Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk

1
219

BincangSyariah.Com – Mimpi itu terkadang sebuah pertanda akan terjadi sesuatu atau terkadang juga hanya sebagai bunga tidur, sehingga seseorang perlu memastikan mimpinya itu hanyalah bunga tidur atau memang ada pertanda tertentu. Raja Rayan bin Walid bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina gemuk. Raja yang hidup di masa Nabi Yusuf ini ingin mengetahui takbir mimpinya. Dia mengutus pelayan minuman. Pelayan tersebut menemui Yusuf untuk bertanya mengenai arti mimpinya. Terkait hal ini, Allah Swt. menceritakan demikian:

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ. قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ. ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ. ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ

Ysufu ayyuhaiddīqu aftinā fī sab’i baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’i sumbulātin khuriw wa ukhara yābisātil la’allī arji’u ilan-nāsi la’allahum ya’lamụn. Qāla tazra’na sab’a sinīna da`abā, fa mā aattum fa żarhu fī sumbulihī illā qalīlam mimmā ta`kulụn.umma ya`tī mim ba’di żālika sab’un syidāduy ya`kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlam mimmā tuḥṣinn.umma ya`tī mim ba’di żālika ‘āmun fīhi yugāun-nāsu wa fīhi ya’ṣirụn.

Artinya: (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan(tujuh) lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasanya: maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit yang kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit) kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya  manusia di beri hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”(Q.S.Yusuf: 46-49)

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 101; Doa Nabi Yusuf Mohon Wafat Tetap Menjadi Muslim

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi memahami maksud dari kalimat kepada orang-orang itu dengan makna kepada raja dan para sahabatnya. Namun pada akhir-akhir penyampaianya, dia memberikan satu kemungkinan bahwa yang dimaksud hanyalah sangraja.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib memahami maksud dari mengetahuinya adalah mengetahui keutamaan dan keilmuan Yusuf. penyampaian hampir senada ditampilkan oleh al-Qurthubi:

 {لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ} التعبير ، أو {لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ} مكانك من الفضل والعلم

Agar mereka mengetahuinya: (mengetaahui) arti mimpi tersebut, atau agar mereka mengetahuinya: (mengetahui) derajat dan keilmuan Yusuf”.

Setelah raja Rayan bin Walid memberikan izin kepada pelayan minuman untuk menemui Yusuf yang masih berada di dalam penjara, pelayan tersebut segera bergegas keluar dari kota kediaman raja guna menemuinya. Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith menyampaikan bahwa dalam pandangan sebagian ulama, lokasi penjara Yusuf berada di kota kediaman raja dan pada saat ini lokasi tersebut berada di sekitar sungai nil dan berkisar jarak delapan mil dari Cairo lama.

Pada saat pelayan minuman tersebut telah berada di lokasi penjara, dia segera memanggil dan menemui Yusuf serta menyampaikan tentang mimpi raja dan menanyakan arti dari mimpi tersebut. Dia berharap agar Yusuf berkenan menafsirinya sehingga pelayan dapat kembali ke hadapan raja dengan membawa jawaban mimpinya.

Dengan dada yang luas, Yusuf memberikan pengertian akan arahan dan maksud dari mimpi tersebut tanpa mengungkit-ungkit kelalaian pelayan minuman tentang  pesan Yusuf saat ia akan terbebas dari penjara dulu. Dan dalam memberikan jawaban, Yusuf tidak mensyaratkan harus adanya jaminan bebas dari penjara.

Dengan dada yang lebar dan tanpa susah payah, Yusuf menjelaskan arti dari mimpi raja yang telah disampaikan oleh sipelayan minuman kepadanya.

Baca Juga :  Baca Surah Yusuf Saat Hamil, Anaknya Bisa Tampan?

Yusuf, dalam penyampaianya tentang arti mimpi tersebut, mengatakan bahwa sesungguhnya mereka semua diperintah untuk bercocok tanam seperti biasanya selama tujuh tahun lamanya dan setiap kali datang waktu panen maka hiduplah dengan sederhana dan simpanlah hasil panen tersebut beserta tangkainya kecuali beberapa butir yang akan digunakan untuk kebutuhan makan.

Perintah menyimpan beserta tangkainya bertujuan agar hasil panen tersebut tidak lekas rusak dan membusuk. Setelah tujuh tahun mereka bercocok tanam maka akan datang tujuh tahun berikutnya yang penuh dengan kesusahan dan kesulitan untuk bercocok tanam.

Pada tahun-tahun penuh kesulitan tersebut, mereka akan memanfaatkan hasil panen yang telah mereka simpan beserta tangkainya hingga tanpa sisa kecuali sedikit.

