Tafsir Surah Yusuf 35-40; Penjara Sebagai Media Dakwah bagi Nabi Yusuf

1
1018

BincangSyariah.Com – Mengajak khalayak umum untuk berjalan dalam satu jalan yang lurus merupakan sebuah tugas dari Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana Yusuf telah menjalankanya dalam berbagai kesempatan, di antaranya saat ia berada dalam penjara. Dalam kisahnya Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ . وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ . قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ذَلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ.  وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ.  يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ. مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

umma badā lahum mim ba’di mā ra`awul-āyāti layasjununnah attā ḥīn.

wa dakhala ma’ahus-sijna fatayān, qāla aaduhumā innī arānī a’iru khamrā, wa qālal-ākharu innī arānī amilu fauqa ra`sī khubzan ta`kuluairu min-h, nabbi`nā bita`wīlih, innā narāka minal-musinīn.

qāla lā ya`tīkumā a’āmun turzaqānihī illā nabba`tukumā bita`wīlihī qabla ay ya`tiyakumā, żālikumā mimmā ‘allamanī rabbī, innī taraktu millata qaumil lā yu`minna billāhi wa hum bil-ākhirati hum kāfirụn.

wattaba’tu millata ābā`ī ibrāhīma wa is-āqa wa ya’qb, mā kāna lanā an nusyrika billāhi min syaī`, żālika min falillāhi ‘alainā wa ‘alan-nāsi wa lākinna akaran-nāsi lā yasykurụn.āibayis-sijni a arbābum mutafarriqna khairun amillāhul-wāḥidul-qahhār.

mā ta’budna min dnihī illā asmā`an sammaitumhā antum wa ābā`ukum mā anzalallāhu bihā min sulān, inil-ukmu illā lillāh, amara allā ta’budū illā iyyāh, żālikad-dīnul-qayyimu wa lākinna akaran-nāsi lā ya’lamụn.

Artinya:

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai suatu waktu. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur”.

Dan yang lainya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagianya dimakan burung”. Berikanlah kepada kami ta’birnya. Sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.

Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu kedua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku.

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.

Dan aku mengikuti agama bapak-bapak-ku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.

Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?.

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.

Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanya kepunyaan Allah.

Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S.Yusuf: 35-40)

Dalam penyampaian Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari bahwa maksud dari sampai suatu waktu adalah tujuh tahun menurut ‘Ikrimah. Sebagaimana Imam al-Tabari, Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan perselisihan ulama terkait arti kalimat tersebut. Dalam penyampaianya bahwa mayoritas ulama kalimat tersebut berarti sampai waktu yang tidak diketahui. Menurut Ibnu Abas sampai kabar berita (Yusuf dengan isteri al-Aziz) surut di halayak umum. Sampai enam bulan menurut Sa’id bin Jubair dan lima tahun menurut al-Kalibi, sedangkan dalam pandangan Muqatil sampai tujuh tahun dan Wahab berkata; Yusuf berada dalam penjara selama dua belas tahun.

Dua orang pemuda yang dimaksud adalah dua budak yang dimiliki oleh raja al-Rayan bin Walid menurut Imam al-Thabari.

Imam al-Thabari menyampaikan perselisihahan ulama dalam mengartikan termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan. Dalam penyampaianya sebagian ulama mengartikanya dengan makna orang pandai (mena’birkan mimpi). Dan ulama lain memahami dengan makna orang yangberbuat baik dengan menjenguk penghuni penjara lainya yang sakit dan menghibur orang yang kesusahan dan membantunya.

Imam al-Thabari menyampaikan maksud dari disampaikan  ialah disampaikan dalam mimpi mereka berdua dan telah dapat menerangkan adalah menerangkanya dalam keadaan sadar (terbangun dari mimpi).

