Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 280; Kabar Gembira Bagi yang Terlilit Utang

0
61

BincangSyariah.Com – Hidup sebagai makhluk sosial, tidak selalu menyenangkan. Tak semua orang dengan sukarela membantu. Siap menjadi makhluk sosial tidak hanya siap untuk tersenyum, tapi juga menangis. Bahkan tidak sedikit orang yang lebih banyak menangis hanya karena salah memilih tetangga, pasangan dan lain-lain. Alquran telah mempersiapkan banyak bekal dalam menghadapi arus sosial yang begitu deras.

Dulu, di zaman jahiliah, banyak orang diresahkan dengan kondisi sosial yang keras dan kejam. Jauh dari kata manusiawi, terutama dalam memperlakukan perempuan. Termasuk kekejaman sosial zaman jahiliah yang diberantas Islam adalah kebiasaan buruk utang-piutang. (Baca: Lebih Wajib Mana Sedekah Atau Memberikan Piutang?)

Diceritakan oleh imam Abu al-Fada’ Ismail bin Umar bin Katsir ad-Damasyqi dalam kitabnya Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim atau yang akrab dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir (juz 1, hal 301), bahwa konon, tradisi umat jahiliah ketika utang telah jatuh tempo dan belum mampu melunasinya, si pemberi piutang berkata kepada yang berutang:

إمّا أن تقضي وإمّا أن تربي

kamu diberi dua pilihan, antara melunasinya sekarang atau nanti kamu akan bayar lebih.

Begitulah ungkapan pemberi piutang memperjelas kontrak barunya.

Seiring tersibaknya zaman, Islampun datang dengan diutusnya Rasulullah SAW. Tradisi-tradisi buruk yang anti sosial yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat jahiliah, sedikit demi sedikit dikurangi dan diarahkan menuju tuntunan al-Qur’an. Sehingga turunlah al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 280, Allah berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan jika (orang berutang) dalam kesulitan, maka tunggulah sampai ia memperoleh kelapangan, dan jika kalian menyedekahkan, itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Dengan turunnya ayat ini, kita disunahkan menyedekahkan utang yang tak mampu dilunasi.

Dalam memotivasi umatnya agar selalu dalam lingkungan sosial yang nyaman dan ramah, terutama dalam urusan utang-piutang, Rasulullah SAW sering menyampaikan dalam hadisnya yang diriwayatkan melalui berbagai jalur. Di antaranya, hadis riwayat Abu Umamah As’ad bin Zararah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

من سره أن يظله الله يوم لا ظل إلا ظله فليوسر إلى معسر أو ليضع عنه

“Barang siapa yang sangat menginginkan naungan Allah di hari tiada naungan lain selain naungan-Nya, maka permudahlah urusan orang yang dalam kesulitan atau berilah mereka sedekah.” (HR. At-Tabrani).

Dalam hadis lain riwayat Hudzaifah bin al-Yaman, Rasulullah SAW bersabda:

أتى الله بعبد من عبيده يوم القيامة قال: ماذا عملت في الدنيا؟ قال: ما عملت لك يا رب مثقال ذرة في الدنيا أرجوك بها_قالها ثلاث مرات_قال العبد عند آخرها: يا رب إنك كنت أعطيتني فضل مال وكنت رجلا أبايع الناس وكان من خلقي الجواز فكنت أيسر على الموسر وأنظر المعسر. قال: فيقول الله عز وجل: أنا أحق من ييسر، أدخل الجنة

“Di hari kiamat nanti, Allah memghampiri seorang hamba, lalu bertanya, ‘apa yang kau perbuat di dunia?’ ia menjawab, ‘di dunia, hamba tak punya amal walau sebiji dzarrah yang bisa hamba harapkan’ lapornya menyesal, seraya mengulanginya tiga kali. Di penghujung laporannya, ia berkata, ‘wahai Tuhanku, di dunia engkau mengaruniaiku banyak harta dan hamba sering bertransaksi jual-beli dengan para hamba-Mu yang lain, sementara hamba memiliki sifat pemurah lagi pemaaf. Hamba selalu memudahkan orang yang memang mudah membayar dan memberi tangguhan bagi yang susah membayar, pungkasnya. Rasulullah SAW melanjutkan penjelasannya, Allah SWT berfirman, sayalah yang paling berhak memberi kemudahan kepada sekalian hambaku, maka masuklah ke surga!.” (HR. Bukhori, Muslim dan Ibnu Majah).

Dari dua hadis di atas, tampak jelas semangat Rasulullah SAW memotivasi seluruh umatnya untuk berbuat baik kepada sesama dengan tidak mempersulit urusan mereka.

Utang-piutang memang transaksi yang tak bisa lepas dari kehidupan sosial dan bermasyarakat. Nyaris setiap orang pernah berutang, walau mungkin tak banyak. Dan setiap pemberi piutang diperintahkan meneladani akhlak al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 280 di atas. Disebutkan oleh para ulama, bahwa itu adalah ayat yang memberi kabar gembira bagi yang terlilit utang. Bagaimana tidak, mengingat tradisi jahiliah yang begitu kejam menindas yang melarat, sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Katsir di awal.

Namun, sepertinya kini, tradisi buruk masyarakat jahiliah tumbuh kembali, bahkan banyak sekali. Entah di desa apalagi di kota. Semoga tulisan ini mencerahkan. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here