Tafsir Surah at-Taubah Ayat 40; Potret Persahabatan Rasulullah dan Abu Bakar

0
2275

BincangSyariah.Com – Tak banyak kisah persahabatan anak manusia yang dicatat dengan tinta emas dalam Al-Qur’an. Satu di antara kisah yang paling mengesankan adalah persahabatan antara Nabi Muhammad dan Abu Bakar as-Siddiq. Saksi persahabatan antara dua anak manusia ini adalah Allah. Bahkan, Allah pula yang menyematkan kata “sahabat” bagi mereka berdua. Mungkin kita bisa sedikit menyimak surah at-Taubah ayat 40 di bawah ini:

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. (Baca: Mengenal Tiga Belas Nama Surah At-Taubah)

Memang benar, secara umum kita menyebut orang yang hidup semasa dengan Rasulullah adalah sahabat Nabi Muhammad. Namun persahabatan antara Rasulullah dan Abu Bakar as Siddiq melebihi persahabatan Nabi dengan para sahabat lainnya begitupun dengan kita yang hidup di zaman millennial ini. Mungkin banyak hari-hari indah yang sering diwarnai oleh para sahabat, namun sudahkah menemukan persahabatan yang abadi dalah kehidupan dunia, juga akhirat? Dalam Tafsir al Qur’an al Adzim milik Ibn Katsir disebutkan:

كل صداقة و صحابة لغير الله فإنها تنقلب يوم القيامة عداوة إلا ما كان الله عز وجل فإنه دائم بدوامه

Setiap persahabatan di dunia ini akan berbalik menjadi permusuhan di hari kiamat, kecuali yang diniatkan untuk mencari ridha Allah yang Maha Kekal. Itulah yang kelak dikekalkan-Nya. (Baca: Ini Sebab Surah At-Taubah Tidak Didahului Basmalah)

Baca Juga :  Ibnu al-Afthos: Sastrawan Penerus Kerajaan Islam di Portugal era Andalusia

Sentuhan tafsir indah di atas mengingatkan kita akan pesan Ibn Atha’illah dalam al-Hikam yang mengisyaratkan untuk berkawan dengan seseorang yang bisa membangkitkan semangat dan pembicaraannya terus terbimbing menuju jalan Allah. Sebuah petunjuk bahwa persahabatan yang diniatkan untuk mencari ridha Allah itu nyata adanya dan bukan sekedar teori dalam agama.

Jika merujuk pada ayat 40 dalam QS at-Taubah, kita bisa melihat  bagaimana sikap seorang sahabat baik yang terus membesarkan hatinya dengan memintanya agar tak lagi bersedih. Mengapa perlu bersedih? Jika Allah masih menyertai kita. begitulah kira-kira potretan indah persahabatan Rasulullah dan sahabat terbaiknya, Abu Bakar as Siddiq. Adakah rujukan yang lebih indah daripada persahabatan yang berlandasakan ridha Allah?

Dengan demikian, isyarat persahabatan yang baik itu jelas ukurannya. Seperti Nabi dengan Abu Bakar, persahabatan terbaik adalah yang saling menggembirakan. Memberi kabar gembira, bukan semata karena persahabatan itu adalah mitsaq yang akan menyelamatkan di dunia hingga akhirat, tetapi lebih dari itu, karena persahabatan direstui, diridhai, dan bersamaan dengan taufik Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here