Tafsir Surah Yusuf 58-62; Nabi Yusuf Bertemu Kembali dengan Keluarganya

1
788

BincangSyariah.Com – Roda kehidupan di bawah kekuasaan dan rahasia Tuhan. Tanpa diduga, Nabi Yusuf dapat bertemu kembali dengan keluarganya yang dulu terpisah. Terkait kisah ini, Allah Swt. bercerita melalui firman-Nya:

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ . وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ . فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ . قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ . وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

wa jā`a ikhwatu yụsufa fa dakhalụ ‘alaihi fa ‘arafahum wa hum lahụ mungkirụn (58) Wa lammā jahhazahum bijahāzihim qāla`tụnī bi`akhil lakum min abīkum, alā tarauna annī ụfil-kaila wa ana khairul-munzilīn. (59) Fa il lam ta`tụnī bihī fa lā kaila lakum ‘indī wa lā taqrabụn (60) Qālụ sanurāwidu ‘an-hu abāhu wa innā lafā’ilụn (61) Wa qāla lifityānihij’alụ biḍā’atahum fī riḥālihim la’allahum ya’rifụnahā iżangqalabū ilā ahlihim la’allahum yarji’ụn (62) (Baca: Tafsir Surah Yusuf 54-57; Nabi Yusuf Menjadi Orang Kepercayaan Raja Mesir)

Artinya:

Saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya (58)

Tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? (59)

Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku”. (60)

Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakanya”. (61)

Yusuf berkata kepada bujang-bujangnya: “Masukkanlah barang-barang (penukaran kepunyaan) mereka ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi” (62)

Baca Juga :  Tak Ada Alasan untuk Meninggalkan Ibadah, Lihatlah Pengorbanan Empat Nabi Ini

Menurut Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi bahwa kalimat menyempurnakan sukatan memungkinkan untuk dua makna. Pertama, Yusuf memberikan harga murah sehingga (mereka) mendapatkan timbangan yang lebih banyak. Kedua, Yusuf memberikan timbangan penuh kepada mereka.

Dalam penyampaian Imam al-Qurthubi disebutkan bahwa barang-barang (penukaran kepunyaan) mereka adalah beberapa dirham dan dinar menurut sebagian ulama dan terompah serta kulit menurut sebagian ulama lainya.

Ketika paceklik telah melanda berbagai daerah, Yusuf di Mesir membuka penukaran makanan pokok yang telah dia kumpulkan dari hasil bumi selama bertahun-tahun dengan berbagai macam alat tukar. Dia memberikan jatah penukaran untuk perkepala satu wasaq bahan makanan pokok. Satu Wasaq dalam versi Imam Syafi’I, Ahmad dan Maliki ialah 188,712 liter.

Paceklik melanda dan sampai daerah kediaman Ya’qub, ayah Nabi Yusuf. Kabar penukaran bahan makanan pokok sampai kepadanya. Dia berkata kepada anaknya “Sungguh di Mesir ada seorang laki-laki yang saleh mengadakan penukaran (bahan makanan pokok dengan lainya), maka pergilah kalian untuk menukarnya dan ambillah bahan makanan tersebut”. Anak-anak Ya’qub kecuali Bunyamin pergi menuju Mesir untuk menukarnya.

Nabi Yusuf memerhatikan dan memeriksa setiap orang yang berasal dari daerah jauh untuk menukar. Ia ingin memastikan apakah orang-orang yang datang itu saudara-saudaranya yang dahulu berpisah. Dia teringat dengan wahyu Tuhan saat dia berada dalam sumur “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi” (Q.S.Yusuf: 15).

Pada saat saudara-saudara Yusuf telah sampai di kediaman Yusuf untuk menukar, dia menyelidiki keadaan mereka dan ternyata Yusuf mengenali bahwa mereka benar-benar saudaranya namun mereka tidak mengenalnya.

Mereka tidak mengenali Yusuf sebab mereka telah meninggalkanya selama empat puluh tahun dan tidak memiliki dugaan bahwa dia telah menjadi seorang penguasa. Dalam versi lain mereka tidak mengenal Yusuf sebab mereka menyangka bahwa penguasa tersebut adalah seorang yang kafir. Sebagian ulama memberi alasan sebab Yusuf memakai pakaian Fir’aun. Mereka melihat Yusuf dari balik satir sehingga mereka tidak mengenalinya dalam pandangan ulama lainya.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 67-68; Nabi Ya’qub Izinkan Bunyamin Bertemu Yusuf

Saudara-saudara Yusuf datang dengan membawa unta guna membawa bahan makanan pokok dari hasil penukaran tersebut. Jumlah unta yang mereka bawa sebanyak sebelas ekor dan mereka berjumlah sepuluh kepala. Mereka berkata kepada Yusuf “Kami masih memiliki satu saudara yang kami tinggalkan dan untanya kami bawa”.

Yusuf bertanya “Kenapa kamu meninggalkanya?” mereka menjawab “Sebab kecintaan ayahnya tidak ingin berpisah dengannya” dan mengakabarkan bahwa kakak dari saudaranya telah pergi ke hutan dan tewas. Kemudian Yusuf berkata “Aku ingin melihat saudara kalian itu, supaya aku bisa mengetahui seperti apa kecintaan ayah kalian”.

Menurut sebagian versi disampaiakn bahwa saudara-saudara Yusuf yang datang berjumlah sepuluh orang dan mereka mendapatkan sepuluh jatah bahan makanan tersebut kemudian mereka berkata “Kami mempunyai orang tua dan satu saudara bersamanya”. Mereka menyatakan bahwa orang tuanya tidak dapat hadir sebab umurnya yang sudah tua dan saudaranya ditinggalkan untuk melayaninya dan mereka meminta dua jatah lagi untuk mereka berdua. Lalu Yusuf menambahkan dua jatah lagi.

Yusuf meminta mereka untuk membawa saudara mereka yang ditinggalkanya bersama ayahnya dan memberi mereka bahan makanan pokok dengan timbangan yang lebih banyak. Dan dia berkata “Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi dari padaku dan jangan kamu mendekatiku”.Mereka berkata: “Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakanya” (Q.S.Yusuf: 60-61).

Dalam sebagian versi, Syam’un ditinggal sebagai jaminan hingga mereka kembali membawa Bunyamin. Imam al-Qurthubi menyampaikan bahwa menurut al-Saddi, Yusuf memilih Syam’un ditinggal sebagai jaminan mereka akan kembali sebab pada waktu Yusuf berada dalam sumur, dialah yang memiliki ucapan dan pendapat yang paling baik dan lembut.

Baca Juga :  Di Maroko, Gus Dur Menangis Setelah Membaca Buku Ini

Pada waktu mereka hendak pulang, Yusuf memerintah petugas untuk memasukkan alat tukar mereka bersama bahan makanan pokok tanpa sepengetahuan mereka. Hal ini bertujuan agar mereka kembali untuk mengembalikanya.

Dalam versi lain tindakan Yusuf itu bertujuan supaya alat tukar tersebut akan digunakan kembali untuk menukar bahan makanan pokok kepadanya. Sebagian ulama mengalasi sebab Yusuf menganggap buruk bila mengambil alat tukar dari ayah dan saudara-saudaranya dan ulama lainya mengalasi agar mereka mengetahui kemurahan hati Yusuf sehingga mereka akan kembali. Wallahu A’lam.         

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here