Tafsir Surah Yusuf 102-108; Kegigihan Nabi Muhammad Mengajak Umatnya

0
11

BincangSyariah.Com – Beribu-ribu cara Nabi Muhammad Saw. lakukan dalam mengajak umatnya untuk beriman mengikuti ajaran-Nya, baik dengan cara mengajak langsung atau menceritakan kisah. Ini tertulis dalam Al-Qur’an surah Yusuf 102-108:

ذلِكَ مِنْ أَنْباءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَما كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

وَما أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِين

وَما تَسْئَلُهُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ لِلْعالَمِين

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْها وَهُمْ عَنْها مُعْرِضُونَ

وَما يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ

أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ غاشِيَةٌ مِنْ عَذابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

قُلْ هذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحانَ اللَّهِ وَما أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya dan mereka sedang mengatur tipu daya (102)

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya- (103)

Dan kamu sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), hal tersebut tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam (104)

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya (105)

Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain) (106)

Apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? (107)

Katakanlah: “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (108)

Kandungan Tafsir Surah Yusuf 102-108

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan bahwa arah dari kalimat demikian itu adalah kisah cerita Nabi Yusuf As.

Baca Juga :  Dinasti Fatimiyyah, Awal Kemajuan Hingga Keruntuhannya

Menurut Wahbah al-Zuhaili, mereka yang dimaksud adalah saudara-saudara Yusuf As. Rencananya ialah niat dan kesepakatan mereka untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur, menurut Wahbah al-Zuhaili.

Sebagian besar manusia yang dikehendaki ialah orang-orang kafir Quraisy dan kelompok Yahudi, menurut imam al-Razi dalam karyanya Mafatih al-Ghaib.

Wahbah al-Zuhili menyampaikan tentang maksud dari kalimat hal tersebut adalah al-Qur’an, dan pengajaran yang dimaksud adalah mau’idzoh atau petuah. Sedangkan arti bagi semesta alam ialah bagi manusia dan jin.

Arti dari melaluinya adalah menyaksikanya, dan berpaling daripadanya ialah tidak memikirkan dan mempertimbangkan, sebagaimana penyampaian Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya.

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya menyampaikan bahwa arti dari kepada Allah adalah kepada agama Allah, dan orang-orang yang mengikutiku adalah orang-orang yang beriman denganku.

Semua kisah Nabi Yusuf As. yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. merupakan sebuah wahyu dari Allah Swt. Dengan kisah yang telah diwahyukan oleh-Nya kepada Muhammad, hati Muhammad akan semakin kukuh dan sabar dalam menghadapi kejahatan dan kerasnya hati kaumnya dalam menerima ajaknya.

Muhammad dapat menceritakan kisah panjang Yusuf tanpa mengubah dan salah dengan tanpa melihat buku, berguru serta tidak berada di sisi mereka, tidak lain merupakan mukjizat baginya. Dari mukjizat ini banyak menyimpan petuah, namun kebanyakan manusia tidak membenarkan ajakan dan kerasulan Muhammad.

Kafir Quraisy dan kelompok orang-orang Yahudi menuntut Muhammad untuk menceritakan kisah Yusuf, Muhammad berkeyakinan dengan disampaikanya kisah tersebut maka mereka semua akan beriman. Ketika kisah tersebut telah diceritakan oleh Muhammad, mereka semua tetap berhati keras dan tidak beriman.

Pada akhirnya Allah Swt. menurunkan ayat 103 dalam surah Yusuf yang memberikan isyarah makna terhadap ayat lain “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash).

Baca Juga :  Mengenal Fakhruddin Al-Razi, Sosok Ulama Tafsir Multidisipliner Abad Ke-5

Kemudian Allah Swt. menepis alasan orang-orang musyrik untuk tidak menerima ajakan Muhammad sebab dalam dakwahnya, Muhammad tidak meminta imbalan dan semata demi kebaikan makhluk baik jin maupun manusia serta menggapai ridha-Nya.

Banyak di antara mereka yang enggan serta lalai untuk berfikir serta menghayati tanda-tanda kebesaran Tuhan yang menunjukan kekuasaan dan ke-Esaan-Nya sehingga mereka tetap dalam keadaan tidak beriman kepada-Nya atau mempersekutukan-Nya. Pada akhirnya Allah Swt. memberikan peringatan dan ancaman kepada para musyrikin.

