Tafsir Surah Yusuf 109-111; Kesuksesan Nabi Yusuf Setelah Diuji oleh Allah

0
58

BincangSyariah.Com – Kesuksesan dalam perjuangan tidak bisa terlepas dari pertolongan Tuhan sekalipun mereka adalah rasul. Tidak sedikit kesuksesan yang muncul tanpa diduga, termasuk dalam kisa Nabi Yusuf yang sukses menjadi seorang raja. Kesuksesan Nabi Yusuf atas pertolongan Allah ini tergambar sebagaimana dalam firman-Nya:

وَما أَرْسَلْنا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجالاً نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرى أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كانَ عاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَدارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا أَفَلا تَعْقِلُونَ

حَتَّى إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جاءَهُمْ نَصْرُنا فَنُجِّيَ مَنْ نَشاءُ وَلا يُرَدُّ بَأْسُنا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

لَقَدْ كانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبابِ ما كانَ حَدِيثاً يُفْتَرى وَلكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya? (109)

Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah menyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa (110)

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (111)

Arti dari penduduk negeri  adalah penduduk kota (selain penduduk pedalaman) menurut Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir.

Arah dari kata mereka dalam kalimat mereka bepergian adalah penduduk makkah dalam padangan Wahbah al-Zuhaili. Lain halnya dengan Wahbah al-Zuhaili, Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir mengarahkannya pada arti orang-orang yang mendustakan Muhammad Saw.

Baca Juga :  Syaikh Ibnu Taimiyah, Sosok Ulama Hebat tapi Banyak yang Tak Suka

Dalam penyampaian Wahbah al-Zuhaili, maksud dari orang-orang yang Kami kehendaki adalah nabi dan orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang berdosa adalah orang-orang musyrik.

Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menyampaikan perselisihan ulama dalam memahami maksud dari kisah-kisah mereka. Dalam penyampaiannya, sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kisah Yusuf dan saudara-saudara beserta ayahnya. Dan kisah para rasul menurut ulama lainya. Namun dalam pandangan al-Razi bahwa yang lebih utama diarahkan pada arti kisah Yusuf.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi bahwa yang dikehendaki dari kata “itu” dalam kalimat itu bukanlah cerita yang dibuat-buat adalah al-Qur’an atau kisah Yusuf.

Allah Swt. tidaklah menjadikan makhluknya sebagai nabi maupun rasul kecuali dari seorang laki-laki. Dan seorang nabi maupun rasul tersebut tidak diambilkan oleh-Nya dari penduduk pedalaman atau padang pasir. Hal ini disebabkan penduduk pedalaman identik dengan kebodohan dan kerasnya hati. Dan selain pedalaman memiliki watak yang halus dan sikap lemah lembut. Oleh karenanya dalam surah al-Taubah ayat Sembilan puluh tujuh Allah berfirman “Orang-orang Badwi itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya”.

Berikutnya, Allah Swt. memperingatkan orang-orang yang mendustakan Muhammad. Mereka agar melihat dan berfikir tentang bagaimana akhir dari perjalanan umat-umat yang telah mendustakan para utusan, seperti kaum nabi Nuh, Hud, Sholih, Luth dank aum kafir lainya.

Allah Swt. mendorong untuk beramal akhirat. Sebagaimana keselamatan di dunia telah di karuniakan kepada kaum mukmin  di dunia, mereka orang-orang yang beriman juga kelak akan memperoleh keselamatan di akhirat. Kehidupan akhirat lebih baik daripada dunia sebab kenikmatan akhirat lebih sempurna dan kekal daripada kenikmatan dunia.

Allah memberikan ancaman kepada kaum kafir Quraisy dan sesamanya yang tidak beriman dengan Muhammad. Dalam ancaman tersebut, bahwa pada saat para utusan tidak lagi memiliki harapan atas keimanan kaumnya atau datangnya pertolongan kepada kaumnya sebab keasyikan mereka dalam kekufuran, dan para utusan berkeyakinan bahwa umatnya telah mendustakan adanya janji atas datangnya pertolongan, maka Allah Swt. menurunkan pertolongan-Nya dengan tiba-tiba. Kemudian nabi dan orang-orang yang beriman diselamatkan-Nya dan dilepaskan-Nya siksa untuk mereka orang-orang kafir.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 46-49; Takbir Mimpi Sapi Betina Gemuk

Berikutnya disebutkan bahwa al-Qur’an yang memuat kisah Yusuf dan lainya atau kisah Yusuf dan lainya yang dimuat dalam al-Qur’an bukan merupakan cerita yang dibuat-buat dan penuh kebohongan, sebab semua itu adalah wahyu dan membenarkan kandungan-kandungan kitab-kitab samawiyah seperti Taurat, Injil dan Zabur dan menolak perubahan di dalamnya.

Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu mulai dari permasalah halal-haram, baik-buruk, larangan-perintah, janji-ancaman, sifat-sifat Allah dan berbagai cerita kisah para nabi. Begitupula sebagai petunjuk untuk manusia dan jin. Menunjukan kepada jalan kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan dan sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin di dunia dan akhirat.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal yang dapat diambil dari kandungan ayat-ayat di atas sebagai berikut:

Pertama, nabi pastilah seorang laki-laki dan bukan dari golongan jin maupun malaikat.

Kedua, para nabi tidak diambilkan oleh-Nya dari penduduk padang pasir/pedalaman .

Ketiga, tengoklah tipu muslihat umat-umat yang mendustakan nabi mereka dan ambilah pelajaran darinya.

Keempat, ayat ke seratus sepuluh mengandung pengsucian para nabi dari hal yang tidak layak bagi mereka.

Kelima, kisah-kisah umat terdahulu seperti kisah Yusuf dengan saudara-saudara dan ayahnya, menyimpan banyak petuah bagi orang-orang yang berakal.

Keenam, al-Qur’an merupakan kalam yang tidak dapat ditandingi dan manusia tidak mampu membuatnya (sekalipun seorang nabi) dan bukanlah cerita yang penuh kedustaan. Begitupula kisah Yusuf yang dimuat didalamnya.

Sebagai penutup, kami sebagai penulis artikel ini menyampaikan bahwa imam Fakhruddin Muhammad bin Umar al-Tamimi al-Razi al-Syafi’i pengarang kitab Mafatihu al-Ghaib yang sering disebut dengan imam al-Razi, beliau sewaktu selesai menafsiri surat Yusuf ini pada hari rabu tanggal tujuh Sya’ban berkata dalam karyanya:

Baca Juga :  Sejarah Pertama Kali Terjadi Pemalsuan Hadis

وقد كنت ضيق الصدر جداً بسبب وفاة الولد الصالح محمد  — وأنا أوصي من طالع كتابي واستفاد ما فيه من الفوائد النفيسة العالية أن يخص ولدي ويخصني بقراءة الفاتحة   — فإني كنت أيضاً كثير الدعاء لمن فعل ذلك في حقي

Sungguh (pada tanggal tersebut) hatiku dalam kesedihan yang mendalam sebab wafatnya anakku yang saleh (bernama) Muhammad. Aku berpesan pada siapapun yang mempelajari kitabku dan mengambil kemanfaatan yang luhur (dari kitab ini) agar berkenan membacakan surah al-Fatihah untuk aku dan putraku, maka aku banyak mendoakan kepada siapapun yang telah melakukannya”. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here