Tafsir Surah Yusuf 25-29; Pembelaan Nabi Yusuf atas Tuduhan Perbuatan Mesum

1
997

BincangSyariah.Com – Dengan kuasa dan kasih sayang Allah, Yusuf mendapat perlindungan Tuhan dari berbagai masalah yang ia alaminya, termasuk tuduhan perbuatan mesum dengan seorang wanita. Dalam kisahnya, Allah Swt. berfirman:

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ . قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ . وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ . فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ . يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ

Wastabaqal-bāba wa qaddat qamīah min duburiw wa alfayā sayyidahā ladal-bāb, qālat mā jazā`u man arāda bi`ahlika sū`an illā ay yusjana au ‘ażābun alīm. Qāla hiya rāwadatnī ‘an nafsī wa syahida syāhidum min ahlihā, ing kāna qamīuh qudda ming qubulin fa adaqat wa huwa minal-kāżibīn. Wa ing kāna qamīuh qudda min duburin fa każabat wa huwa minaṣ-ṣādiqīn. Fa lammā ra`ā qamīah qudda min duburing qāla innah ming kaidikunn, inna kaidakunna ‘aīm. Yusuufu a’ri ‘an hāżā wastagfirī liżambiki innaki kunti minal-khāṭi`īn.

Artinya:

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat kemungkaran dengan isterimu, selain dipenjara atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”.

Yusuf berkata “Dia menggodaku untuk menundukan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita memberikan kesaksian: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar”.

Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”. (Hai) Yusuf: “berpalinglah dari ini, dan kamu (hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah” (Q.S.Yusuf: 25-29)

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 11-18; Kisah Tragis Nabi Yusuf, Dibuang di Dasar Sumur

 

Menurut Imam al-Syirbini dalam karyanya Tafsir al-Siraj al-Munir maksud dari suami wanita adalah al-Ithfir atau Qithfir yang berjuluk al-Aziz.

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan bahwa di saat mereka berdua mendapati suami wanita itu di muka pintu, posisi suami sedang dalam keadaan duduk di muka pintu.

Disampaikan oleh imam al-Syirbini dalam karyanya bahwa arti Kemungkaran yang dimaksud adalah perbuatas zina atau lainya.

Imam al-Syirbini memahami azab yang pedih dengan arti sebuah pukulan dengan cambuk dan lain sebagainya. Penyampaian ini hampir senada dengan pendapat dari Ibnu Katsir dalam karyanya Tasir Ibnu Katsir:

{ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ } أي: يضرب ضربا شديدًا موجعا

Azab yang pedih artinya pukulan yang keras dan menyakitkan”.

Saat istri al-Aziz memaksa Yusuf untuk menuruti keinginan nafsunya dan dia menolaknya, maka Yusuf segera berlari menuju kearah pintu untuk keluar dari tempat tersebut dan wanita itu mengejar Yusuf guna mengahalanginya agar tidak keluar dari tempat tersebut. Dalam kisahnya, saat Yusuf berlari sampai di depan pintu, wanita tersebut mengejar menarik bagian belakang gamis Yusuf  hingga robek dan robekan tersebut terhitung panjang. Dan pintu yang terkunci tiba-tiba kunci pintu tersebut terjatuh dan pintu terbuka.

Setelah pintu terbuka, tiba-tiba mereka berdua mendapati al-Aziz berada di depan pintu dalam keadaan duduk bersama anak dari paman wanita itu (sepupu wanita tersebut). Wanita tersebut dengan perasan hawatir dalam hatinya, ia di depan al-Aziz segera bergegas menuduh Yusuf telah melakukan perbuatan tidak terpuji kepadanya dengan kata-kata yang tidak begitu jelas bahwa Yusuf hendak mengsetubuhinya. Dia menyampaikanya dengan kalimat “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat kemungkaran dengan isterimu” (Q.S.Yusuf: 25). Tuduhanya dengan bahasa yang kurang jelas ini disebabkan dia malu untuk melakukan tuduhan dengan bahasa yang jelas karena sebenarnya ia meyakini dalam benaknya bahwa Yusuf dalam keadaan bersih dan suci dari tuduhan tersebut.

Baca Juga :  Sejarah Awal Rumah Sakit Islam; Berasal dari Kemajuan Persia

Wanita tersebut meminta kepada suaminya agar dia memenjarakan Yusuf (satu hari atau kurang) atau memberinya hukuman berupa pukulan yang menyakitkan. Wanita tersebut menawarkan dua pilihan hukuman kepada suaminya untuk Yusuf dan tidak menentukan satu hukuman yang pasti, hal ini disebabkan dalam hatinya menyimpan rasa cinta yang begitu besar kepada Yusuf hingga dia tak mampu menawarkan satu hukuman yang pasti kepada suaminya untuk Yusuf. Imam al-Razi berkata:

لأن المحب لا يسعى في إيلام المحبوب

“Karena pada hakikatnya seorang yang mencintai tak akan mampu melukai sesosok yang dicintainya”.