Setiap penyembahan dan pensucian serta pengagungan kepada selain Allah Swt. adalah kesyirikan. Nabi Saw.bersabda:

يقول اللّه: أنا أغنى الشّركاء عن الشّرك، من عمل عملا أشرك فيه معي غيري، تركته وشركه

Allah berseru “Aku tidak butuh sekutu, barang siapa beramal dan mempersekutukanku dalam amal tersebut maka aku akan meninggalkan dirinya dan sekutunya” (HR.Muslim).

Dalam hadis lain Nabi Saw.berkata:

إذا جمع اللّه الأوّلين والآخرين ليوم لا ريب فيه، ينادي مناد: من كان أشرك في عمل عمله للّه، فليطلب ثوابه من عند غير اللّه، فإن اللّه أغنى الشّركاء عن الشّرك

Ketika Allah Swt. mengumpulkan orang-orang dahulu dan akhir di hari kiamat, seorang penyeru berseru “Barang siapa dalam beramal menyekutukan Allah, maka mintalah pahala dari selain Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sekutu” (HR.Ahmad).

من حلف بغير اللّه فقد أشرك

“Barang siapa bersumpah demi selain Allah (berniat mengagungkan selain Allah sebagaimana mengagungkan-Nya) maka sungguh telah mempersekuukan(Nya)” (HR.al-Turmudzi).

إن أخوف ما أخاف عليكم الشّرك الأصغر، قالوا: وما الشّرك الأصغر يا رسول اللّه؟ قال: الرّياء، يقول اللّه تعالى يوم القيامة: إذا جاز النّاس بأعمالهم، اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدّنيا، فانظروا، هل تجدون عندهم جزاء؟

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 7-10; Kebencian dan Rasa Hasud Saudara Nabi Yusuf

Nabi berkata “Sungguh hal paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil”. Para sahabat bertanya “Apa syirik kecil itu ya rasul?”. Nabi menjawabnya “Riya’. Allah berkata di hari kiamat pada saat manusia menerima balasan dari amal mereka “Pergilah kalian semua kepada orang-orang yang pamer di dunia, lihatlah!, apakah kalian melihat balasan di sisi mereka?”

 يا أيها النّاس، اتّقوا هذا الشّرك، فإنه أخفى من دبيب النّمل, ثم بيّن للصحابة كيف يتّقى الشّرك الخفي، فقال: «قولوا: اللّهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه، ونستغفرك لما لا نعلمه

Nabi berkata “Hai manusia, takutlah terhadapat syirik ini, karena sungguh lebih samar dari langkah semut”, lalu Nabi menjelaskan kepada para sahabat tentang bagaimana cara membentenginya dan berkata “ Ucapkanlah; Allahumma inna na’udzubika min an-nusyrika bika syaian na’lamuhu wa-nastaghfiruka lima la na’lamuhu”.

Dari ayat-ayat di atas, Wahbah al-Zuhaili dalam karya al-Tafsir al-Munir menyampaikan beberapa hal penting di antaranya:

Pertama, kisah para nabi yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. merupakan sebuah mukjizat baginya.

Kedua, semua nabi menyampaikan wahyu dengan didasari hati yang ikhlas dan demi keridloan-Nya tanpa mengharapkan upah dan imbalan dari makhluk-Nya.

Ketiga, wahyu al-Qur’an merupakan petuah, nasihat dan mau’idzoh untuk alam semesta dan tidak hanya untuk bangsa Arab.

Keempat, keimanan orang musyrik merupakan kekeliruan dan kebatilan, sebab mereka mengakui wujudnya Allah Swt. namun  penyembahannya kepada para berhala.

Kelima, kedatangan siksa dan hari kiamat secara tiba-tiba tanpa seorangpun mengetahuinya.

Keenam, thariqah, sunnah dan dasar pemikiran Muhammad dan pengikutnya ialah mengajak kepada hal yang mendatangkan dirinya kepada surga dengan yakin.

Ketujuh, agama disebut sebagai jalan dikarenakan agama merupakan jalan menuju pahala.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here