Tafsir Surah Yusuf 11-18; Kisah Tragis Nabi Yusuf, Dibuang di Dasar Sumur

1
1233

BincangSyariah.Com – Cobaan dan kebahagiaan merupakan perputaran roda takdir seorang insan, sehingga dengan kuasa-Nya semua akan berputar sesuai kehendak-Nya. Nabi Yusuf mengalami cobaan yang begitu tragis. Ia dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman menceritakan kisah tragis Nabi Yusuf tersebut:

قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (11) أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (12) قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ (13) قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ (14) فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (15) وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ (16) قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ (17) وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا   فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Qālụ yā abānā mā laka lā ta`mannā ‘alā yụsufa wa innā lahụ lanāṣiḥụn (11) Arsil-hu ma’anā gaday yarta’ wa yal’ab wa innā lahụ laḥāfiẓụn (12) Qāla innī layaḥzununī an taż-habụ bihī wa akhāfu ay ya`kulahuż-żi`bu wa antum ‘an-hu gāfilụn (13) Qālụ la`in akalahuż-żi`bu wa naḥnu ‘uṣbatun innā iżal lakhāsirụn (14) Fa lammā żahabụ bihī wa ajma’ū ay yaj’alụhu fī gayābatil-jubb, wa auḥainā ilaihi latunabbi`annahum bi`amrihim hāżā wa hum lā yasy’urụn (15) Wa jā`ū abāhum ‘isyā`ay yabkụn (16) Qālụ yā abānā innā żahabnā nastabiqu wa taraknā yụsufa ‘inda matā’inā fa akalahuż-żi`b, wa mā anta bimu`minil lanā walau kunnā ṣādiqīn (17) Qālụ yā abānā innā żahabnā nastabiqu wa taraknā yụsufa ‘inda matā’inā fa akalahuż-żi`b, wa mā anta bimu`minil lanā walau kunnā ṣādiqīn (18)

Artinya:

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya (11)

Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main dan sesungguhnya kami pasti menjaganya (12)

Ya’qub berpesan: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf  amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan srigala, sedang kamu lengah dari padanya (13)  

Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan srigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi (14)

Maka takkala mereka membawanya dan sepakat memasukannya ke dasar sumur (lalu mereka masukan dia), dan (di waktu dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada Yusuf: “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi” (15)

Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis (16)

Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba  dan kami tinggalkan Yusuf  di dekat barang-barang kami, lalu dia di makan srigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (17)

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan” (18)

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari mengartikan yang menginginkan kebaikan dengan makna menjaga dan mengawasi.

 

Bermain-main yang dimaksud ialah berlomba-lomba untuk memanah, sebagaimana telah disampaikan oleh Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir

Maksud kesedihan pada kalimat menyedihkanku ialah persaan sakit yang diterima oleh hati sebab hilangnya sesuatu yang dicintai atau sebab tertimpa sesuatu yang tidak disenangi. Hal sebagaimana penyampaian dari Wahbah al-Zuhaili.

Kekhawatiran pada kalimat aku khawatir diartikan oleh Wahbah al-Zuhaili:

Baca Juga :  Starting Eleven Sepak Bola dan Strategi Perang Rasulullah Saw

والخوف: ألم في نفس مما يتوقع من مكروه

“Kekhawatiran ialah perasaan sakit dalam hati sebab akan tertimpa sesuatu yang tidak disukai”.

Lengah yang dimaksud dari kalimat lengah dari padanya ialah mereka tersibukan dengan permainan dan kesenangan (serta lalai darinya) atau kurang memperhatikanya sebagaimana telah disampaikan oleh Wahbah al-Zuhaili.

Imam al-Thabari memahami kalimat mereka tidak ingat lagi dengan arti mereka tidak mengetahui dan memahami bahwa dia adalah Yusuf. Penyampaian ini senada dengan pemahaman dari Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi:

{وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ} أنك يوسف

“Mereka tidak ingat lagi bahwa kamu adalah Yusuf”. 

