Tafsir Surah Yusuf 93-98; Penderitaan Nabi Ya’qub Berakhir

1
27

BincangSyariah.Com – Surah Yusuf 93-98 ini berbicara mengenai kesabaran Nabi Ya’qub. Kesabaran merupakan suatu sikap positif yang menjadi sumber kebahagiaan bagi seorang insan, begitupula dengan ketabahan hati. Penderitaan Nabi Ya’qub pun berakhir setelah bertahun-tahun bersedi kehilangan putranya, Nabi Yusuf.  Allah Swt. memberikan apa yang menjadi harapanya, yaitu dipertemukan Nabi Yusuf dalam keadaan hidup. Terkait kisah ini, Allah Swt. berfirman:

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ

وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ لَوْلَا أَنْ تُفَنِّدُونِ.

قَالُوا تَاللَّهِ إِنَّكَ لَفِي ضَلَالِكَ الْقَدِيمِ

فَلَمَّا أَنْ جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ

قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: 

Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku” (93)

Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku” (94)

Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruan yang dahulu” (95) (Baca: Tafsir Surah Yusuf 87-92; Penyamaran Nabi Yusuf Terbongkar)

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkanya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya” (96)

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)” (97)

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 54-57; Nabi Yusuf Menjadi Orang Kepercayaan Raja Mesir

Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang” (98)

Kandungan Tafsir Surah Yusuf 93-98

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan bahwa maksud dari dalam kekeliruan yang dahulu adalah kesengsaraan dan kemalangan atas kesedihanya terhadap Yusuf. Imam Qatadah memberikan arti dalam kecintaanya yang dahulu (kepada Yusuf) yang tak dapat terlupakan olehnya.

Pembawa kabar gembira itu dalam ayat di atas adalah Yahudza menurut al-Razi. Setelah Yusuf membuka jati dirinya di hadapan saudara-saudaranya, dia bertanya tentang kabar ayahnya dan mereka mengakabarkan bahwa Ya’qub telah tertimpa kebutaan akibat tangisanya yang berlarut-larut hingga membuat kedua matanya buta.

Dengan wahyu yang diterimanya, Yusuf segera memberikan perintah untuk membawa baju yang dia kenakan agar dibawa kehadapan ayahnya dan meletakanya di wajah sang-ayah maka nantinya Ya’qub akan segera bisa melihat sediakala.

Dalam penyampaian Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir, baju tersebut adalah pakaian yang pernah dipakai oleh leluhurnya yaitu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Imam al-Razi menyampaikan bahwa pada saat raja Namrud memasukan Nabi Ibrahim ke dalam api, Jibril turun dengan membawakan baju gamis dan permadani dari surga dan dia memakaikan baju tersebut kepada Ibrahim serta mereka berdua duduk dan berbincang-bincang.

Berjalanya waktu, Ibrahim memakaikan baju tersebut kepada Ishaq dan Ishaq memberikan serta memakaianya kepada Ya’qub, kemudian Ya’qub memakaikanya kepada Yusuf. Dan Yusuf menggantungkan pakaian tersebut ke lehernya.

Perintah tersebut bersumber dari wahyu yang diterimanya, sebab mengobati kebutaan hanya dengan meletakan bajunya di wajah sang-ayah merupakan tindakan yang tidak masuk akal. Oleh karenanya hal itu merupakan sebuah wahyu dari Tuhan.

Baca Juga :  Simbol Salib Yesus Kristus dalam Pandangan Ibnu Arabi

Dalam penyampaian sebagian ulama tafsir, Yusuf mengetahui bahwa ayahnya tidaklah buta hanya saja akibat tangisan dan kesempitan serta kesedihan hatinya, penglihatannya melemah. Dengan meletakan baju tersebut maka hatinya akan kembali bahagia sehingga jiwa dan penglihatanya akan kembali sediakala.

Yusuf juga memerintahkan agar seluruh keluarga besarnya dibawa ke hadapanya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa keluarga besarnya terdiri dari tujuh puluh orang yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak mereka.

Kafilah segera pergi mengemban perintah Yusuf dan pada saat keluar dari batas negeri Mesir menuju daerah Kan’an ( Palestina) untuk menghadap Ya’qub, Ya’qub berkata kepada mereka yang berada di sekelilingnya bahwa dia mencium bau Yusuf.

