Tafsir Surah Yusuf 41-42; Kisa Nabi Yusuf di Dalam Penjara

0
1108

BincangSyariah.Com – Tidak sedikit dari seorang insan yang mengalami permasalahan hidup dan permasalahan yang melandanya tidak hanya berhenti pada satu titik, dan hanya bertumpu pada manusia. Saat di dalam penjara, Nabi Yusuf pun masih sempat berbagai pada sesama untuk mengartikan suatu mimpi. Terkait kisah ini, Allah Swt. berfirman:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ.وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

Yā ṣāḥibayis-sijni ammā aḥadukumā fa yasqī rabbahụ khamrā, wa ammal-ākharu fa yuṣlabu fa ta`kuluṭ-ṭairu mir ra`sih, quḍiyal-amrullażī fīhi tastaftiyān. Wa qāla lillażī ẓanna annahụ nājim min-humażkurnī ‘inda rabbika fa ansāhusy-syaiṭānu żikra rabbihī fa labiṡa fis-sijni biḍ’a sinīn

Artinya: Hai kedua penghuni penjara, “Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar: adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya, telah di putuskan perkara yang kamu berdua menanyakan( kepadaku)”. 

Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahui akan selamat di antara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan  kepada tuannya. Karena itu tetapalah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya (Q.S.Yusuf: 41-42)

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan perselisihan ulama dalam memahami maksud dari kalimat diketahui. Dalam penyampaianya bahwa sebagian ulama memahami kalimat tersebut dengan maksud diketahui oleh Yusuf, dan dalam pandangan ulama lainya adalah menyangka (dirinya).

Imam al-Razi dalam karyanya menyampaikan perselisihan ulama dalam mengartikan maksud dari kata dia pada kalimat menjadikan dia lupa menerangkan. Dalam penyampaianya sebagian ulama mengarahkannya kepada Yusuf dan maksud dari tuannya adalah Tuhannya . dan sebagian ulama lainya mengarahkanya kepada orang yang diketahui akan selamat dan maksud dari tuannya adalah sangraja.

Baca Juga :  Kisah Mukjizat Rasulullah Menyembuhkan Luka

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan perselisihan ulama dalam memahami maksud dari beberapa tahun. Dalam penyampaianya bahwa sebagian ulama berpendapat tujuh tahun. Sebagian ulama lain berpendapat tiga sampai Sembilan tahun dan menurut sebagian ulama lainya adalah di bawah sepuluh tahun. Dalam perselisihan ini, Imam al-Thabari berkomentar:

والصواب في”البضع” من الثلاث إلى التسع، إلى العشر ، ولا يكون دون الثلاث

“Yang benar adalah tiga sampai Sembilan tahun dan bukan di bawah tiga tahun”. .

Setelah Yusuf menyatakan dirinya sebagai nabi kepada penghuni penjara dan mengajak mereka beriman kepada Allah Swt, kemudia dia menjawab pertanyaan tentang maksud dan arti mimpi yang disampaikan oleh kedua budak yang bersamanya di dalam penjara. Dalam jawabannya dia menagatakan bahwa dalam tiga hari yang akan datang, sang raja akan memanggil pelayan minuman tersebut dan membebaskanya serta menjadikanya sebagai pelayan minuman kembali sebagaimana sebelumnya. Dan pelayan makanan dalam tiga hari yang akan datang, dia akan disalib oleh sangraja dan sebagian kepalanya akan dimakan oleh burung-burung seperti elang dan rajawali. Dari jawabanya ini menunjukan bahwa sebenarnya yang meracun raja ialah pelayan makanan.

Mendengar jawaban tersebut, kedua budak itu berkata bahwa mereka berdua sebenarnya tidak bermimpi apapun. Pernyataan mereka tidak bermimpi apapun disebabkan adanya perasaan tidak senang dalam hati mereka berdua atas jawaban Yusuf. Dalam versi lain memang kedua budak itu tidak bermimpi apapun, dan yang disampaikan kepada Yusuf adalah kebohongan yang mereka buat untuk mencoba menguji kebenaran kabar tentang kepandaian Yusuf dalam menafsiri sebuah mimpi.

