Tafsir Surah Yusuf 101; Doa Nabi Yusuf Mohon Wafat Tetap Menjadi Muslim

0
53

BincangSyariah.Com – Setelah Yusuf dapat berkumpul kembali dengan keluarga besarnya dan dikelilingi dengan anugerah dari-Nya, dia membaca doa kepada Allah. Inilah doa Nabi Yusuf yang Allah Swt. ceritakan dalam Al-Qur’an surah Yusuf 101:

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحادِيثِ فاطِرَ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh (101).

Kandungan Tafsir Surah Yusuf 101

Maksud dari kalimat orang-orang yang saleh dalam doa Nabi Yusuf di atas itu secara umum adalah para nabi dan utusan, dan terkhusus para leluhur Yusuf yaitu Ibrahim, Isma’il, Ishak dan Ya’qub. Penyampaian ini sebagaimana telah dituliskan oleh Wahbah al-Zuhaili dalam  al-Tafsir al-Munir.

Sejarah perjalanan hidup para nabi penuh dengan petuah dan suritauladan yang luhur, di antaranya Yusuf. Sebagian kecil karunia yang telah diterimanya ialah dia telah dikaruniai berbagai kenikmatan dunia berupa kekuasaan, kerajaan dan ta’bir mimpi, namun semua itu tidaklah menghalanginya untuk mencari ridha Allah Swt. Hal ini dilakukanya sebab tolak ukur dari akhir yang baik adalah menuai keridloanya kelak dan mendapatkan kenikmatan akhirat.

Dan sebagai seorang nabi, Yusuf memohon kepada-Nya agar memberikanya derajat para nabi dan utusan. Di sisi lain, dia meminta kepada-Nya agar dikaruniai kematian dalam keadaan islam. (Baca: Tafsir Surah Yusuf 99-100; Mimpi Yusuf Menjadi Kenyataan)

Dalam sebuah riwayat yang disampaikan al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib bahwa Ya’qub hidup bersama Yusuf di tanah Mesir selama dua puluh empat tahun. Semasa kematian Ya’qub telah mendekatinya, dia berwasiat kepada Yusuf agar nantinya dia dikuburkan di tanah Syam di sebelah makam Nabi Ishak.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 19-20; Nabi Yusuf Selamat dari Dasar Sumur

Dengan berjalannya waktu, kematian mendatangi Ya’qub. Yusuf sebagai seorang anak menjalankan wasiat ayahnya dan memakamkanya sesuai apa yang telah diwasiatkan kepadanya. Pada saat inilah Yusuf berharap agar kematian menjemputnya. Dalam penyampaian ulama bahwa tidak seorang nabipun yang mengharapkan kematian kecuali Yusuf.

Wahbah al-Zuhaili menyampaikan bahwa dalam syariat Nabi Muhammad, mengaharapkan kematian merupakan sebuah tindakan yang dilarang oleh agama. Sebagaimana Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Saw. bersabda:

لا يتمنى أحدكم الموت، ولا يدع به من قبل أن يأتيه، إنه إذا مات أحدكم انقطع عمله، وإنه لا يزيد المؤمن عمره إلا خيرا

“Tidak selayaknya kalian mengharapkan kematian dan berdo’a kematian sebelum (kematian) mendatangi kalian. Sesungguhnya ketika kalian meninggal dunia maka terputuslah amal dan tidaklah seorang mukmin bertambah umurnya kecuali lebih baik” (HR.Ahmad dan Muslim).

Dalam hadis lain disampaikan:

لا يتمنين أحدكم الموت لضرّ نزل به، فإن كان لا بدّ متمنّيا، فليقل: اللّهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي، وتوفّني إذا كانت الوفاة خيرا لي

Tidak diperkenankan bagi kalian mengharapkan kematian sebab sebuah malabahaya yang menimpanya, apabila diharuskan menghadarapkanya maka berdo’alah “Wahai Tuhanku, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah aku bila kematian lebih baik untukku”.

Pada saat kematian telah menjemput Yusuf, para pembesar tanah Mesir saling bersilang pendapat dan bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing hingga akan terjadi pertikaian diantara mereka, dalam perselisihanya agar Yusuf dimakamkan di tempat mereka masing-masing.

Pada akhirnya, mereka mengambil jalan terbaik yaitu memasukan jasad Yusuf kedalam peti yang terbuat dari batu marmer dan membuat liang kubur  di tanah yang di aliri arus air sungai Nil. Hal ini bertujuan agar arus air sungai Nil yang melewati makam Yusuf dapat mengalir hingga tanah Mesir sehingga keberkahan Yusuf masih tetap mengaliri penduduk Mesir.

Baca Juga :  Hari Raya Ketupat; Khazanah Islam Nusantara yang Terus Dilestariskan

Dari doa Nabi Yusuf di atas, imam al-Razi menyampaikan beberapa hal di antaranya:

Pertama, sesuatu yang wujud terbagi menjadi tiga: pertama, wujud dan dapat berpengaruh kepada yang lain namun tidak akan menerima pengaruh dari yang lain. Ini adalah Tuhan yang Maha Luhur dan Suci. Kedua, wujud dan menerima pengaruh dari yang lain namun tidak berpengaruh. Demikian adalah jasad.

Jasad merupakan sesuatu yang wujud, menerima pengaruh dan hasil dari lainya dalam bentuk dan sifatnya. Namun jasad tersebut tidak memberikan pengaruh apapun kepada yang lain. ketiga, wujud dan berpengaruh serta menerima pengaruh dari yang lain. Hal ini adala alam arwah, arwah mengatur dan mengendalikan jasad serta termonitor dan merupakan atsar (hasil) yang diciptakan oleh Tuhan.

Kedua, iman dan ketaatan merupakan pemberian dari Tuhan sebab Dia adalah pelindung dan penguasa di dunia dan akhirat. Sebagaimana permohonan Yusuf kepada-Nya  “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam”.

Ketiga, dalam pandangan Ahli Mukasyafah bahwa jiwa yang dipenuhi cahaya ketuhanan akan saling memancarkan cahaya kepada sesama, sehingga cahaya yang dimilikinya akan lebih kuat.

Sebagaimana matahari memancarkan cahayanya kepada kaca dan kaca itu akan memancarkan cahaya tersebut pada kaca lainya begitu pula sebaliknya, sehingga pancaran masing-masing akan semakin kuat dan bekilau. Oleh karenanya Yusuf sebagai seorang nabi memohon kepadanya agar dikaruniai derajat para nabi dan rasul.

Keempat, Nabi Saw. bersabda:

من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين

“Barang siapa berdzikir (menyebut) Aku menyibukanya dari memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya lebih utama (dari pada) hal yang diminta oleh para pemohon”.

Dari kandungan hadis ini, bahwa seseorang yang hendak berdoa haruslah memuji-Nya terlebih dahulu. Ini sebagaimana doa Nabi Yusuf yang memuji-Nya “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat” kemudian dia berdo’a memohon kepada-Nya “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh”.  Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here