Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 15: Panduan Berdakwah Secara Damai dan Toleran

0
15

BincangSyariah.Com – Surah Asy-Syura Ayat 15 memiliki satu keunikan yang hampir tak dimiliki oleh ayat-ayat-Alquran yang lain. Menurut para ulama ahli tafsir, hanya Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah/2: 255) yang memiliki keunikan sama dengan ayat ini. Keunikan yang dimaksud bahwa ayat ini terpecah-pecah menjadi sepuluh penggalan. Setiap penggalnya mengandung hukum sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya al-Munir menyatakan bahwa kesepuluh hukum tersebut merupakan perintah Allah dan larangan-Nya, bukan hanya bagi Rasulullah saw. tetapi juga bagi seluruh umat Islam. Berikut ini rinciannya:

Pertama, perintah untuk terus berdakwah menyampaikan risalah agama Allah.

فَلِذٰلِكَ فَادْعُ

Karena itu, serulah (mereka beriman)

Secara spesifik, perintah awal ayat ini, yaitu agar Rasulullah saw. menyeru kaumnya supaya jangan berpecah belah seperti halnya ahli kitab yang telah disinggung pada ayat sebelumnya. Bahwa ahli kitab, yakni kaum Yahudi dan Nasrani, terpecah menjadi beberapa golongan disebabkan kedengkian dan kebencian di antara mereka.

Pertentangan itu terjadi setelah mereka mengetahui kebenaran rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Adapun orang-orang Yahudi berpegang teguh pada pendiriannya dan menuduh orang-orang Nasrani tidak mempunyai pendirian. Demikian halnya orang-orang Nasrani berpegang teguh pada pendiriannya dan menuduh orang-orang Yahudi yang justru tidak mempunyai pendirian. Demikian ahwal yang tergambar dalam Alquran.

Akan tetapi, pada hakikatnya perpecahan yang dimaksud tidak hanya tertentu di kalangan ahli kitab saja, termasuk juga yang terjadi di internal kita umat Islam. Manakala pertentangan di kalangan ahli kitab tersebut menyangkut akidah, maka yang banyak terjadi di internal umat Islam ialah perselisihan dalam bidang fikih (ketentuan hukum syariat). Karena itu, segenap umat Islam hendaknya dapat belajar dari apa yang dialami ahli kitab terdahulu, sehingga kita tetap menjaga ukhuwah dalam aneka potret khilafiah.

Kedua, perintah istiqamah dalam mengemban risalah agama Allah swt.

وَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ

dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad)

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw. diperintahkan agar senantiasa istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt., serta dalam mendakwahkannya. Perintah ini tentu berlaku pula bagi kita segenap kaum muslimin hingga hari ini.

Ketiga, larangan supaya tidak mengikuti keinginan orang-orang musyrikin dan ahli kitab, untuk mengikuti ibadah mereka.

وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ

dan janganlah mengikuti keinginan mereka

Keistiqamahan pada poin sebelumnya, itu juga berarti larangan untuk tidak sekali-kali terpengaruh dengan keraguan yang ditunjukkan oleh kaum sebelumnya yang ingkar terhadap kebenaran agama yang telah disyariatkan kepada mereka. Sehingga, mereka saling berselisih pendirian, lalu mendustakannya dan tetap menyembah berhala.

Keempat, perintah beriman dan meyakini kitab-kitab samawi yang Allah turunkan.

وَقُلْ اٰمَنْتُ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنْ كِتٰبٍ

dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah…

Keteguhan atas kebenaran risalah agama Allah juga harus dinyatakan dengan menandaskan kebulatan iman dan pengakuan terhadap kitab-kitab yang telah Allah turunkan dari langit, yaitu kitab Zabur, kitab Taurat, dan kitab Injil.

Kelima, perintah untuk berlaku adil di antara sesama, dan bersikap adil pula dalam menghadapi perselisihan yang terjadi di antara mereka.

وَاُمِرْتُ لِاَعْدِلَ بَيْنَكُمْ

dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu…

Rasulullah saw. juga diperintahkan berlaku adil dalam menetapkan hukum dan sebagainya. Dalam pengertian bahwa beliau tidak diperkenankan mengurangi ataupun menambah apa yang telah Allah syariatkan, serta beliau diharuskan menyampaikan apa yang telah Allah perintahkan untuk disampaikan.

Keenam, perintah berikrar bahwa hanya Allah swt semata yang pantas disembah, serta tidak ada Tuhan selain-Nya.

اَللّٰهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ

Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu…

Ayat ini juga menjelaskan, sesungguhnya Allah adalah Tuhan kita umat Islam dan juga Tuhan bagi sekalian umat manusia beserta alam semesta. Ihwal ini menegaskan konsep tauhid (keesaan Allah) sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Ketujuh, perintah untuk menyatakan bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya masing-masing. Begitu pula dengan balasan atau ganjaran baik-buruk atas amal tersebut.

لَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْ

Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu…

Sekurang-kurangnya, ayat ini menjadi cerminan toleransi dalam berdakwah dan berinteraksi sosial. Ini sejalan dengan firman Allah pada surah Yunus ayat 41: Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Kedelapan, perintah untuk menyatakan bahwa tidak ada permusuhan di antara kita umat Islam dengan mereka orang-orang nonmuslim, karena telah tampak jelasnya kebenaran risalah Allah swt.

لَاحُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, …

Karena tiap-tiap orang mempertanggungjawabkan perbuatannya, niscaya tidak boleh ada pertengkaran di antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, yakni mereka yang masih membangkang dan enggan menerima dakwah Islam.

Kesembilan, perintah untuk menyatakan bahwa Allah swt. akan mengumpulkan seluruh manusia, baik kita umat Islam maupun mereka orang-orang nonmuslim, kelak di padang mahsyar guna menghadapi pengadilan Allah swt.

اَللّٰهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا

Allah mengumpulkan antara kita…

Seluruh manusia kelak dikumpulkan di sebuah tempat bernama padang mahsyar. Di sana akan terbukti mana yang benar di antara para pemeluk agama dan kepercayaan selama di dunia ini. Ketika itu, Allah swt. yang akan memberikan keputusan seadil-adilnya  bagi seantero hamba-Nya. Ihwal ini sesuai dengan penegasan Allah swt. dalam surah Saba’ ayat 26, yakni: Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.”

Kesepuluh, perintah untuk menyatakan bahwa semua makhluk tanpa terkecuali, akan kembali ke hadirat Allah swt.

وَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ

dan kepada-Nyalah (kita) kembali.”

Sebagaimana ungkapan istirja, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sejatinya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali). Semua manusia akan kembali ke hadirat Allah sekaligus akan mempertanggungjawabkan segala amal kehidupannya di dunia. Seluruhnya pun nanti menerima ganjaran sesuai amal ibadah masing-masing. Tidak ada amal baik ataupun buruk sekecil apapun yang luput dari pembalasan di kemudian hari.

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (partikel), niscaya dia akan melihat (balasan)nya; dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah (partikel), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Az-Zalzalah/99: 7-9).

Shadaqallahul-‘azhim wa shadaqa rasuluhul-karim (Mahabenar Allah yang Mahaagung, juga sungguh benar apa yang disampaikan oleh rasul-Nya yang mulia).

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here