyak, derajatnya luhur dan penuh berbagai kemuliaan lainnya. Namun demikian, berbagai keunggulan itu tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu kepada orang lain dan tawadhu (rendah hati) kepadanya.

Jika di atas merupakan penggambaran ke-tawadhu-an Nabi Musa a.s. terhadap Nabi Khidir, maka dalam Surah al-Kahfi ayat 82, Mutawalli al-Sya’rawi dalam Tafsir al-Sya’rawi menggambarkan Nabi Khidr sebagaimana berikut,

فَيَقُوْلُ : وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِيْ (الكهف: 82) أَيْ أَنَّ مَاحَدَثَ كَانَ بِأَمْرِ اللهِ وَمَا عَلَّمْتُكَ إِيَّاهُ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، فَلَيْسَ لِيْ مَيْزَةٌ عَلَيْكَ، وَهَذَا دَرْسٌ فِيْ أَدَبِ التَّوَاضُعِ وَمَعْرِفَةِ الْفَضْلِ لِأَهْلِهِ

Kemudian Khidir berkata, “Apa yang ku perbuat bukan kemauanku sendiri” (Q.S. al-Kahfi [18]: 82). Maksudnya ia berkata, “Sungguh peristiwa yang telah terjadi berdasarkan perintah Allah dan ilmu yang telah kuajarkan kepadamu berasal dari Allah, maka aku tidak punya keistimewaan melebihi dirimu.” Ini merupakan pelajaran adab (baca: akhlak) tawadhu (rendah hati) dan mengetahui keutamaan bagi pemiliknya.”

Tafsir al-Sya’rawi ini juga menyinggung tawadhu yaitu tawadhu (kerendahan hati) Nabi Khidir terhadap Nabi Musa meskipun dalam konteks pertemanan kedua Nabi ini, Nabi Khidir jelas-jelas menjadi guru bagi Nabi Musa dan lebih unggul darinya namun ia tidak menganggapnya sebagai keistimewaan yang melebihi Nabi Musa, tapi justru mengembalikannya kepada Allah semata. Kemudiaan al-Sya’rawi menegaskan bahwa sikap Nabi Khidir a.s menjadi pelajaran untuk bersikap tawadhu (rendah hati).

Pengertian Tawadhu

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan tawadhu secara bahasa berarti hina, sedangkan menurut istilah adalah menampakkan kerendahan diri dari derajat sebenarnya tawadu. Sedangkan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, tawadhu berarti mengeluarkan kedudukanmu dan menganggap orang lain lebih utama ketimbang diri sendiri. Adapun menurut Ibn Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam-nya mendefinisikan tawadhu sebagai sesuatu yang timbul karena melihat kebesaran Allah dan terbukanya sifat-sifat Allah. Abu Sa’id al-Khadimiy dalam Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyah menjelaskan tawadhu sebagai sikap yang menganggap diri lebih rendah daripada orang lain. Bila sombong adalah merasa seseorang tinggi dari derajat sebenarnya dan menghinakan diri adalah menempatkan diri sendiri pada tempat paling terhina dan tersia-siakan haknya, maka tawadhu berada di tengah-tengah keduanya.

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهِ

“Tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah kecuali Ia akan mengangkat (derajat) nya.” (H.R. Muslim)

Belajar Bersikap Tawadhu’ dari Kisah Nabi Khidir dan Musa

Orang yang tawadhu akan lebih ajeg dan mantap hidupnya. Ia sudah terbiasa tegar dan kokoh dari jiwanya dikarenakan memiliki kerendahan hati, ia tak risau akan hinaan, cercaan bahkan hujatan, pun ia juga tidak merasa tersanjung atau takjub akan sanjungan dan pujian, meski jabatan tinggi diraihnya, harta kekayaaan melimpah, sederet gelar akademik yang disandangnya.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir di atas mengingatkan kita semua bahwasannya selevel Nabi pun masih mempunyai sikap  tawadhu dan tidak merasa jumawa atau sombong, apalagi kita yang bukan seorang nabi yang wara’ lagi ma’shum (terjaga dari dosa), bukan pula seorang ulama yang ‘alim (berilmu tinggi), justru cukup menjadi alasan bagi kita untuk lebih bersikap tawadhu’ seperti halnya filosofi tanaman padi, “kian berisi kian merunduk” semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hati.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here