Tafsir Surah Yusuf 23-24; Nabi Yusuf Digoda Seorang Wanita

2
104

BincangSyariah.Com – Suatu saat Nabi Yusuf digoda seorang wanita. Terkait hal ini, Allah Swt. menceritakan demikian:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ  .وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Wa rāwadat-hullatī huwa fī baitihā ‘an nafsihī wa gallaqatil-abwāba wa qālat haita lak, qāla ma’āżallāhi innahụ rabbī aḥsana maṡwāy, innahụ lā yufliḥuẓ-ẓālimụn. Wa laqad hammat bihī wa hamma bihā, lau lā ar ra`ā bur-hāna rabbih, każālika linaṣrifa ‘an-hus-sū`a wal-faḥsyā`, innahụ min ‘ibādinal-mukhlaṣīn

Artinya:

Dan wanita yang yusuf tinggal dirumahnya menggoda Yusuf untuk menundukan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakun aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dari Tuhannya). Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih (Q.S.Yusuf: 23-24)  

Yang dimaksud dengan wanita yang yusuf tinggal di rumahnya ialah istri al-Aziz sebagaimana telah disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam pandangan Imam al-Syirbini dalam karyanya Tafsir al-Siraj al-Munir kata menggoda merupakan ungkapan dari tipudaya istri al-Aziz agar Yusuf berkenan melakukan hubungan badan denganya.

Dari penyampaian Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari bahwa maksud dari Tuanku adalah suami perempuan tersebut (al-Aziz).

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 1-3; Kesempurnaan Kitab Suci Al-Qur’an

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan perbedaan arti kemungkaran dan kekejian sebagai berikut:

المسألة الثالثة في الفرق بين السوء والفحشاء وفيه وجوه الأول أن السوء جناية اليد والفحشاء هو الزنا الثاني السوء مقدمات الفاحشة من القبلة والنظر بالشهوة والفحشاء هو الزنا

“Perbedaan antara kemungkaran dan kekejian. Pertama, (kemungkaran) yang dimaksud ialah perbuatan buruk yang dilakukan oleh tangan dan kekejian adalah perbuatan zina. Kedua, kemungkarang adalah permulaan dari zina, seperti mencium melihat dengan syahwat dan kekejian adalah perbuat zina”.

Dengan kesempurnaan rupa dan ketampanan, Yusuf membuat setiap wanita yang melihatnya akan terpesona tertarik kepadanya. Keberadaan Yusuf di kediaman Qithfir atau al-Ithfir yang berjuluk al-Aziz membuat istri al-Aziz tak dapat menahan, membendung perasaan hati dan nafsu birahinya kepada Yusuf.

Pada suatu ketika di saat al-Aziz tidak berada di rumah, istrinya berhias layaknya ia berhias untuk sangsuami dan menutup tujuh lapisan pintu rumahnya serta menggoda Yusuf agar dia mau menuruti keinginan nafsu birahinya untuk melakukan hubungan layaknya suami-istri. Namun Yusuf menolak keinginannya dan berlindung kepada-Nya serta berkata bahwa al-Aziz (suami wanita tersebut) telah memberinya kedudukan dan penghormatan kepada Yusuf maka tidak selayaknya dia menghianatinya.

Dalam kisahnya, wanita tersebut bertekan bulat untuk mengajak Yusuf melakukan hubungan layaknya suami-istri dan menggodanya. Yusuf sebagai manusia, dalam hatinya muncul keinginan untuk melayani keinginan wanita tersebut.

Namun tiba-tiba terdengar olehnya suara yang berseru “Hai putra Ya’qub!, apakah kau akan melakukan zina hingga kau bagaikan burung yang bulunya telah dicabuti hingga tak berbulu?”. Dalam versi ulama lain bahwa saat terbesit dalam benak Yusuf untuk mengikuti keinginan wanita tersebut, tiba-tiba Nampak dan muncul rupa dari wajah ayahnya (Ya’qub) dan Ya’qub menggigit jari-jari Yusuf sehingga keluarlah syahwat Yusuf dari jari-jemarinya.

