Tafsir Surah Yusuf 87-92; Penyamaran Nabi Yusuf Terbongkar

1
44

BincangSyariah.Com – Nabi Yusuf menjadi raja Mesir itu tidak diketahui oleh kerabat-kerabatnya sendiri. Penyamaran Nabi Yusuf pun lambat laun diketahui oleh para keluarganya. Dengan berputarnya waktu, sedikit demi sedikit semua keberadaan yang telah ditutupi oleh Yusuf terlihat oleh saudara-saudaranya. Terkait hal ini, Allah Swt. dalam surah Yusuf 87-92 berkisah:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

قَالَ هَلْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ بِيُوسُفَ وَأَخِيهِ إِذْ أَنْتُمْ جَاهِلُونَ

قَالُوا أَإِنَّكَ لَأَنْتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَا يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَنْ يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

قَالُوا تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (87)

Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah” (88)

Yusuf berkata: “apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu”(89)

Mereka berkata: “apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (90)

Baca Juga :  Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Mereka berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)” (91)

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (92)

Kandungan Tafsir Surah Yusuf 87-92

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatih al-Ghaib menyampaikan pendapat ulama dalam mengartikan kata rahmat. Dalam penyampaianya bahwa Ibnu Abas mengartikannya dengan makna kasih sayang, Qatadah memaknainya dengan anugerah dan Ibnu Zaid memahaminya dengan arti kelapangan. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 80-86; Nabi Ya‘qub Bersedih Bunyamin Ditahan)

Maksud dari barang-barang yang tak berharga adalah barang yang sudah tidak diterima oleh siapapun menurut Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi. Dan al-Qurthubi menyampaikan pendapat lain dari imam Tsa’lab bahwa arti kalimat tersebut adalah barang yang tidak sempurna.

Imam al-Razi menyampaikan bahwa Ibnu Abas mengarahkan maksud dari kalimat melimpahkan karunia-Nya adalah kemuliaan di dunia dan akhirat, dan ulama lain mengarahkannya pada makna pertemuan mereka bersama Yusuf setelah lama berpisah. Dan al-Qurthubi memahaminya dengan makna keselamatan dan kekuasaan bagi Yusuf.

Ya’qub menyuruh anak-anaknya kembali pergi ke Mesir untuk mencari kabar tentang Yusuf dan saudaranya ,dan memberikan pesan kepada mereka agar tidak berputus asa.

Kemunculan perintah ini disebabkan Ya’qub teringat dengan perlakuan raja yang telah mengembalikan barangnya, menahan Bunyamin, dan menampakan penghormatan kepada mereka serta adanya isyarah malaikat maut tentang keberadaan Yusuf ke arah Mesir.

Dan di sisi lain, Ya’qub juga berkeyakinan bahwa Yusuf masih hidup, keyakinan ini muncul sebab mimpinya atau kabar dari malaikat maut bahwa dia tidaklah mencabut nyawa Yusuf.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 41-42; Kisa Nabi Yusuf di Dalam Penjara

Pada akhirnya anak-anak Ya’qub keluar dan pergi menuju Mesir yang ke tiga kalinya, kemudian mereka kembali menghadap Yusuf dan mengkabarkan kepadanya atas keberadaan keluarga mereka, sedikitnya harta benda yang ada dalam keluarga serta meminta belas kasihanya.

Tujuan dari perkataan mereka di hadapannya adalah mengharap kebaikan hati, bentuk merendahkan diri serta menguji dan menyelidiki keberadaan Yusuf apakah memiliki hati penuh kebaikan dan apakah dia akan menampakan jati dirinya.

Setelah mereka menyebutkan kesusahan dan keperihatinan, sedikitnya makanan pada keluarga mereka dan kesedihan ayah yang telah kehilangan kedua anaknya, tujuan mereka tercapai dan Yusuf menjawabnya.