Pada saat wanita tersebut menuduh Yusuf di depan al-Aziz, Yusuf hawatir terhadap jiwa serta harga dirinya sendiri dan pada akhirnya dia berkata jujur “Dia menggodaku untuk menundukan diriku (kepadanya)” (Q.S.Yusuf: 26) guna menghilangkan kesalah pahaman dari al-Aziz.

Pada akhirnya, seorang saksi memberikan kesaksian bila gamis Yusuf robek di bagian depan maka wanita itu benar dan bila robekan gamis tersebut berada di bagian belakang maka Yusuflah yang benar. Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan perselisihan ulama dalam memahami siapakah saksi tersebut, disampaikan olehnya:

Pertama, menurut mayoritas ulama tafsir bahwa saksi tersebut adalah anak dari paman wanita tersebut dan dia adalah seorang hakim yang bertepaan pada waktu tersebut datang bersama al-Aziz.

Kedua, sebagian ulama menyatakan bahwa saksi tersebut adalah seorang anak kecil yang masih berada di ayunan. Allah memberinya kemampuan untuk berbicara dan memberikan persaksian. Dalam riwayat Ibnu abas bahwa nabi Saw. bersabda: “Ada empat bayi yang dapat berbicara saat masih dalam ayunan, (yaitu) saksi nabi Yusuf, anak Masyithah binti Fir’aun, nabi Isa bin Maryam dan anak yang dianggap sebagai anak Juraij.

Ketiga, Mujahid berpendapat bahwa saksi tersebut adalah gamis yang dirobek.

Imam al-Razi menambahkan bahwa terdapat beberapa tanda lain yang membenarkan kejujuran ucapa Yusuf, di antaranya:

Pertama, secara kasat mata bahwa Yusuf merupakan seorang budak milik mereka, dan tidak mungkin budak akan berbuat seburuk itu kepada tuanya.

Baca Juga :  Ini Tugas Malaikat Israfil Sebelum Kiamat Datang

Kedua, mereka melihat Yusuf lari dengan kencangnya menuju arah pintu untuk keluar. Dan seorang yang akan berbuat buruk kepada wanita tidak mungkin keluar dalam kondisi demikian.

Ketiga, mereka melihat wanita tersebut dalam keadaan berhias dengan sempurna dan Yusuf tidak berhias sedikitpun.

Keempat,  mereka telah lama hidup bersama Yusuf dan tidak melihat sedikitpun dari perilakunya yang menyamai perbuatan mungkar tersebut.

Kelima, penyampaian wanita tersebut dengan bahasa yang kurang jelas, sedangkan Yusuf berkata dengan bahasa yang jelas di depan al-Aziz. Andaikan Yusuf salah maka tidak mungkin dia akan berani dan mampu berkata dengan bahasa yang jelas.

فإن الخائن خائف

“Sungguh seorang yang khianat merasa takut”.

Keenam, dalam  sebagian versi bahwa suami dari wanita tersebut lemah syahwat sehingga nafsu birahi wanita itu sangat besar. Oleh karenanya perbuatan mungkar tersebut lebih pantas muncul dan bermula darinya.

Pada akhirnya, saat al-Aziz melihat robekan gamis tersebut berada pada bagian belakang dari gamis Yusuf maka dia berkata kepada isterinya “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”. Kemudia dia menyuruh Yusuf untuk meningalkan permasalahan tersebut serta tidak menceritakan kepada siapapun. Dan menyuruh isterinya untuk memohom ampunan atas perbuatan dosa yang dilakukanya. Dalam penyampaian Imam al-Razi bahwa ada kemungkinan yang melihat robekan gamis tersebut adalah saksi dan saksi tersebut berkata kepada Yusuf serta memerintah wanita tersebut untuk meminta maaf kepada al-Aziz.

Wahbah Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan; berhati-hatilah dengan fitnah perempuan sebab tipu daya wanita begitu besar. Dan nabi bersabda:

إن كيد النساء أعظم من كيد الشيطان لأن اللّه تعالى يقول: إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطانِ كانَ ضَعِيفاً [النساء 4/ 76] ، وقال: إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ

Sesungguhnya tipu daya wanita lebih besar daripada tipu daya syaithan, sebab Allah Swt. berfirman “Sesungguhnya tipu daya syaithan itu lemah” (Q.S.al-Nisa’: 76) dan “Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar” (Q.S.Yusuf: 28).

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here