Baca Juga :  Persahabatan Rasulullah dengan Pembesar Kafir Quraisy

Ulama lain menyampaikan; tiba-tiba Yusuf melihat ke atas dan melihat atap rumah bertuliskan “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan buruk” (Q.S.al-Isra’: 32). Dalam pandangan ulama lainya disampaikan bahwa tiba-tiba Yusuf melihat penampakan dari al-Aziz. Oleh karenanya Yusuf memohon perlindungan kepada-Nya dan menolak keinginan wanita tersebut.

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan:

والصواب أن يقال: إنه رأى من آيات الله ما زجره عما كان هم به، وجائز أن يكون صورة يعقوب، وجائز أن يكون صورة الملك، وجائز أن يكون ما رآه مكتوبا من الزجر عن ذلك. ولا حجة قاطعة على تعيين شيء من ذلك، فالصواب أن يطلق كما قال الله تعالى

“Yang benar bahwa dari ayat-ayat Allah Swt. telah disampaikan adanya hal yang mencegah Yusuf melakukan apa yang terbesit dalah hatinya. Hal tersebut baik berupa wujud dari Ya’qub, tuanya (al-Aziz) dan tulisan (yang melarangnya) yang terlihat. Dan tidak ada dasar yang pasti yang menyebutkan (secara detail) hal tersebut. oleh karenanya (cukup) disampaikan sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Swt”.

Keinginan Yusuf melayani wanita tersebut merupakan suara hati dan kecenderungan yang muncul dengan tanpa niat dan kesengajaan darinya. Dan hal ini tidak mendapatkan dosa bahkan ketika seseorang menahan dan mencegah suara dan kecenderungan ini sehingga dia tidak mengikutinya maka dia mendapatkan balasan pahala.

Imam al-Syirbini menyampaikan pendapat ulama muhakikin bahwa dalam pandangan mereka keinginan hati terbagi menjadi dua macam.

Pertama, keinginan yang berdasarkan niat dan kerelaan serta kesengajaan. Seorang hamba akan mendapatkan balasan (baik pahala maupun siksaan) dengan kemunculan keinginan tersebut.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 30-34; Karunia Allah untuk Nabi Yusuf

Kedua, keinginan yang datang tiba-tiba dan tanpa niatan seperti keinginan Yusuf. Seorang hamba tidak mendapatkan (balasan) atas munculnya keinginan tersebut. Dia akan mendapatkan pahala ketika tidak mengikuti keinginan tersebut bila keinginan itu adalah keinginan untuk melakukan perbuatan buruk.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

يقول اللّه تعالى: إذا همّ عبدي بحسنة، فاكتبوها له حسنة، فإن عملها، فاكتبوها له بعشر أمثالها، وإن همّ بسيئة فلم يعملها فاكتبوها حسنة، فإنما تركها من جرائي، فإن عملها فاكتبوها بمثلها

“Allah Swt. berkata; Ketika hambaku berkeinginan melakukan kebaikan, maka tulislah keinginan baik tersebut sebagai amal baik untuknya. Bila dia melakukan keinginan baiknya, maka tulislah untuknya sepuluh kalilipat dari kebaikan tersebut. Dan bila dia berkeinginan melakukan keburukan lalu tidak melakukanya maka tulislah sebagai amal baik untuknya. Meninggalkannya adalah pencapaian dariku. Kemudian bila dia melakukanya maka tulislah sebagai amal buruk”.

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari menyampaikan pandangan para ulama terkait kesalahan yang dilakukan oleh seorang nabi sebagai berikut:

Pertama, ulama memberikan pandangan bahwa kesalahan yang diperbuat oleh seorang nabi merupakan bentuk kepedulian Tuhan agar mereka merasakan kenikmatan yang diberikan-Nya dengan membebaskan mereka dari siksaan-Nya atas kesalahannya.

Kedua, sebagai bentuk contoh untuk para pendosa agar mereka para pendosa tidak putus atas dalam mengaharap ampunan kepada-Nya di saat mereka bertaubat.

Ketiga, untuk memupuk rasa takut dalam hatinya di saat kesalahan tersebut disebutkan serta membuat mereka tidak hanya bersandar pada ampunan-Nya.

Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here