Tafsir Surah Yusuf 30-34; Karunia Allah untuk Nabi Yusuf

0
64

BincangSyariah.Com – Dengan karunia yang diterima Yusuf, ia selalu membawanya kepada ridla-Nya. Dalam kisahnya Allah Swt. berfirman:

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ.  فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَأً وَآتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ. قَالَتْ فَذَلِكُنَّ الَّذِي لُمْتُنَّنِي فِيهِ وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ . قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ. فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Wa qāla niswatun fil-madīnatimra`atul-‘azīzi turāwidu fatāhā ‘an nafsih, qad syagafahā ḥubbā, innā lanarāhā fī ḍalālim mubīn. Fa lammā sami’at bimakrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka`aw wa ātat kulla wāḥidatim min-hunna sikkīnaw wa qālatikhruj ‘alaihinn, fa lammā ra`ainahū akbarnahụ wa qaṭṭa’na aidiyahunna wa qulna ḥāsya lillāhi mā hāżā basyarā, in hāżā illā malakung karīm. Qālat fa żālikunnallażī lumtunnanī fīh, wa laqad rāwattuhụ ‘an nafsihī fasta’ṣam, wa la`il lam yaf’al mā āmuruhụ layusjananna wa layakụnam minaṣ-ṣāgirīn. Qāla rabbis-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad’ụnanī ilaīh, wa illā taṣrif ‘annī kaidahunna aṣbu ilaihinna wa akum minal-jāhilīn. Fastajāba lahụ rabbuhụ fa ṣarafa ‘an-hu kaidahunn, innahụ huwas-samī’ul ‘alīm.

Artinya:

Dan wanita-wanita di kota berkata: “Isteri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 25-29; Pembelaan Nabi Yusuf atas Tuduhan Perbuatan Mesum)

Maka tatkala wanita itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakanya bagi mereka tempat duduk, dan diberikanya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu meihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tanganya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia”.

Wanita itu berkata: “Itulah dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina”.

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”. Maka Tuhannya memperkenankan do’a Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui” (Q.S.Yusuf: 30-34)

Baca Juga :  Baca Surah Yusuf Saat Hamil, Anaknya Bisa Tampan?

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari mengartikan bujangnya dengan makna budaknya.

Dalam penyampaian Ibnu Katsir pada karyanya Tafsir Ibnu katsir bahwa Ibnu Abas mengartikan sangat mendalam dengan makna cinta yang mematikan.

Kabar istri al-Aziz dengan Yusuf telah menyebar luas di kota mesir. Berita ini menjadi topik utama dalam pembicaraan para wanita, seperti dalam obrolan isteri para pejabat pemerintah Mesir. Dalam pembicaraan mereka bahwa isteri al-Aziz menggoda budaknya agar mau menuruti keinginanya. Di sisi lain, mereka semua penasaran dan membicarakan kabar tersebut supaya mereka dapat melihat Yusuf secara langsung.

Semasa istri al-Aziz mendengar cercaan dan gunjingan tersebut, dia mengundang mereka untuk bertamu ke rumahnya. Sebagaimana mestinya, sebagai tamu mereka dipersilahkan menempati tempat yang telah disediakan dan dihidangkan kepada mereka jamuan berupa minuman, makanan, roti dan buah buahan serta di sediakan pisau satu-persatu untuk mereka gunakan sebagai alat pemotong makanan yang disajikan.

Istri al-Aziz pun menyuruh Yusuf untuk keluar menampakan rupanya. Tatkala Yusuf keluar dan para wanita itu melihatnya, maka mereka terkagum-kagum atas rupa fisik Yusuf. Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan pandangan lain, bahwa mereka terkagum-kagum sebab melihat cahaya kenabian Yusuf dan kewibawaanya. Akibat kekagumanya kepada Yusuf, tanpa disadari mereka telah memotong jari-jari tangan mereka sendiri dengan pisau yang ada di depan mereka.

