Tafsir Surat at-Taubat 128; Nabi Muhammad yang Penuh Kasih Sayang

0
18

BincangSyariah.com Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, begitulah jawab spontan dari Sayyidatina Aisyah ra. Ketika ditanya oleh sahabat ihwal sang suami tercinta. Jawabnya benar-benar singkat dan sarat makna. Surat at-Taubah 128 berikut merupakan wujud nyata perkataan Sayyidatina Aisyah itu. (Baca: Mengenal Tiga Belas Nama Surah At-Taubah)

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang utusan dari kalangan kalian sendiri, yang berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keselamatan dan kebahagiaan bagi kalian, dan terhadap orang-orang yang beriaman, penuh kasih lagi penyayang.” (Surat At-Taubah 128)

Profil Nabi Muhammad Saw yang satu ini sebenarnya sering kita dengar dan mungkin sudah hafal di luar kepala. Terlebih di bulan seperti saat ini, bulan maulid. Hampir setiap ada hajatan ayat ini selalu dibacakan untuk memulai shalawatan ataupun syarakalan. Anehnya bacaan tersebut justru hanya menjadi bumbu pelengkap belaka tanpa peduli makna dan pesan didalamnya.

Padahal para “biduan” shalawatan seharusnya juga mengkampenyekan watak-watak Nabi Muhammad  Saw, sembari juga melantunkannya. Bukan malah menjadi rambu-rambu untuk siap-siap berdiri membaca shalawat. Sebab dari sanalah bisa terpatri, sisi kemanusiaan seorang Nabi Muhammad Saw.

Imam Fakhruddin ar-Razzi menafsiri surat at-Taubah 128 di atas dalam kitabnya Mafatihul Ghaib dengan memetakannya menjadi lima bagian.

Pertama, min anfusikun yaitu dari kalangan sendiri. Kurang tepat kiranya jika Nabi hanya didaku sebagai Nabi bangsa Arab, walaupun disanalah Nabi dilahirkan. Maksud dari kalangan kalian di situ adalah penegasan bahawa Nabi berasal dari manusia biasa seperti jamak manusia laiinya. Hal ini perlu kiranya ditegaskan demi menepis anggapan Nabi berasal dari makhluk lain semisal Malaikat.

Baca Juga :  Kota Faiyoum: Lumbung Makanan di Masa Nabi Yusuf As.

Kedua, sifat Nabi Azizun. Sangat berat hati Nabi Muhammad Saw melihat penderitaan, kesusahan dan kemelaratan umat. Bahakan seandainya Nabi mengetahui keresahan dan kesusahan yang dirasakan oleh sahabatnya sendiri, maka Nabi tidak segan untuk membantu dan menghapus beban yang dipikul sahabatnya.

Ketiga, Harieshun (perhatian/pelindung) penuh perhatin terhadap tindak-tanduk pengikutnya. Prihatian akan keselamatan dan kebahagiaan yang akan diperoleh oleh umatnya di dunia maupun di akhirat. Oleh sebab itu, Nabi menganjurkan umatnya membantu kaum tertindas, Nabi mengajak kaum Anshar (Madinah) untuk menyambut kaum pendatang Muhajirin, Nabi juga melindungi hak-hak kelompok minoritas, Nabi menghormati sekaligus mengajarkan untuk menghormati harkat dan martabat manusia utamanya kaum miskin papah.

Sekedar selingan dua watak Nabi Muhammad Saw disebut Aziz dan Hariesh ini sangatlah bersebrangan makna dan aplikasinya. Aziz memiliki konotasi terhadap perilaku-perilaku buruk yang tidak diinginkan agar tidak terjadi. Sedangkan Hariesh bersanding dengan kebaikan, keinginan dan harapan yang harus terwujud.

Keempat dan Kelima, Raufun dan Rahim. Welas asih lagi Penyayang. Setelah dua watak Nabi disebutkan sebelumnya, tuhan pun memungkasi sifat Nabi dengan “Welas Asih lagi Penyayang”. Sebab hanya “Welas Asih lagi Penyayang”lah merupakan pengejewantahan paling tepat bagi semua profil singkat Nabi sebagai manusia penebar kedamaian.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Abdullah putra khalifah Umar ra., “karakter Nabi tidaklah pemarah pendendam, memelankan suara ketika berada di keramaian, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan Nabi membalas sebaliknya, memaafkan dan memohonkan ampun terhadap siapapun yang berlaku keji padanya.

Terakhir, jawaban spontan Siti Aisyah di awal tulisan ini dapat saya pahami, Nabi Muhammad Saw merupakan pengejewantahan dari al-Qur’an itu sendiri. Maka sebenarnya mempelajari dan mengenal sepak terjang Nabi Muhammad Saw sama dengan membaca al-Qur’an. Lalu jika kita renungkan kembali ayat yang di atas, kita akan mendapatkan cerminan pemimpin fonologi; berat hati melihat penderitaan umatnya, sangat mendambakan kebahagiaan kaumnya, welas asih lagi penyayang terhadap orang-orang beriman.

Baca Juga :  Keunikan Masjid Agung Kasepuhan Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here