Tafsir Surah Yusuf 80-86; Nabi Ya‘qub Bersedih Bunyamin Ditahan

1
27

BincangSyariah.Com – Surah Yusuf 80-86 ini berbicara mengenai strategi Nabi Yusuf untuk bersama dengan Bunyamin dan ayahnya. Nabi Yusuf sengaja menjebak Bunyamin dengan cara menaruh barang kerajaan di kendaraan Bunyamin agar dianggap sebagai pencuri, dan ditahan di kerajaan. Namun, ini membuat Nabi Ya’qub, ayah Nabi Yusuf bersedih. Akan tetapi kisah ini berakhir menyenangkan. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman:

فَلَمَّا اسْتَيْأَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا قَالَ كَبِيرُهُمْ أَلَمْ تَعْلَمُوا أَنَّ أَبَاكُمْ قَدْ أَخَذَ عَلَيْكُمْ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ وَمِنْ قَبْلُ مَا فَرَّطْتُمْ فِي يُوسُفَ فَلَنْ أَبْرَحَ الْأَرْضَ حَتَّى يَأْذَنَ لِي أَبِي أَوْ يَحْكُمَ اللَّهُ لِي وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ.

ارْجِعُوا إِلَى أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ.

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ.

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.

وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ. قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka: “Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya” (80)

Kembali kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang ghaib (81)

Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar” (82)

Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana” (83)

Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya) (84)

Mereka berkata: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa” (85)

Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya” (86)

Pembahasan Tafsir Surah Yusuf 80-86

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 87-92; Penyamaran Nabi Yusuf Terbongkar

Dalam pandangan Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir arti menyendiri adalah menjauh dari keramaian manusia.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatih al-Ghaib menyampaikan perselisihan ulama dalam memahami maksud dari kaliamat yang tertua. Dalam penyampaianya, Imam al-Razi menyatakan bahwa sebagian ulama memahami maksud dari kalimat tersebut adalah yang tertua umurnya yaitu Rubil. Namun, menurut ulama lain adalah yang tertua akalnya yaitu Yahudza. Wahbah al-Zuhaili menambahkan satu kemungkinan maksud dari kalimat tersebut adalah Syam’un.

Imam al-Qurthubi dalam karya tafsirnya menyampaikan bahwa al-Zujaj memahami kalimat telah mencuri dengan dua arti yaitu pertama, telah diketahui tindakan pencurian dari Bunyamin dan kedua, Bunyamin disangka sebagai pencuri.

Kafilah yang dimaksud adalah kaum Kan’an sebagaimana pendapat para ulama Tafsir yang disampaikan oleh Imam al-Razi dalam karyanya.

Menurut sebagian ulama maksud dari kalimat memandang baik perbuatan itu adalah membawa keluar Bunyamin mereka anggap tindakan yang bermanfaat namun pada kenyataanya membawa keburukan dan malabahaya.

Ulama lainya mengartikan bahwa mereka membenarkan angapan mereka  yaitu Bunyamin telah mencuri, padahal dia tidak melakukanya. Demikianlah penyampaian al-Razi dalam karyanya.

Al-Razi dalam karyanya menyampaikan perbedaan pendapat ulama dalam memahami arti dari kalimat menjadi putih. Dalam penyampaianya sebagian ulama mengartikan menangis hingga kedua matanya dipenuhi dengan air mata sehingga terlihat putih. Ulama lainya mengartikan menjadi buta.

Pada saat Yusuf telah menetapkan hukuman kepada Bunyamin dan sudah tidak bisa ditawar lagi, saudara-saudara Yusuf merasa putus asa dan mereka mencari tempat yang sepi dari jangkauan manusia serta berunding untuk mencari jalan terbaik dalam mengatasi permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Musyawarah ini mereka lakukan sebab mereka dapat membawa Bunyamin kehadapan raja setelah terjadinya perjanjian antara mereka dan Ya’qub dan setelah sang ayah menyangka buruk kepada mereka atas kasus Yusuf sebelumnya. Oleh karenanya, bila mereka tidak kembali dan membawa Bunyamin kehadapan Ayahnya maka akan terjadi banyak cobaan besar, di antaranya:

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 69-76; Nabi Yusuf Menjadi Raja Mesir

Pertama, andaikan mereka semua tidak kembali dan ayah yang telah lanjut usia hidup sendiri maka akan tertimpa kesengsaraan yang besar. Kedua, keluarga mereka akan kekurangan bahkan kehabisan makanan sebab bahan makanan tersebut ada ditangan mereka.

Ketiga, Ya’qub akan menyangka bahwa semua anak-anaknya telah binasa dan akan menimbulkan keperihatinan yang sangat besar baginya. Dan mereka akan sangat malu bila kembali tanpa membawa Bunyamin dan menyebabkan perasangka adanya penghianatan sebagaimana dalam kasus hilangnya Yusuf sebelumnya.

Dalam musyawarah tersebut, yang tertua diantara mereka merelakan dirinya untuk tetap berada di Mesir dan tidak akan meninggalkan Bunyamin sendiri hingga sang-ayah mengizinkanya untuk kembali atau Tuhan memberinya kemampuan untuk bisa membawanya keluar. Dia menyuruh saudara-saudaranya untuk kembali kehadapan Ya’qub serta mengkabarkan kepadanya bahwa Bunyamin telah mencuri piala raja dan menerima hukuman sebagai budak raja.

Setelah mereka bermusyawarah, mereka kembali kehadapan Ya’qub sesuai pendapat dan arahan dari kakak tertuanya. Demi menghilangkan perasangka dalam hati Ya’qub, mereka berkata: “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar” (QS.Yusuf: 82).

Setelah Ya’qub mendengar kabar dari mereka, dia tidak mempercayainya dan ridha dengan perjalanan takdir Tuhan serta berharap agar ketiga anaknya yang berada di Mesir dapat kembali kehadapanya. Keridloan serta harapan Ya’qub ini merupakan bentuk dugaan baiknya kepada Tuhan, sebab dia meyakini bahwa Dia akan memberikan sebuah kelapangan serta jalan keluar setelah adanya cobaan dan bencana yang telah lama ia alami.

Ya’qub berpaling dari mereka setelah mendengarkan apa yang mereka ceritakan. Kesedihanya kepada Yusuf semakin bertambah dan bahkan dalam sebagian versi hingga kedua matanya buta akibat tangisan kesedihanya. Melihat hal tersebut mereka berkata “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa” (QS.Yusuf: 85).

Baca Juga :  Baca Surah Yusuf Saat Hamil, Anaknya Bisa Tampan?

Dengan semua hal yang menimpa Ya’qub, dia hanya mengadukan permasalahnya kepadaNya. Dia mengatakan bahwa dia mengetahui kasih sayangNya yang tidak diketahui oleh anak-anaknya itu. Hal ini didasari oleh beberapa hal di antaranya:

Pertama, malaikat maut mendatanginya dan ia bertanya “Apakah kau telah mencabut nyawa anakku Yusuf?” malaikat maut menjawab “Tidak” dan memberikan isyarah ke arah Mesir. Kedua, dia menyakini kebenaran mimpi Yusuf dulukala. Ketiga, Allah Swt. telah memberikan wahyu bahwa kelak Yusuf akan kembali kepadanya, namun tidak dijelaskan waktunya.  Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here