Tafsir Surah Yusuf 67-68; Nabi Ya’qub Izinkan Bunyamin Bertemu Yusuf

4
525

BincangSyariah.Com – Setelah putra-putra Ya’qub meminta izin kepadanya untuk membawa Bunyamin bertemu Yusuf, Ya’qub pun mengizinkanya. Namun Ya’qub izinkan Bunyamin bertemu Yusuf dengan pesan tertentu sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an demikian:

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ  . وَلَمَّا دَخَلُوا مِنْ حَيْثُ أَمَرَهُمْ أَبُوهُمْ مَا كَانَ يُغْنِي عَنْهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا حَاجَةً فِي نَفْسِ يَعْقُوبَ قَضَاهَا وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Ya’qub berkata “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian kau tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Hukum hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri” (67).

“Tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikitpun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Ya’qub yang telah ditetapkanya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (68).

Hukum yag dimaksud ialah kepastian dan takdir Allah Swt. menurut imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 63-66; Rasa Berat Hati Ya’qub Melepaskan Bunyamin)

Imam Al-Qurthubi menyampaikan sebagian pendapat ulama dalam memahami kalimat mempunyai pengetahuan. Dalam penyampaianya bahwa arti kalimat tersebut ialah melakukan sebuah amal perbuatan dalam pandangan sebagian ulama.

Setelah Ya’qub mengizinkan putra-putranya membawa Bunyamin bertemu Yusuf, dia memerintahkan mereka untuk memasuki Mesir dari beberapa pintu yang berbeda-beda. Dalam penyampaian imam al-Razi dan Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami alasan Ya’qub memerintahkan mereka untuk masuk dari beberapa pintu yang berbeda sebagai berikut:

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 4-6; Rahasia di Balik Sebuah Mimpi

Pertama, sebagian ulama menyampaikan bahwa alasan Ya’qub memerintahkan anak-anaknya masuk dari berbagai pintu yang berbeda-beda agar mereka menyaksikan perbedaan raja dalam menyambut mereka masing-masing.

Kedua, anak-anak Ya’qub telah menjadi sorotan dan topik pembicaraan maysarakat Mesir serta terkenal sebagai putra-putra yang memiliki sosok yang sempurna. Dengan mereka memasuki pintu yang sama dan bersama-sama maka masyarakat akan mengenal dan mengetahuinya sehingga akan menimbulkan kehawatiran adanya kehasudan dan keirian masyarakat sekitar. Untuk menghindari hal demimkian, pada akhirnya Ya’qub memerintahkan mereka masuk dari pintu yang berbeda.

Ketiga, putra-putra Ya’qub merupakan sosok yang penuh kesempurnaan dan ketampanan. Oleh karenanya mayoritas ulama menyatakan bahwa perintah Ya’qub ini muncul agar mereka tidak terlanda penyakit ‘ain, sebab dalam benaknya terbesit kehawatiran dengan mereka bersama-sama memasuki satu pintu akan tertimpa penyakit tersebut.

A’in merupakan penyakit yang dapat menimpa seseorang hanya dengan sebab pandangan mata. Artinya dengan pandangan orang lain kepadanya akan menyebabkannya tertimpa penyakit ‘ain.

Dalam sebuah hadis disampaikan: Malik meriwayatkan dari Muhammad bin Abi Umamah bin Sahl bin Hunaif  bahwa pada suatu hari Sahl bin Hunaif hendak mandi di al-Kharrar. Dia membuka jubahnya, ‘Amir bin Rabi’ah melihatnya dan Sahl adalah seorang yang berkulit putih.

‘Amir berkata kepadanya “Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang aku lihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit seorang gadis”. Maka Sahl jatuh sakit seketika ditempat tersebut dan bertambah parah.

Kemudian ‘Amir mengakabarkan hal tersebut kepada nabi Saw. dan menyampaikan bahwa Sahl tidak bisa berangkat bersama nabi Saw. Lalu rasul menjenguknya dan Sahl menceritakan apa yang telah dilakukan ‘Amir.

Kemudian rasul Saw. berkata ”Mengapa salah satu di antara kalian menyakiti saudaranya? hendaklah engkau mendoakan keberkahan. Sesungguhnya penyakin ‘Ain benar adanya. Berwudlulah untuknya”.

Lalu Amir berwudlu untuknya (dengan menyiramkan air bekas wudlunya kepada Sahl). Maka Sahl kembali sehat dan berangkat bersama rasulullah Saw. Dalam riwayat lain ‘Amir mandi lalu air bekas mandinya disiramkan kepadanya maka dia sembuh dan berangkat bersama nabi Saw.

Baca Juga :  Ibnu Saba, Sosok Nyata atau Imajiner?

Keempat, dalam pandangan sebagian ulama tafsir bahwa sebenarnya Ya’qub telah mengetahui bahwa raja Mesir adalah putranya yaitu Yusuf, hanya saja Allah Swt. tidak mengizinkannya untuk menampakan pengetahuanya tersebut.

Pada waktu anak-anaknya hendak menemui raja Mesir (Yusuf), Ya’qub berpesan agar mereka memasuki pintu gerbang melalui pintu yang berbeda agar Bunyamin bertemu Yusuf secara khalwat (hanya berdua). Pendapat ini dipelopori oleh Ibrahim al-Nakha’.

Kemudian Ya’qub mengatakan bahwa wasiatnya kepada para putranya tidak dapat mencegah takdir dan ketetapan Allah Swt. akan tetapi wasiat tersebut sebagai bentuk perintah untuk melakukan perantara dan upaya.

Dari ayat-ayat di atas, para ulama tafsir seperti wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir memetik beberapa poin penting di antaranya:

Pertama, dalam kehidupan di dunia, seorang manusia secara lahiriyah diperintahkan untuk melakukan berbagai usaha dan upaya namun dalam hatinya harus tetap berkeyakinan bahwa semua yang terjadi merupakan taqdir Tuhan.

Kedua, seorang manusia diperintahkan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan dan melakukan berbagai hal yang bermanfaat.

Ketiga, manusia hendaknya dalam hati tetap bertawakal atau berpasrah diri kepadaNya sebab terjadinya kebaikan dan terhidarnya dari malabahaya adalah kepastian dan kehendak Tuhan.

Keempat, seorang muslim hendaknya peduli terhadap saudaranya dengan memperingatkanya dari hal-hal yang mengahwatirkan dan menunjukanya kepada jalan keselamatan.

إن الدين النصيحة، والمسلم أخو المسلم

“Sesungguhnya agama adalah nasihat, dan seorang muslih adalah saudara dari muslim yang lain”.

Wallahu A’lam.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here