Tidak hanya berhenti dalam satu arti, Imam al-Thabari menampilkan pemahaman lain dari para ulama. Dalam penyampaianya bahwa sebagian ulama mengartikanya dengan makna mereka (saudara Yusuf) tidak mengetahui dengan adanya wahyu (bahwa Yusuf kelak akan menceritakan perlakuan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri) dari Tuhan kepada Yusuf. Versi ulama lain mengarahkanya dengan makna mereka tidak mengetahui atas pemberitahuan Tuhan kepada Yusuf bahwa nantinya dia akan menceritakan semua perbuatan saudara-saudaranya kepada mereka sendiri. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 7-10; Kebencian dan Rasa Hasud Saudara Nabi Yusuf)

Imam al-Qurthubi memahami kalimat di sore hari dengan maksud di malam hari. Imam al-Qurthubi menampilkan dua pendapat ulama dalam memahami maksud dari kalimat darah palsu. Dalam penyampaianya, bahwa Mujahid mengartikanya dengan darah dari kambing kecil yang mereka sembelih dan Qatadah memahaminya dengan darah rusa. Imam al-Thabari menyampaikan pendapat Mujahid dalam mengartikan kesabaran yang baik, yaitu kesabaran yang tak berkeluh kesah.

Semasa sudara-saudara Yusuf bersepakat untuk membuangnya ke dalam sumur, mereka mendatangi Ya’qub dan bertanya serta meminta izin dan berpura-pura memiliki niatan baik kepada Yusuf “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main dan sesungguhnya kami pasti menjaganya” (Q.S.Yusuf: 11-12).

Setelah mereka meminta izin kepada sang-ayah, Ya’qub sebagai seorang ayah menyatakan bahwa dirinya merasa berat untuk berpisah dengan Yusuf selama mereka pergi bersamanya, hal ini disebabkan perasaan cinta yang begitu dahsyat dalam benak Ya’qub dikarenakan dia telah melihat tanda kebaikan dan kenabian serta kesempurnaan fisik dan budipekerti Yusuf. Disisi lain, Ya’qub khawatir akan keselamat Yusuf sebab mereka lalai menjaganya dan ia termakan oleh srigala. Kemudian mereka manyahutnya dan menyatakan bahwa dengan jumlah mereka banyak mereka mampu menjaga Yusuf dari ancaman Srigala.

Menurut versi Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi bahwa kekhawatiran Ya’qub atas keselamatan Yusuf dari srigala dikarenakan sebelumnya Ya’qub telah bermimpi bahwa Yusuf diseret oleh srigala.

Imam al-Qurthubi menyampaikan penyampaian Imam al-Kalibi yang menyampaikan pendapat sebagian ulama, dalam pendapat sebagian ulama tersebut bahwa sebelumnya Ya’qub telah bermimpi berada dipuncak gunung dan seakan-akan Yusuf berada pada dasar lembah, tiba-tiba sepuluh srigala mengepung Yusuf dan akan memakanya kemudian satu dari sepuluh srigala tersebut mencegah lainya untuk memakan Yusuf. Kemudian bumi terbelah dan Yusuf masuk dalam belahan bumi tersebut selama tiga hari.

Dalam pandangan sebagian ulama lainya yang disampaikan Imam al-Qurthubi, bahwa Ya’qub khawatir atas perlakuan saudara-saudaranya yaitu mereka akan membunuh Yusuf. Dan saudara-saudara Yusuf disampaikan oleh Ya’qub dengan bahasa lain yaitu srigala.

Sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya, Ya’qub memberikan izin kepada mereka untuk membawa Yusuf bersama-sama pergi ke hutan belantara dan sang-ayah memberikan peringatan dan janji kepada mereka untuk menjaga Yusuf serta memasrahkanya kepada Rubel sebagai putra tertua dari Ya’qub dan berkata “Hai Rubel, Yusuf adalah anak kecil dan kau tau perlakuan kasih sayangku kepadanya; bila dia lapar maka berilah makan, bila haus minumilah dan bila dia lelah bawalah serta tidurkan dan bawa dia kepadaku”.

Baca Juga :  Jejak Islam di Spanyol Selama Tujuh Abad

Ibnu katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan:

إن يعقوب عليه السلام، لما بعثه معهم ضمه إليه، وقَبَّله ودعا له

“Disaat Ya’qub mengirimkan (mempersilahkan) Yusuf beserta saudara-saudaranya, dia memeluk dan mencium serta mendo’akanya”.

Tidak lama kemudian saudara-saudara Yusuf beserta Yusuf bersama-sama berangkat. Ya’qub sebagai seorang ayah, ia mengantarkan mereka sejauh satu mill dari rumah kediaman mereka. Dalam perjalanan mereka selama satu mill bersama Yusuf dan ayahnya, mereka membawa Yusuf di atas bahu mereka secara bergantian. Setelah sampai satu mill dari rumah kediaman mereka, sang-ayah kembali pulang menuju rumah dan Yusuf beserta saudara-saudaranya melanjutkan perjalananya.