Setelah Yusuf menafsiri mimpi raja, dia memberikan kabar bahwa setelah mereka semua melalui tujuh tahun untuk bercocok tanam dan tujuh tahun yang penuh kesulitan maka mereka akan memasuki tahun yang cukup dengan curah hujan dan dalam tahun tersebut mereka akan memeras zaitun dan lain-lainya seperti kebiasaan mereka kembali.

Dari ayat-ayat di atas, para ulama tafsir seperti Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir dan ulama-ulama lainya dalam karya mereka memberikan pengertian bahwa:

Pertama, barang siapa yang hendak belajar ilmu dari seseorang maka wajib baginya menghormati dan memuliakan serta menyebut orang yang akan mengajarinya dengan sebutan yang penuh penghormatan. Sebagaimana pelayan minuman menyebut Yusuf saat dia akan menanyakan arti mimpi raja kepadanya.

Kedua, penafsiran mimpi raja yang telah dilakukan oleh Yusuf merupakan sebab akan terselamatkanya masyarakat selama melalui tujuh tahun yang penuh kesulitan.

Ketiga, para nabi dan utusan adalah rahmat Tuhan untuk makhluk-Nya dalam berbagai aspek, baik dalam aspek keyakinan, perilaku dan perekonomian serta lain sebagainya.

Keempat, penafsiran yang disampaikan nabi Yusuf atas mimpi raja Rayan bin Walid merupakan anugerah dan rahmat dari-Nya, sebab dengan adanya penafsiran tersebut masyarakat akan memperoleh jalan dalam menghadapi problematika kehidupan dunia sehingga terciptalah tujuan syariat (Maqashidu al-Syar’i). Tujuan syariat ialah menghantarkan umat manusia menuju titik kemaslahatan dunia dan dengan kemaslahatan ini mereka dapat mengenal Allah Swt. serta beribadah kepadaNya sehingga menuju pada kebahagiaan akhirat.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 54-57; Nabi Yusuf Menjadi Orang Kepercayaan Raja Mesir

Kelima, kabar akan datangnya tahun yang penuh dengan curah hujan dan mereka akan memeras seperti biasanya setelah empat belas tahun kedepan merupakan mukjizat yang menunjukan kebenaran atas kenabian Yusuf.

Keenam, kabar akan datangnya tahun yang penuh curah hujan tersebut bukan isyarah dari mimpi raja. Akan tetapi merupakan pemberitahuan dari Tuhan guna menenangkan hati masyarakat.

Ketujuh, menyimpan makanan sebagai persediaan di waktu membutuhkan merupakan tindakan yang dilegalkan oleh syariat.

Penyimpanan makanan yang dilarang syariat ialah membeli bahan makanan pokok manusia (berbagai jenis barang yang dapat dipakai untuk membayar zakat fitrah seperti beras, kurma dan lain sebagainya) atau bahan makanan pokok binatang  dan al-Ghazali menambahkan berbagai makanan yang membantu makanan pokok seperti daging. Pembelian tersebut bertujuan untuk disimpan dan akan dijualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi pada saat masyarakat umum membutuhkanya. Penyimpanan dengan model dan niat semacam ini akan menimbulkan madlarat (dampak negatife) yang melanda orang banyak. Dan tindakan tersebut termasuk dalam kategori tindakan yang telah disabdakan oleh nabi Saw:

الجالب مرزوق والمحتكر ملعون

“Seorang yang mendatangkan barang akan mendapatkan rezeki dan seorang yang menimbun barang akan dilaknat”.

لا يحتكر إلا خاطئ

“Tidaklah seorang menimbun kecuali dia berdosa”.

Dengan demikian penyimpanan selain jenis barang tersebut atau penyimpanan jenis barang-barang tersebut namun hasil bumi sendiri (bukan hasil membeli) atau hasil membeli namun untuk kebutuhan sendiri dan keluarganya atau untuk dijualnya dengan harga setandar maka tindakan tersebut tidak dilarang oleh agama (Is’adu al-Rafiq, juz pertama).

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Wa qālal-maliku`tụnī bih, fa lammā jā`ahur-rasụlu qālarji’ ilā rabbika fas`al-hu mā bālun-niswatillātī qaṭṭa’na aidiyahunn, inna rabbī bikaidihinna‘alīm. Qāla mā khaṭbukunna iż rāwattunna yụsufa ‘an nafsih, qulna ḥāsya lillāhi mā ‘alimnā ‘alaihi min sū`, qālatimra`atul-‘azīzil-āna ḥaṣ-ḥaṣal-ḥaqqu ana rāwattuhụ ‘an nafsihī wa innahụ laminaṣ-ṣādiqīn. żālika liya’lama annī lam akhun-hu bil-gaibi wa annallāha lā yahdī kaidal-khā`inīn. Wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm (Baca: Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here