Tafsir Surah an-Nisa Ayat 2; Larangan Menyelewengkan Harta Anak Yatim

0
1352

BincangSyariah.Com – Pada ayat pertama surah An-Nisa, Allah swt. memerintahkan kepada kita untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya. Yakni perintah untuk senantiasa mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Bahkan pada ayat itu Allah swt. mengulang perintah taqwa dua kali. Ayat pertama tersebut, ditutup dengan penegasan bahwa Allah swt. senantiasa mengawasi tindak tanduk kita.

Sedangkan ayat kedua surah An-Nisa ini merupakan salah satu bentuk aplikasi dari takwa itu sendiri. Yakni memenuhi perintah Allah swt. untuk menyerahkan harta anak yatim kepada mereka ketika sudah balig. Salain itu, aplikasi untuk menjauhi larangan Allah swt. dengan tidak mencampur harta kita dengan harta anak-anak yatim serta tidak memakannya.

Teks dan Terjemahannya

Adapun bunyi ayat kedua dari surah An-Nisa tersebut adalah sebagai berikut:

وَآتُوا الْيَتامى أَمْوالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوالَهُمْ إِلى أَمْوالِكُمْ إِنَّهُ كانَ حُوباً كَبِيراً

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

Mufradat: Makna Kata

Al-Yataamaa adalah bentuk jama’ (plural) dari kata yatiim yang berarti anak yang tidak mempunyai bapak namun menurut syara’ dan urfnya yatim khusus diistilahkan bagi anak yang belum balig. Nabi saw. bersabda, “Tidak disebut yatim setelah balig.” (HR. Abu Daud). Jadi, maknanya adalah berikanlah anak-anak kecil yang tidak mempunyai bapak harta-harta mereka jika mereka sudah mencapai masa usia balig.

Makna kata al-khabiis adalah haram sedang at-thayyib adalah halal. Yakni janganlah kalian mengambil sebagai ganti harta yang halal dengan harta yang haram, sebagaimana kalian melakukannya dengan mengambil dengan baik dari harta anak yatim, lalu harta kalian menjadi haram. Dan janganlah kalian memakan harta anak-anak yatim yang telah dicampur dengan harta kalian, yakni janganlah kalian menjadikan harta-harta kalian tercampur dengan harta mereka.

Makna kata huuban adalah itsm atau dzanbun, yakni dosa. Jadi, memakan harta anak yatim secara langsung maupun setelah dicampur dengan harta milik kita adalah perbuatan dosa yang besar.

Baca Juga :  Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang, Hadis Atau Bukan?

Asbabun Nuzul

Imam Muqatil dan Al-Kalabi sebagaimana dikutip oleh imam Al-Wahidi di dalam kitabnya Asbabun Nuzul berkata sebagai berikut.

“Ayat ini diturunkan kepada seorang laki-laki dari Ghatafan ia memiliki harta yang banyak milik keponakannya yang yatim (anak saudara laki-lakinya). Ketika anak yatim itu sudah beranjak balig, ia pun meminta hartanya. Namun, pamannya menolaknya. Mereka pun melaporkan kepada Rasulullah saw. maka turunlah ayat ini (surah An-Nisa ayat keempat). Ketika paman mendengar ayat tadi, maka ia berkata, “Saya mentaati Allah dan Rasul. Kami berlindung kepada Allah dari dosa yang besar.” Ia pun menyerahkan harta anak yatim itu. Lalu Nabi saw. bersabda, “Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran dan ia kembali kepadaNya dengan seperti itu, maka sungguh halal baginya rumahnya; yakni surganya.”

Ketika anak yatim itu menerima hartanya (dari pamannya tadi), maka ia pun menginfakkannya di jalan Allah swt. lalu Nabi saw. bersabda, “Tetaplah pahala dan tinggallah dosa.” Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tahu bahwa pahala telah ditetapkan, lalu bagaimana dengan tersisanya dosanya, sedangkan ia telah menginfakkan (hartanya) di jalan Allah?.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Pahala ditetapkan untuk sang anak, dan tersisanya dosa bagi ayahnya.”

Tafsir dan Penjelasan Ayat

Tema ayat ini adalah tentang perintah Allah swt. untuk menyerahkan harta-harta anak yatim jika mereka sudah balig dengan sempurna. Dan larangan untuk memakannya dan menyampurnya dengan harta milik pribadi pengasuh. Jadi khitab; orang yang sedang diajak bicara Allah swt. atau audiens pada ayat ini adalah para wali atau pengasuh yang sedang memegang harta anak-anak yatim dan mengurusi mereka. Meskipun secara khusus ayat ini turun untuk menangani kasus seorang laki-laki dari Ghatafan dan keponakannya.