Setelah kebenaran Yusuf telah terbukti di mata al-Aziz, isterinya dan saksi, mereka bersepakat untuk memenjarakannya sampai suatu waktu dengan tujuan agar masyarakat umum mengira bahwa sebenarnya yang bersalah adalah Yusuf serta dikira mereka memenjarakanya sebagai hukuman untuknya. Dan di sisi lain, al-Aziz bertujuan memisahkan Yusuf dengan isterinya sehingga kecemburuanya bisa segera hilang.

Dalam versi lain yang disampaikan Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib bahwa semasa isteri al-Aziz telah kehabisan cara untuk menggoda dan mengajar Yusuf mengikuti keinginan nafsunya dan Yusuf tetap menolaknya, Isteri al-Aziz berkata kepada suaminya bahwa Yusuf mempermalukanya di depan umum sebab dia berkata bahwa isteri al-Aziz menggodanya untuk menuruti keinginanya. Pada akhirnya dia menawarkan agar Yusuf dipenajarakan dan benak al-Azizi menganggap penjara adalah jalan terbaik untuknya hingga berita tersebut hilang dari halayak umum.

Pada saat Yusuf masuk ke dalam penjara, dua orang budak juga dimasukan bersamanya ke dalam penjara. Menurut Muhammad bin Ishak nama kedua budak itu adalah Nabwa dan Majlats. Nabwa adalah seorang pelayan makanan dan Majlats adalah seorang pelayan minuman. Mereka berdua dimasukan ke dalam penjara sebab pelayan makanan telah meracum makanan sangraja dan pelayan minuman diduga membantunya.

Keberadaan Yusuf dalam penjara dikenal oleh para penghuni lainya sebagai seorang yang baik dan mampu mengetahui mimpi dan mengartikanya. Dalam pertemuannya  bersama kedua budak di dalam penjara, kedua budak tersebut menceritakan mimpinya kepada Yusuf agar dia mengartikanya. Dalam sebagian versi bahwa kedua budak tersebut membuat-buat cerita dari mimpinya guna mencoba dan untuk membuktikan kebenaran atas kemampuan Yusuf dalam menafsiri sebuah mimpi.

Keadaanya dalam penjara, dijadikan sebagai kesempatan emas oleh Yusuf untuk mengajak para penghuni meninggalkan patung-patung sesembahan mereka serta mengajak untuk menyakini, beriman, mengesakan dan menyembah Allah Swt sebagai tuhan.

Setelah Yusuf menyatakan bahwa menyembah selain Allah adalah sebuah kekeliruan dan kesalahan besar, dirinya sebagai nabi dan utusan Allah Swt mengajak mereka beriman kepada Allah Swt. sebagai tuhan yang Esa, dan dia berkata; Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanya kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal yang dapat diambil dari kisah di atas, di antaranya:

Pertama, Yusuf berdasarkan persaksian para penghuni penjara merupakan seorang yang baik yang berakhlak dan bekepribadian baik.

Kedua, Yusuf menampakan kemampuanya mengetahui mimpi dan menafsirinya berdasarkan sebuah wahyu dari Allah Swt. Hal ini sebagai mukjizat dan dasar yang menguatkan bahwa dia adalah seorang nabi.

Ketiga, seorang nabi dibebani untuk berdakwah dalam setiap kesempatan.

Keempat, tuhan-tuhan dari beberapa patung dan berhala hanyalah sebuah nama yang dibuat-buat dan hanyalah benda mati.

Kelima, hanya Allah Swt. Yang berhak untuk disembah.

Keenam, berdakwan untuk mengajak orang-orang mengimani Allah Swt. Sebagai tuhan merupakan jalan yang lurus.

Ketujuh, ketika seorang yang ‘Alim dimintai sebuah fatwa oleh orang-orang bodoh dan fasik, maka yang harus dilakukan pertama kali ialah memberinya nasihat dan petunjuk dan mengajaknya kepada hal yang lebih utama kemudian memberinya jawaban atas pertanyaanya.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here