Tafsir Surah an-Nisa 65; Tiga Syarat Kesempurnaan Iman

0
419

BincangSyariah.Com –Surah an-Nisa ayat 65 menjelaskan tiga syarat kesempurnaan iman. Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Asbabun Nuzul

As-Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbabi an-Nuzul menyampaikan dua riwayat sebab nuzul dari ayat di atas.

Riwayat Pertama

Suatu ketika Zubair bersengketa dengan salah seorang sahabat Anshar (Hathib bin Abi Baltha’ah atau Sta’labah bin Hathib) tentang Syiraj al-Harrah (aliran air di sebuah lahan yang bercampur batu hitam).

Rasulullah kemudian memerintahkan Zubair untuk mengairi lahannya terlebih dahulu, kemudian dialirkan ke lahan tetangganya.

Sahabat Anshar itu lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Apakah karena Zubair adalah putra dari bibimu?

Raut muka Rasulullah seketika berubah, kemudian beliau bersabda, “Siramilah lahanmu wahai Zubair, kemudian tahanlah air tersebut sampai memenuhi tanggul. Setelah itu, alirkan ke tetanggamu”. Dengan demikian Rasullah menyempurnakan hak Zubair untuk mengalirkan air di kebunnya sampai penuh.

Menurut Zubair, ayat di atas di turunkan berhubungan dengan kasus di atas.

Riwayat Kedua  

Dua orang bersengketa kemudian meminta keputusan hukum kepada Rasulullah Saw. Rasulullah kemudian memberi keputusan. Setelah itu, pihak yang kalah mengatakan, “Kembalikan kami kepada Umar bin Khattab”.

Mereka berdua kemudian mendatangi Umar, kemudian pihak yang menang mengatakan, “Rasulullah telah memenangkan diriku dan mengalahkan dia, lalu dia mengatakan ‘kembalikan kami pada Umar’”.

Baca Juga :  Abdul Qahir al-Baghdadi dan Puncak Penulisan Ilmu Kalam Mutakadimin

Apa benar seperti itu?” tanya Umar.

Pihak yang kalah menjawab, “Benar”.

Tetap saja di tempatmu sampai aku kembali dan memberi keputusan antara kalian berdua”. Pesan Umar.

Setelah itu Umar kembai menemui keduanya sambil membawa pedang, kemudian menebaskannya pada orang yang mengatakan “Kembalikan kami pada Umar”.

Kandungan Ayat   

Ayat di atas menjelaskan, iman seorang mukmin belum sempurna ketika belum memenuhi tiga syarat:

Pertama, berhukum kepada Rasulullah pada saat beliau masih hidup, dan kepada syariat Rasulullah setelah beliau meninggal dunia.

Kita melihat, bahwa perbedaan pendapat sering kali terjadi baik dalam masalah ushul ad-dien (teologi), furu’ (fikih), maupun akhlak tasawwuf.

Dalam masalah teologi, ulama ahli kalam berbeda pendapat tentang sift-sifat Allah, mereka ada yang menafikan sifat-sifat Allah dan ada yang menyerupakan Dzat Allah, ada juga mazhab Qadariyah dan Jabariyah, serta perbedaan yang lain.

Sehingga untuk mengetahui sifat-sifat Allah secara benar, kita harus mengikuti petunjuk Rasulullah Saw, tidak mengandalkan akal pribadi, karena kebanyakan orang tidak sempurna dalam memikirkan sesuatu dan tidak sepenuhnya memahami hakikat sesuatu itu. Berbeda dengan akal Nabi yang ma’shum yang sempurna dan cemerlang.

Ketika cahaya petunjuk Nabi Muhammad telah menyinari akal umatnya, maka akal yang semula lemah menjadi kuat dan yang semula tidak sempurna menjadi sempurna, sehingga umat tersebut mampu memahami rahasia-rahasia ketuhanan.

Bukti dari semuanya adalah, generasi sahabat dan tabi’ien memiliki keimanan dan makrifat yang kuat tidak tergoyahkan, sementara generasi setelahnya berada dalam kebimbangan dan perselisihan.

Karena itu dalam masalah teologi kita harus tetap berpegang kepada ajaran Rasulullah dan para sahabat, sebagaimana akidah yang diajarkan oleh golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Baca Juga :  Saat Mimpi Buruk, Mengapa Dianjurkan Meludah ke Sebelah Kiri? Ini Penjelasan Ulama

Demikian pula dalam masalah furu’, atau masalah fikih, kita juga harus berpegang kepada pendapat yang menggunakan al-Quran, hadis, dan akal. Akal kolektif disebut dengan ijmak, sedangkan akal personal disebut dengan kias. Ijmak yang boleh diikuti adalah yang sesuatu dengan prinsi-prinsip al-Quran dan hadis. Demikian pula, kias adalah mengembalikan masalah waqi’iyyah yang masih diperselisihkan pada al-Quran dan hadis.

Dalam masalah tasawuf juga demikian, tasawuf yang benar adalah tasawuf yang tidak menyimpang dari syariat Rasululah Saw.

Sayyid Bakri dalam Kifayatul Athqiya menjelaskan, tarekat dan hakikat keduanya tergantung pada pelaksanaan syariat. Keduanya tidak bisa tegak dan tidak bisa sukses kecuali dengan syariat. Seorang mukmin yang memiliki derajat tinggi bahkan sekalipun wali, mereka tetap diwajibkan melakukan kewajiban syariat dalam al-Quran dan hadis Rasulullah.

Kedua, menerima hukum syariat yang dibawa oleh Rasulullah dengan ridha dan lapang hati, dan meyakini bahwa hukum yang ditetapkan Rasulullah adalah hukum yang benar dan adil.

Ketiga, secara lahiriyah benar-benar tunduk terhadap hukum syariat.

Menurut as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman, berhukum dengan syariat Rasulullah adalah martabat islam, menerima dengan lapang hati adalah martabat iman, dan ketundukan terhadap hukum syariat adalah martabat ihsan. Siapa saja yang berhasil mengumpulkan tiga martabat tersebut, dia telah berhasil menyempurnakan seluruh derajat agama.

Para Nabi Bersifat Ma’shum  

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa para Nabi adalah orang yang ma’shum, terjaga dari kesalahan dalam memberi fatwa dan hukum, karena Allah mewajibkan semua orang untuk tunduk lahir-batin pada hukum mereka. Perintah Allah tersebut menafikan kesalahan yang terjadi atas para nabi tersebut. (Baca: Konsep Kemaksuman Para Wali dalam Pandangan Sufi)

Baca Juga :  Bertafakur Melalui Penciptaan Unta

Wallahu A’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here