Tafsir Surah Hud Ayat 6: Jaminan Rezeki bagi Seluruh Makhluk

0
24

BincangSyariah.Com – Saya ingin mengilustrasikan pemberian jaminan rezeki Allah pada makhluk-Nya demikian. Seorang koki yang membuat hidangan untuk disajikan di sebuah restoran merupakan orang yang paling tahu komposisi makanan yang dibuatnya. Ia juga yang paling tahu bagaimana proses pembuatan makanan yang dihidangkan. Tetapi dalam banyak aspek, bisa jadi ia memiliki keterbatasan untuk mengetahuinya. Misalnya, dari mana asal bahan makanan yang diolahnya, bagaimana bahan itu bisa sampai di hadapannya, bahkan berapa lama sinar matahari menyinari bahan makanan sebelum ia olah. Untuk siapa makanan itu dihidangkan pun mungkin ia sama sekali tak tahu.

Hal itu lantaran ia hanya seorang makhluk yang selalu dilingkupi dengan berbagai keterbatasan. Ia hanya menjadi perantara sampainya rezeki kepada manusia. Berbeda dengan Allah yang menciptakan alam raya beserta isinya. Karena pengetahuan Allah sangat luas dan tak terbatas, Ia sudah pasti tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan ciptaann-Nya. Pengetahuan Allah bisa meliputi segala aspek dari ciptaan-Nya. Mulai dari proses penciptaan, perkembangan, karakter, keadaan, kebutuhan, bahkan kecukupan rezeki makhluk-Nya.

Bukan sekadar tahu, Allah juga bertanggung jawab akan sampainya rezeki itu kepada makhluk-Nya. Berbeda dengan koki yang setelah membuat, mungkin ia tidak bertanggung jawab dalam hal sampainya makanan kepada konsumen. Maka sangat aneh apabila kemudian ada makhluk yang menggantungkan rezekinya pada makhluk yang lain. Padahal Allah lah yang menciptakannya, sekaligus menjamin sampainya rezeki kepadanya.

Ketentuan terjaminnya rezeki bagi seluruh makhluk ini telah difirmankan Allah Swt. dalam surah Hud [11] ayat 6.

وَمَا مِن دَاۤبَّةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَیَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلࣱّ فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِینࣲ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Q.S. Hud (11): 6]

Ayat di atas secara tegas menyatakan bahwa, Allah menjamin rezeki seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Tanpa terkecuali. Hal ini selaras dengan apa yang diutarakan oleh Imam az-Zajjaj, sebagaimana dikutip oleh Syekh Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib, bahwa dimutlakkannya lafal “dabbah” dalam ayat di atas maksudnya ialah seluruh makhluk hidup. Tak membedakan manusia atau bukan, lelaki atau perempuan, di daratan maupun lautan, bahkan tak membedakan kafir atau beriman. Semuanya mendapat jaminan rezeki dari Allah.

Melalui Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Syekh Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa, didahulukannya lafal “’ala Allah” atas lafal “rizquha” itu juga dapat menjadi petunjuk bahwa hanya Allah yang dapat menjamin rezeki. Karena dalam kaidah bahasa Arab pola kalimat tersebut mempunyai faidah qashr (pembatasan), yakni untuk membatasi adanya jaminan rezeki dari selain Allah Swt. Oleh karenanya, sebagaimana disebut di atas, sangat aneh apabila kemudian ada makhluk yang menggantungkan rezekinya pada makhluk yang lain, padahal hanya Allah yang bisa memberinya jaminan.

Jaminan yang diberikan Allah bukan sebatas adanya rezeki semata, bahkan sampainya rezeki itu kepada makhluk pun dijamin oleh Allah Swt. Di manapun makhluk itu berada, Allah tetap bisa menyampaikan rezeki untuknya, bahkan di tempat yang paling tersembunyi sekali pun. Karena Allah mengetahui tempat kediaman, bahkan tempat persembunyian seluruh makhluk-Nya, “wa ya’lamu mustaqarraha wa mustauda’aha, (Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya)”.

Disebutkan dalam Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani, bahwa suatu ketika Nabi Musa a.s. pernah diperintah Allah Swt. untuk memukulkan tongkatnya pada batu yang besar. Ketika batu itu terpecah ternyata di dalamnya terdapat batu lagi dengan ukuran yang lebih kecil. Lantas tongkat dipukulkan kembali pada batu kedua, hingga muncul batu ketiga. Tatkala Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu ketiga hingga terpecah, beliau takjub karena di dalamnya hidup seekor belatung sangat kecil dengan secuil makanan di mulutnya.

Nabi Musa pun diberi oleh Allah Swt. kemampuan untuk mendengar apa yang hewan itu katakan. Belatung itu berkata, “Mahasuci zat yang melihatku, mendengar perkataanku, mengetahui tempatku, mengingatku, dan tak melupakanku.” Melalui kejadian tersebut, Allah memberi pelajaran kepada Nabi Musa a.s., juga pelajaran untuk kita semua, bahwa Allah senantiasa mengetahui makhluk-Nya di mana pun ia berapa, Allah pasti mendengar apa yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, Allah senantiasa mengingat makhluk-Nya meski acap kali justru makhluk itu yang lupa dengan Allah Swt. Wallahu a’lam bish shawab.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here