Ulama mengatakan bahwa jarak antara Mesir dengan Palestina berkisar perjalanan delapan hari dan sebagian berpendapat perjalanan tempuh sepuluh hari. Dan sebagian lainya mengatakan berkisar delapan farsakh, satu farsakh adalah lima ribu lima ratus empat puluh empat mil.

Imam al-Razi menyampaikan bahwa terciumnya bau Yusuf oleh Ya’qub dengan jarak yang begitu jauh antara keduanya merupakan suatu yang tidak masuk akal dan hal ini merupakan sebuah Mukjizat bagi Ya’qub.

Dalam sebagian versi disampaikan bahwa baju tersebut memiliki aroma bau surga dan telah lama berada di tangan Ya’qub kemudian berikan kepada Yusuf, dan Ya’qub mencium semerbak aroma tersebut dan berkeyakinan bahwa di dunia tidak ada yang memiliki aroma tersebut kecuali baju yang ada di tangan Yusuf sehingga dia mengatakan bahwa dirinya mencium bau Yusuf.

Pada saat mereka sampai di hadapan Ya’qub, Yahudza memberikan kabar gembira dengan berkata “Aku telah membawa baju yang dilumuri darah serigala, dan pada hari ini aku datang membawa baju ini”. Al-Sadi menyampaikan bahwa Yahudza ingin membasuh kesalahanhya dulu dengan membawakan baju tersebut. Lalu dia meletakan baju tersebut ke wajah Ya’qub kemudian penglihatanya seketika itu kembali seperti sediakala.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 69-76; Nabi Yusuf Menjadi Raja Mesir

Ya’qub tidak memberikan balasan apapun kepada Yahudza yang telah memberikan kabar gembira kepadanya kecuali ucapan doa “Semoga Allah Swt. memudahkan kematianmu”. Dan do’a ini adalah balasan terbesar untuknya.

Ya’qub pada akhirnya menegaskan bahwa dirinya mengetahui dari Tuhan atas sesuatu yang tidak mereka ketahui. Kemudian mereka meminta pertolongan kepada sang-ayah agar memintakan ampunan kepada Allah Swt. atas dosa-dosa mereka.

Ya’qub memenuhi permintaan mereka. Mereka meminta agar Ya’qub memintakan ampun kepada Tuhan sebab mereka telah menyakiti hati Ya’qub dan dosa ini tidak akan terhapus kecuali dengan pemaaafan darinya melalui doa kepada-Nya.

Dalam penyampaian al-Razi bahwa ulama berselisih pendapat tentang kapan Ya’qub memenuhi permintaan anak-anaknya, sebagai berikut:

Pertama, Ibnu Abas berpendapat; Ya’qub memintakan ampunan untuk mereka di waktu sahur sebab waktu tersebut adalah waktu yang penuh harap terkabulnya doa.

Kedua, dalam riwayat lain Ibnu Abas menyampaikan bahwa Ya’qub mengakhirkannya hingga malam Jumat sebab inilah waktu yang mustajabah.

Ketiga, seketika itu Ya’qub memintakan ampunan kepada Tuhan untuk mereka.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal yang dapat dipetik dari surah Yusuf 93-98 di atas, di antaranya:

Pertama, diperbolehkan memberikan sebuah pemberian dalam rangka membahagiakan. Kedua, diperbolehkan menampakan kebahagiaan setelah terselimuti penderitaan. Menampakanya dapat dilakukan dengan menyenangkan anak-anak, memberi makan dan lain sebagainya.

وقد نحر عمر بعد حفظه سورة البقرة جزورا

“Umar menyembelih unta (sebagai bentuk kebahagiaanya) setelah hafal surah al-Baqoroh”. Ketiga, setiap orang yang memilki kesalahan kepada orang lain harus meminta maaf kepadanya.

1 KOMENTAR

  1. […] Wahbah al-Zuhail dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan arti sujud pada kalimat sujud kepada Yusuf. Dalam penyampaianya, sujud tersebut adalah membungkukan badan. Lain halnya dengan al-Zuhaili, al-Razi memahaminya dengan arti sujud.  Dan  sujud tersebut adalah bentuk syukur atas nikmat-Nya. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 93-98; Penderitaan Nabi Ya’qub Berakhir) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here