Yusuf memberikan jawaban kepada mereka dan membuka jati dirinya bahwa dia adalah Yusuf seraya tersenyum. Dalam riwayat Ibnu Abas bahwa mereka tidak mengenalinya, kemudian Yusuf mengangkat dan meletakan mahkotanya, pada akhirnya mereka melihat tanda yang dimiliki oleh Yusuf, Ya’qub dan Ishak pada sigaran rambutnya. Dan pada akhirnya mereka mengenalinya bahwa dia adalah Yusuf saudara mereka.

Pada akhirya saudara-saudara Yusuf menyampaikan pengakuannya atas karunia Tuhan kepada Yusuf, mengakui kesalahan mereka dan bertaubat.

Yusuf berkata sebagaimana disampaikan dalam firman-Nya: Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (QS.Yusuf: 92). Dan dia menambahkan sebuah doa untuk mereka:

يغفر اللّه لكم ذنوبكم وظلمكم، وهو أرحم الراحمين لمن تاب إليه وأناب إلى طاعته

“Semoga Allah Swt. mengampuni dosa-dosa dan kezaliman kalian, Dia adalah dzat Yang paling penyayang diantara apara penyayang kepada orang yang bertaubat dan kembali pada keta’atan kepada-Nya”.

Wahbah al-Zuhaili, imam al-Qurthubi dan al-Razi dalam karya masing-masing menyampaikan beberapa hal penting yang dapat dipetik dari Surah Yusuf 87-92, di antaranya:

Berputus asa dari-Nya merupakan dosa besar. Berputus asa dari rahmat-Nya tidak terjadi pada seseorang kecuali dengan adanya salah satu dari tiga hal berikut dalam dirinya: Pertama, menyakini Tuhan tidak mampu melakukan kesempurnaan. Kedua, berkeyakinan Tuhan tidak mengetahui semua hal. Ketiga, memiliki keyakinan bahwa Tuhan bukanlah dzat yang Maha Mulia. Dan setiap satu persatu dari ketiga hal tersebut menyebabkan kekufuran.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 67-68; Nabi Ya’qub Izinkan Bunyamin Bertemu Yusuf

Ibnu Abbas berkata:

إن المؤمن من الله على خير يرجوه في البلاء ويحمده في الرخاء

“Sungguh seorang yang beriman akan berharap karunia Allah Swt. ketika berada dalam musibah dan pada keadaan lapang dia akan memuji-Nya”.

Wahbah al-Zuhuhaili berkata:

أما المؤمن فيرجو دائما فرج اللّه تعالى.

“Seorang Mukmin selayaknya selalu mengharap kelapangan Allah Swt”.

Ketika dalam keadaan sengsara diperbolehkan mengeluh dan mengadu kepada orang lain yang  dapat memberinya bantuan (kemanfaatan). Mengadu itu bahkan wajib dilakukan ketika khawatir terjadinya bahaya yang menimpa dirinya seperti kefakiran dan lain sebagainya.

Ini sebagaimana wajib mengadu kepada dokter atas penyakit yang dideritanya agar dia mengobatinya. Hal ini tidak menghilangkan nilai tawakal dalam dirinya selama pengaduan ini tidak berdasarkan sebuah kemarahan dalam dirinya atas kesengsaraan tersebut.

Wahbah al-Zuhaili berkata:

أما الشكوى لمن لا يؤمل منه إزالتها فهو عبث وسفه، إلا أن يكون على وجه البثّ والتسلي

“Mengadu kepada seseorang yang tidak bisa diharapkan untuk menghilangkan kesusahanya, merupakan tindakan yang sia-sia dan bodoh. Kecuali untuk mengakabarkan dan menghibur diri”.

al-Qurthubi berkata:

والصبر والتجلد في النوائب أحسن والتعفف عن المسألة أفضل وأحسن الكلام في الشكوى سؤال المولى زوال البلوى

“Bersabar dalam berbagai musibah adalah tindakan yang lebih baik, menjaga dan menahan diri dari meminta (bantuan kepada orang lain) lebih utama dan lebih baik-baiknya ucapan dalam mengadu adalah permohonan kepada sang-penguasa untuk menghilangkan musibah”.

Wallahu A’lam.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here