Ayat ini adalah permulaan penjelasan aplikasi taqwa. Yakni yang pertama menjaga harta anak-anak yatim yang masih lemah. Artinya wahai para wali anak-anak yatim berikanlah anak-anak yatim hartanya setelah ia balig tanpa adanya kekurangan sedikitpun. Nafkahilah mereka ketika mereka masih kecil dengan harta-harta mereka. Janganlah kalian mengumpulkan atau mencampurkan sedikit saja dari harta kalian dengan harta mereka.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah an-Nisa; Sejarah dan Kandungan Surah

Adapun istilah larangan memakan harta anak yatim dalam ayat ini adalah diibaratkan pada semua jenis pentasarufan/pengelolaan harta yang bisa habis dan semua jenis pemanfaatan. Jadi, intinya dilarang menggunakan harta anak-anak yatim baik untuk dimakan, minum, dijadikan bisnis untuk dirinya, maupun semua jenis pengelolaan harta lainnya. Kata “makan” digunakan sebagai wakil dari semua jenis penyelewengan atas harta anak yatim adalah karena mayoritas penggunaan harta itu habis karena dimakan.

Kata ila berarti ma’a yakni janganlah kalian mengumpulkan harta mereka beserta harta kalian untuk dimakan. Karena sesungguhnya jika kalian telah melakukan itu, maka kalian telah mengganti harta yang halal yakni harta kalian yang dicari dari anugrah Allah dengan yang haram yakni harta anak yatim. Maka hal ini adalah dosa besar.  Diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat meletakkan kambing yang kurus lalu mengambil yakni menggantinya dengan yang gemuk. Maka mereka dilarang akan hal itu.

Imam mujahid berkata, ayat ini melarang untuk mencampur dalam infaq. Hal ini disebabkan karena orang Arab itu selalu mencampur harta nafkah mereka dengan nafkahnya anak-anak yatim. Maka mereka dilarang untuk hal itu melalui ayat ini.

Secara dhahir ayat ini menjelaskan larangan memberikan harta kepada anak yatim sebelum balig, sedangkan makna majaznya (kiasannya) adalah tidak memberikan harta mereka saat masih belum balig dengan tujuan untuk menyelamatkan harta itu dari penggunaan yang tidak baik/efesien. Hal ini berdasarkan ayat 6 surah An-Nisa; “Dan ujilah anak anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta)maka serahkanlah kepada mereka hartanya.

Yakni ujilah kelayakan mereka untuk menyerahkan harta mereka ketika balig. Ayat ini (An-Nisa/6) mendorong untuk menyerahkan harta ketika sudah balig dan pintar. Adapun ayat wa aatul yataamaa (An-Nisa ayat 2) adalah mendorong untuk menjaga harta-harta anak yatim untuk diserahkan kepada mereka saat balig dan pintar.

Kata al-yatama pada ayat ini juga tidak hanya berarti anak-anak yatim secara dhahir. Melainkan kata tersebut juga bermakna majaz, yakni diibaratkan yatama itu dekat dengan masa kecil. Artinya hal ini adalah isyarat wajibnya cepat-cepat dan segera menyerahkan harta mereka kepadanya karena mereka yatim yang lemah.

Baca Juga :  Harga Rokok Tidak Mungkin Naik Rp. 50.000? Ini Alasannya

Kesimpulan Ayat

Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitabnya At-Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa kesimpulan dari ayat ini ada dua:

  1. Wajib menyerahkan harta-harta anak yatim kepada mereka ketika ia sudah mampu mengelola harta.
  2. Semua hal pemanfaatan dan di antaranya makan harta anak yatim itu haram dan termasuk dosa-dosa yang besar kecuali ketika butuh. Hal ini berdasarkan ayat sebagai berikut.

وَمَنْ كانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كانَ فَقِيراً فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ [النساء 4/ 6

dan barang siapa (di antara pemelihara ) itu mampu maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin maka bolehlah ia makan harta itu menurut cara yang patut. (An-Nisa:4/6)

Artinya, jika sang pengasuh memang dalam keadaan miskin, maka ia boleh ikut memakan harta anak-anak yatim yang ia asuh sebagai ganti “imbalan” ia mengasuh. Namun tentunya tidak berlebihan atau secukupnya, digunakan untuk hal yang wajar, dan dengan pencatatan yang baik. Jika sang pengasuh dalam keadaan mampu, maka tidak boleh mengambil hak sedikitpun dari harta anak-anak yatim.

Terkait hal ini, sayyidina Umar bin Al-Khattab r.a. pernah berkata, “Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta Allah sebagaimana derajatnya pengasuh anak yatim. Apabila aku membutuhkan maka aku ambil sebagian, kemudian apabila aku mampu, maka aku akan mengembalikannya, dan apabila aku tidak membutuhkannya, aku akan menjaga diriku dari mengambilnya.”

Demikianlah penjelasan ayat kedua dari surah An-Nisa. Ayat ini merupakan aplikasi ketaqwaan kita sebagai seorang pengasuh anak-anak yatim atas pengelolaan harta-harta mereka. Kita dituntut amanah untuk tidak ikut mengkonsumsi, memanfaatkan, dan mencampur harta mereka dengan harta kita. Bahkan hal itu adalah bagian dari pada dosa besar. Wa Allahu A’lam bis shawab.

NB: Disarikan dari kitab At-Tafsir Al-Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dengan penambahan dan pengurangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here