Tafsir Surah an-Nisa Ayat 1: Mengungkap Asal Penciptaan Wanita

1
1271

BincangSyariah.Com – Banyak pendapat tentang asal penciptaan wanita, bahkan al-Qur’an pun menjelaskan hal tersebut. Surah al-Nisā’ ayat 1 menjelaskan bahwa wanita diciptakan dari nafs wahidah. Pemahaman para mufassir tentang istilah Nafs wahidah sangat bervariasi, sebagaimana dijelaskan di bawah:

Allah Swt berfirman dalam surah an-Nisa ayat 1:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Untuk memahami ayat tersebut khususnya istilah nafs wahidah, ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa penciptaan Hawa berasal dari bagian tubuh Adam yaitu tulang rusuk yang bengkok yang terdapat di sebelah kiri atas. Pendapat ini berasal dari pendapat mayoritas ulama terdahulu sebagaimana dikatakan oleh Nasaruddin Umar dalam Argument Kesetaraan Jender. Mereka berpendapat bahwa kata nafs wahidah pada ayat tersebut dipahami dengan makna Adam, sehingga kata minhā kembali kepada kata ganti (damir) “hā” yaitu kepada Adam. Pendapat ini sejalan dengan hadis Nabi dari Abu Hurairah:

سْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

Berwasiatlah untuk (memperlakukan baik) kaum wanita. Karena perempuan tercipta dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dalam tulang rusuk adalah paling atasnya. Jika kamu ingin meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Jika kamu membiarkannya, maka ia akan bengkok terus. Karenanya, berwasiatlah untuk memperlakukan baik kaum wanita” (HR. Bukhari).

Hadis di atas secara tekstual menjelaskan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. M.Quraish Shihab dalam Wawasan al-Quran menjelaskan bahwa meskipun hadis tersebut adalah shahih, namun untuk memahami hadis tersebut harus dipahami secara metafor. Hadis tersebut dapat dipahami bahwa “perempuan tercipta dari tulang rusuk” merupakan peringatan agar kaum pria bersikap bijaksana terhadap kaum wanita.

Hal ini disebabkan karena terdapat sifat dan karakter wanita yang tidak sama dengan pria yang sifat itu dapat mengantarkan pria berbuat tidak wajar terhadap wanita. Karakter dan sifat bawaan tersebut tidak mudah bagi kaum wanita untuk merubahnya. Kalaupun berupaya untuk merubahnya, akan berakibat fatal, sebagaimana fatalnya tulang rusuk yang bengkok.

Hal serupa juga dikatakan oleh Hamka dalam Tafsir al-Azhar. Ia mengatakan bahwa hadis tersebut hendaklah dipahami dengan makna kiasan, yaitu perangai yang menyerupai tulang rusuk. Hamka dengan tegas menolak pendapat yang mengatakan bahwa penciptaan wanita (Hawa) berasal dari tulang rusuk, apalagi tulang rusuk pasangan atau suaminya.

Hamka menambahkan, bahwa yang berkeyakinan tentang Hawa berasal dari ulang rusuk Nabi Adam adalah bangsa Ibrani umumnya dan kaum Yahudi khusunya. Dasar mereka adalah kitab Kejadian, yang menurut kepercayaan mereka adalah salah satu dari lima Kitab yang sebenarnya Taurat.

Hamka bersepakat dengan pendapat kedua dengan menafsirkan kata nafs wāhidah dalam surah al-Nisā’ ayat 1 diartikan dengan “satu diri”. Sehingga dijelaskan bahwa semua manusia adalah “satu” yaitu satu kemanusiaan dengan Tuhan. “Satu” oleh Zaitunah dalam Tafsir Kebencian diartikan sebagai jenis yang satu, sehingga pasangan Adam yaitu Hawa diciptakan pula dari bahan yang sama.

Sejalan dengan pendapat di atas al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi dan Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar juga menjelaskan bahwa ayat ini mengungkap tentang asal mula manusia yang berasal dari zat yang sama yang diistilahkan oleh al-Qur’an sebagai nafs wahidah.

Nafs wahidah merupakan simbol bahwa semua manusia berasal dari satu sifat kemanusiaan yang semuanya menginginkan kebaikan dan menghindari keburukan, meskipun mereka berasal dari golongan yang berbeda. Sifat kemanusiaan itulah yang menyatukan manusia, Ukasyah al-Tibbi berpandangan bahwa pandangan Islam terhadap asal kejadian pria atau wanita adalah nafs wāhidah yang darinya Tuhan menciptakan makhluk manusia berpasangan (Adam dan Hawa).

Penjelasan-penjelasan di atas dapat dipahami bahwa wanita (Hawa) diciptakan oleh Allah dari satu bahan yang sama dengan laki-laki (Adam) yang al-Qur’an menyebutnya dengan istilah nafs wahidah.

1 KOMENTAR

  1. Dengan ayat di atas sangat jelaslah muslimin dan muslimat/mukminin dan mukminat bahwa siti hawa diciptakan dari sel adam sendiri yg sempurna itu.Allah memberikan nama (hawa) tidak sembarangan tetapi memiliki makna tertentu agar kita mengerti.
    dari diri yg satu yaitu adam dan ayat berikutnya surat al insan ayat 2.
    نَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
    innā khalaqnal-insāna min nuṭfatin amsyājin nabtalīhi fa ja’alnāhu samī’an baṣīrā
    Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

    yg bercampur di surga tanpa berhubungan dan bercampur di dunia dengan berhubungan.
    surat an-Nisa soal wanita yaitu hawa dan surat al insan yaitu adam/hawa beserta keturunan mereka.

    jelaslah sudah mari kita mengakui kebesaran Allah S.W.T ,sudah waktunya.

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here