Setelah pandangan Ya’qub hilang dari mereka, diantara saudara-saudara Yusuf  yang sedang membawanya di atas bahu mereka, tiba-tiba melempar Yusuf ke tanah hingga dia hampir patah tulang-tulangnya. Lalu Yusuf berlindung kepada saudaranya yang lain dan justru bukan pertolongan akan tetapi kemarahan dan kekejaman yang lebih yang ia terima.

Kemudian Yusuf meminta perlindungan dan pertolongan kepada Rubel dan berkata “Engkau saudara tertuaku, pengganti ayahku dan saudara terdekatku, maka kasihanilah aku dan kelamahanku”. Kemudia Rubel menampar dengan tamparan yang luar biasa kepada Yusuf dan berkata “Tidak ada kedekatan antara aku dan kau, panggilah sebelas bintang maka mereka akan menyelamatkanmu dari kami”.

Kemudian Yusuf bergantung kepada Yahudza dan berkata “Wahai saudaraku, kasihanilah kelemahan dan umurku yang masih kecil, dan kasihanilah ayahmu Ya’qub”. Kemudian kelembutan hati Yahudza muncul dan dia memberikan saran untuk mengembalikan Yusuf kepada ayahnya serta memberikan ancaman dan janji agar Yusuf tidak menceritakan semua yang dialaminya kepada Ya’qub.

Namun sebagian saudara Yusuf lainya menolak usulan Yahudza, oleh karenanya Yahudz berkata “Bila kalian tidak menerima usulanku maka disini ada lubang sumur sebagai tempat ular dan binatang berbisa, masukan dia ke dalamnya”. Saudara-saudara Yusuf lainya sepakat atas usulan tersebut.

Dari kesepakatan mereka, akhirnya Yusuf segera dimasukan ke dalam ember atau timba dan memasukanya ke dalam sumur. Saat Yusuf memasuki sumur dengan posisinya di dalam timba, ia memegang tepi sumur tersebut lalu saudara-saudaranya memegangi tangannya serta melapaskan bajunya dan Yusuf berkata “Hai saudaraku!, kembalikan bajuku”. Kemudian mereka membalas “Panggilah matahari, rembulan dan sebelas bintang, maka mereka akan mendengarkanmu”.

Lalu mereka kembali meneruskan untuk memasukan Yusuf ke dalam dasar sumur. Di saat sampai pada tengan lubang sumur, mereka menjatuhkan Yusuf yang berada di dalam timba dengan niatan agar dia meninggal. Ternyata di dalam sumur tersebut terdapat air dan dia jatuh ke dalam air dan berlindung pada batu besar yang ada di permukaan air sumur tersebut lalu berdiri dan menangis serta mengundang saudara-saudaranya dengan harapan mereka akan menolongnya. Namun mereka mengabaikanya dan hendak melemparinya dari atas permukaan sumur dengan batu agar dia meninggal. Lalu Yahudz mencegah mereka membunuhnya dengan lemparan batu dan memberikan (melempari)nya makanan.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan penyampaian Imam Wahab yang berkata; disaat Yusuf berdiri di atas batu (di dalam sumur) dia berkata “Hai saudara-saudara, tiap mayat meninggalkan wasiat. Dengarkanlah wasiatku”. Mereka berkata “Apa itu?”. Yusuf berkata “Ketika kalian beriang gembira maka ingatlah kesusahanku, ketika makan ingatlah kelaparanku, ketika minum ingatlah kehausanku, ketika melihat seorang pengembara ingatlah pengembaraanku, ketika melihat seorang pemuda ingatlah masa mudaku”. Kemudian Jibril berkata “Hai Yusuf, berhentilah dari perkataan tersebut dan berdo’alah”. Lalu Jibril mengajarinya sebuah do’a:

اللّهُمَّ يَا مُؤْنِسَ كُلِّ غَرِيْبٍ ، وَيَا صَاحِبَ كُلِّ وَحِيْدٍ ، وَيَا مُلْجَأَ كُلِّ خَائِفٍ ، وَيَا كَاشِفَ كُِّل كَرْبَةٍ ، وَيَا عَالِمَ كُلِّ نَجْوَى ، وَيَا مُنْتَهَى كُلِّ شَكْوَى ، وَيَا حَاضِرَ سِرِّ كُلِّ مَلَأٍ ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَسْأَلُكَ أَنْ تَقْذِفَ رَجَاءَكَ فِيْ قَلْبِيْ ، حَتَّى لَا يَكُوْنَ لِيْ هَمٌّ وَلَا شُغْلٌ غَيْرُكَ ، وَأَنْ تَجْعَلَ لِيْ مِنْ أَمْرِيْ فَرْجًا وَمَخْرَجًا ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ

Baca Juga :  Hukum Mewarnai Rambut

Allahmumma ya munisa kulli gharib, wa yashahiba kulli wahid, way a malja’a kulli khaif, way a kasyifa kulli karbin, way a ‘alima kulli najwa, wa ya muntaha kulli syakwa, wa ya hadlira sirri kulli mal’in, ya hayyu ya qayyum ‘as’aluka antaqdzifa raja’aka fi qalbi hatta la yakuna li hammu wa la syughlun ghairuk wa antaj’ala li min amri farjan ma makhrajan innaka ‘ala kulli syai’in qadir.