Ketika mereka sadar dan merasakan rasa sakit akibat jari-jarinya yang telah terpotong, mereka menjerit kesakitan dan isteri al-Aziz berkata “Melihatnya satu kali, kalian tak sadarkan diri memotong tangan kalian sendiri. Lantas bagaiaman dengan aku?” lalu mereka berkata “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia” dan mereka kembali berkata “Setelah kami melihatnya, kami tidak akan mencercamu”.

Dalam sebuah hadis disampaikan bahwa di saat nabi Saw. naik kelangit ketiga, beliau bertemu dengan Yusuf dan Nabi Saw. berkata:

Baca Juga :  Bolehkah Menggabungkan Tempat Tidur Anak dalam Satu Kamar?

فإذا هو قد أعطي شطر الحسن

“Dia (Yusuf) dikarunia setengah dari ketampanan”.

Dalam hadis lain disampaikan bahwa di saat nabi Saw. naik kelangit, beliau bertanya kepada Jibril “Siapakah dia?” lalu Jibril menjawab dan berkata “Dia adalah Yusuf, seperti apa engkau melihatnya?” nabi berkata “Bagaikan bulan purnama”.

Dalam hadis lainya:

أعطي يوسف وأمه ثلث حُسن أهل الدنيا ، وأعطي الناس الثلثين

“Yusuf  dan ibunya dikaruniai sepertiga keelokan ahli dunia dan (seluruh) manusia (lainya) diberi dua pertiga”.

Dikisahkan ketika Yusuf berjalan di lorong sempit kota, sinar wajahnya bagaikan sinar matahari yang menyorot tembok lorong kota tersebut.

Setelah mereka mengakui keelokan Yusuf serta tidak ada lagi cercaan dari mereka, isteri al-Aziz berkata (dan mengancam Yusuf) di depan mereka “Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina”.

Saat Yusuf mendapatkan ancaman tersebut, dalam hatinya berkumpul kebimbangan dan rasa takut sebab beberapa hal:

Pertama, isteri al-Aziz adalah wanita yang sangat cantik dan berharta serta berniat akan memberikan seluruh hartanya kepada Yusuf.

Kedua, wanita yang berkumpul di tempat tersebut semuanya mencintai Yusuf dan menakut-nakutinya dengan cara lain.

Ketiga, Yusuf hawatir akan dibunuh oleh isteri al-Aziz.

Dalam penyampaian Imam al-Qurthubi, sebagian ulama mengkisahkan bahwa wanita yang bertamu kepada isteri al-Aziz membisiki Yusuf yang seakan-akan memberikan nasihat kepadanya agar dia menuruti ajakan isteri al-Aziz. Namun dalam bisikanya justru mereka berkata “Hai Yusuf!, turutilah kemauanku. Aku lebih baik daripada tuanmu”.

Yusuf berfikir bahwa bila dia mengikuti ajakan mereka semua maka penderitaan yang besar akan menyelimutinya, yaitu cercaan di dunia dan siksaan di akhirat nanti. Oleh karenanya dia memohon kepada-Nya agar diselamatkan dari godaan mereka. Dalam do’anya dia mengadu:

Baca Juga :  Gamis Nabi Yusuf AS; Keindahan Tatanan Bahasa Al-Qur'an

Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.

Allah Swt. dengan kuasa dan kasih sayangNya, mengabulkan do’a Yusuf dan menyelamatkanya dari godaan mereka.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal yang dapat dipetik dari kisah pada ayat di atas, di antaranya:

Pertama, kabar buruk akan cepat menyebar di halayak umum, dan yang paling cepat tersebar adalah kabar yang dibawa oleh wanita.

Kedua, Yusuf memberikan contoh kepada manusia untuk memerangi perasaan hati (kecenderungan) kepada wanita dengan memohon pertolongan kepada-Nya dari hal tersebut.

Ketiga, manusia tidak akan terlepas dan terhindar dari kemaksiatan kecuali atas izin-Nya.

Keempat, Tuhan akan mengabulkan permohonan seorang hamba yang meminta perlindungan serta meninggalkan kemaksiatan dengan niat mencari ridla-Nya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here