Baik mimpi mereka berdua adalah mimpi yang dibuat-buat oleh keduanya ataupun benar-benar mimpi, namun mimpi tersebut akan menjadi sebuah kenyataan. Hal disebabkan apa yang disampaiakn oleh seorang nabi pasti akan terjadi sebagai penguat bahwa dia adalah nabi. Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir memberikan komentar tentang pasti terjadnya arti mimpi kedua budak tersebut dikarenakan bahwa sebuah mimpi akan melayang-layang selama mimpi tersebut belum disebutkan, dan akan menjadi kenyataan saat mimpi itu telah disebutkan. Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang disabdakan oleh nabi Saw:

Baca Juga :  Ini Dua Tipe Orang yang Paling Dicintai Setan

الرؤيا على رجل طائر ما لم تعبر، فإذا عبرت وقعت

“Mimpi seorang laki-laki melayang-layang selama tidak disebutkan, dan ketika telah disebutkan maka mimpi tersebut akan terjadi”.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan riwayat dari Abdurazaq yang dikutip dari Mu’ammar dan bersumber dari Qatadah, dalam riwayatnya bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab dan berkata “Saya bermimpi seakan-akan memotong rerumputan kemudian tanah itu menjadi tandus lalu saya kembali memotong rerumputan kemudian tanah itu kembali menjadi tandus”. Kemudian Umar menjawab “Kamu adalah seorang yang beriman lalu menjadi kufur kemudian kembali beriman dan menjadi kufur kembali lalu mati dalam keadaan kufur”. Laki-laki tersebut menyahutnya “Aku sebenarnya tidak bermimpi apaun”. Umar berkata “Telah ditetapkan untukmu sebagaimana telah ditetapkan untuk kedua budak yang bersama Yusuf”.

Dan di sisi lain, penafsiran Yusuf terhadap mimpi kedua budak itu berdasarkan wahyu Tuhan kepada Yusuf tentang akhir dari permasalahan kedua budak tersebut. Sehingga penafsiran Yusuf pasti akan terjadi dan dialami oleh mereka berdua.

Setelah Yusuf menyampaikan arti mimpi tersebut kepada kedua budak yang bersamanya, dia membisiki salah satu dari kedua budak yang diketahuinya akan selamat tanpa sepengetahuan lainya. Dalam versi lain, Yusuf membisiki salah satu dari kedua budak tersebut yang menyangka dirinya akan selamat. Yusuf membisikinya “Sampaikanlah kisahku (bahwa aku dipenjara tanpa sebuah kesalahan) kepada raja, semoga dia mengeluarkanku dari penjara setelah mengetahui bahwa aku tidak bersalah”.

Setan membuat Yusuf lupa kepada Tuhannya, oleh karenanya ia dicoba oleh-Nya berada dalam penjara dalam waktu yang lama. Diriwayatkan bahwa Jibril mendatangi Yusuf saat dia berada dalam penjara. Jibril berkata “Siapa yang menyelamatkanmu dari pembunuhan saudara-saudaramu?” Yusuf menjawab “Allah Swt”. Jibril berkata lagi “Siapa yang mengeluarkanmu dari dasar sumur?” Yusuf menjawab “Allah Swt”.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 19-20; Nabi Yusuf Selamat dari Dasar Sumur

Malaikat JIbril kembali berkata “Siapa yang menjagamu dari perbuatan keji dan siapakah yang menyelamatkanmu dari godaan para perempuan?” Yusuf menjawabnya “Allah Swt”. Jibril kembali berkata “Kenapa kau meninggalkan Tuhanmu dan tidak meminta pertolongan kepadaNya serta bertumpu kepada manusia?” kemudian Yusuf mengakui kesalahannya terhadap Allah Swt. dan meminta kasih sayang-Nya namun JIbril berkata “Sebagai hukumanya, kamu akan berada lama dalam penjara”.

Dalam versi lain budak yang dimintai tolong untuk menyampaikan pesan Yusuf kepada sangraja dibuat lupa oleh syaitan untuk menyampaikanya dan pada akhirnya Yusuf berada dalam waktu yang lama di dalam penjara.

Dari kisah di atas, Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan bahwa upaya meminta pertolongan orang lain dalam menghilangkan sebuah kezaliman merupakan tindakan yang dilegalkan oleh syari’ah. Namun yang lebih utama adalah kembali dan bersandar serta bergantung kepada Allah Swt.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan bahwa ada satu hal yang sangat terbukti dan teruji seumur hidupku, yaitu ketika seorang manusia bersandar dan bergantung kepada selain Allah Swt. dalam permasalahan yang dialaminya maka hal itu menjadi sebab munculnya cobaan dan musibah baginya.

Ketika seorang hamba hanya bersandar dan bergantung kepada Allah Swt. semata atas apa yang permasalahan yang dialaminya maka hal itu merupakan jalan terbaik. Pernyataan ini telah aku buktikan sendiri sejak awal umurku hingga sekarang. Dengan demikian dalam hatiku terpaku bahwa tidak ada kemaslahatan bagi seorang manusia bersandar dan bergantung atas sesuatu kecuai kepada anugerah dan kebaikan dari-Nya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here