Kemudian para malaikat berkata “Wahai Tuhan kami, kami mendengarkan suara dan do’a. suara tersebut adalah suara anak kecil dan do’a tersebut adalah do’a seorang nabi”.

Tuhan dengan kekuasaan-Nya, memberikan wahyu ilham kepada Yusuf di saat dia berada di dasar sumur dan mereka tidak mengetahui hal itu. Tuhan memberikan wayhu ilham tersebut sebagai penenang hati Yusuf dan supaya dia tidak bersedih bahwa Yusuf akan menemukan jalan dan pertolongan dari Tuhan serta dia kelak akan mengkabarkan perbuatan buruk mereka kepada mereka sendiri sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa dia adalah Yusuf. Hal ini merupakan janji terselamatkanya Yusuf dari cobaan ini dan sebagai bentuk pertolongan-Nya  serta mereka kelak akan berada dibawah kekuasaanya.

Setelah saudara-saudara Yusuf memasukannya ke dasar sumur, mereka kembali kepada Ya’qub di malam hari dengan berpura-pura meneteskan air mata kesedihan dan menyampaikan bahwa Yusuf disaat mereka memanah, Yusuf ditinggal beserta barang-barang bawaan untuk menjaga barang tersebut dan dia dimakan oleh srigala. Dan untuk menguatkan kebohonganya, mereka membawa barang bukti yaitu baju Yusuf yang telah dilumuri darah rusa.

Dengan kekuasaan dan kehendakNya, Tuhan membuat mereka lupa tidak merobek-robek baju Yusuf sebagai bukti bahwa Yusuf termakan oleh srigala. Ya’qub tidak mempercayai perkataan mereka sebab bila benar Yusuf termakan srigala, seharusnya baju tersebut berlumuran darah dan terobek-robek. Pada akhirnya Ya’qub berpaling dari mereka dan berkata ““Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan(Q.S.Yusuf: 18).

Beberapa hal potisif yang dapat dipetik dari kisah di atas ialah:

Pertama, rahmat dan kasih sayang-Nya akan selalu dekat dengan mereka yang berbuat baik, sehingga Tuhan tidak akan membiarkan seseorang yang terzalimi hingga Dia menolongnya dan tidak akan membiarkan hati yang kesusahan kecuali Dia menenangkan dan membahagiakannya.

Kedua, Tangisan seseorang tidak dapat membenarkan perkataanya, sebab berkemungkinan tetesan air mata tersebut adalah air mata dusta (dibuat-buat). Wahbah al-Zuhaili berkata:

فمن الخلق من يقدر على ذلك، ومنهم من لا يقدر

“Sebagian dari manusia ada yang mampu melakukan tetesan air mata dusta dan sebagian lainya ada yang tidak bisa membuat-buat tetesan air mata”.

Ketiga, dari kisah pakaian yang terlumuri darah, memberikan pengertian hukum diperbolehkanya memutuskan masalah-masalah fiqh berdasarkan tanda-tanda yang ada. Sebagaimana Ya’qub menganggap pernyataan anak-anaknya adalah kedustaan bertendensi atas selamatnya pakaian Yusuf (tidak terobek-robek).

Keempat, bersabar dan memohon pertolongan kepada-Nya atas sebuah kezaliman, cobaan dan musihan akan membawa kekebahagiaan setelah kesusahan.

Kelima, kesabaran yang baik adalah kesabaran yang tidak berkeluh kesah dan dia meyakini bahwa yang menurunkan cobaan adalah Tuhan Yang Maha Merajai.

ولا يكون الصبر جميلا ما لم يكن فيه رضا بقضاء اللّه وقدره

“Bukan merupakan kesabaran yang baik kecuali dia rela dengan kepastian (ketentuan) Allah Swt”.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Artinya: Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seseorang mengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: “Oh kabar gembira, ini seorang anak muda!” kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf (Q.S.Yusuf: 19-20) (Baca: Tafsir Surah Yusuf 11-18; Kisah Tragis Nabi Yusuf, Dibuang di Dasar Sumur) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here