Tafsir Surah al-Waqi’ah Ayat 1 – 3: Kepastian Terjadinya Hari Kiamat

1
2516

BincangSyariah.Com – Pada tulisan sebelumnya telah diterangkan mengenai kandungan utama surah al-Waqi’ah secara keseluruhan dan keutamaan atau fadhilahnya. (Baca: Pengantar Tafsir Surah Al-Waqi’ah: Kandungan dan Keutamaan). Untuk artikel kali ini penulis mulai masuk pada penjelasan ayat. Dimulai dengan ayat 1 – 3 Allah Swt. menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti akan terjadi dan manusia tidak dapat membantahnya. Allah SWT berfirman:

إِذا وَقَعَتِ الْواقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِها كاذِبَةٌ (2) خافِضَةٌ رافِعَةٌ

Artinya:

Apabila terjadi hari kiamat. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).

Dalam penafsiran Ibnu Jarir al-Thabari terhadap ayat 1, setidaknya terdapat dua riwayat hadis yang dikutip. Pertama riwayat dari Ali dari Abu Shalih dari Mu’awiyah dari ‘Ali dari Ibnu Abbas, berkata bahwa al-Waqi’ah adalah satu di antara nama Hari Kiamat. Kedua riwayat dari al-Husain dari Abu Mu’adz dari ‘Ubaid dari al-Dhahhak berkata, “Yang dimaksud dengan al-Waqi’ah adalah ledakan besar (al-Shayhah).

Untuk ayat 2, al-Thabari pun mencantumkan sedikitnya dua jalur riwayat. Pertama, riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah bahwasanya ayat kedua hendak menegaskan tidak akan ada yang mampu menyangkal (matsnawiyyah) maupun menolak (irtidad) terjadinya hari kiamat. Kedua dari Ibnu Abd al-A’la dari Ibnu Tsaur dari Ma’mar dari Qatadah dengan keterangan yang sama seperti riwayat pertama.

Kemudian pada ayat 3, Ibnu Jarir al-Thabari setidaknya menyebutkan tiga jalur riwayat. Pertama dari Ibnu Humaid dari Yahya bin Wadhih dari ‘Ubaidillah dari Usman bin Abdullah bin Suraqah, ia berkata, “Pada Hari Kiamat musuh-musuh Allah direndahkan di neraka, dan kekasih-kekasih Allah ditinggikan di surga.”

Kedua riwayat dari Basyar dari yazid dari Sa’id dari Qatadah, ia berkata, “Pada hari Kiamat gunung dan bukit hilang, bumi menjadi rata sehingga orang yang jauh dan dekat akan sama-sama terdengar suaranya. Kemudian sebagian kelompok akan ditinggikan derajatnya dengan kemuliaan di sisi Allah Swt, dan kelompok lain akan direndahkan dalam siksa-Nya.”

Baca Juga :  Islam dan Andalusia: Pertikaian Sevilla dengan Granada akibat Sikap Rasis

Berbeda dengan keterangan dari dua riwayat sebelumnya riwayat ketiga dari Ibnu Humaid dari Yahya bin Wadhih dari al-Husain dari Yazid dari Ikrimah, ia berkata, “orang yang berada dalam posisi rendah, yang dekat akan terdengar. Begitupun dengan orang yang berada dalam posisi tinggi, yang jauh pun akan terdengar. Yang jauh dan yang dekat adalah sama bagi Allah SWT.”

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adzim yang dimaksud dengan khafidhatun pada ayat ketiga adalah orang-orang yang ketika di dunia bersikap sombong dan merasa tinggi. Sedangkan rafi’atun adalah orang-orang yang dimuliakan meskipun ketika di dunia mereka tidak dianggap. Keterangan ini sesuai dengan riwayat dari al-Suddi yang mengatakan:

خَفَضَتِ الْمُتَكَبِّرِينَ، وَرَفَعَتِ الْمُتَوَاضِعِينَ

“Pada Hari Kiamat orang-orang yang takabur akan terhina dan orang-orang yang tawadu’ akan mulia.”

Imam al-Qusyairi dalam Lathaif al-Isyarat memiliki penafsiran yang berbeda dengan Imam al-Thabari dan Ibnu Katsir. Ia mengatakan:

من سلك منهاج الصحة والاستقامة وصل إلى السلامة ولقى الكرامة، ومن حاد عن نهج الاستقامة وقع في الندامة والغرامة

“Orang yang meniti jalan kebenaran dan istiqamah di jalan itu, maka ia akan sampai pada keselamatan dan akan bertemu kemuliaan. Tetapi orang yang melenceng dari pangkal istiqamah, maka ia akan jatuh pada kesedihan dan kerugiaan.”

Terkait dengan ayat 3, Imam al-Qusyairi membuat perincian yang termasuk dalam kategori rendah/hina (khafidhah) dan kategori tinggi/mulia (rafi’ah). Menurut al-Qusyairi, khafidhah adalah permainan (al-syaqawah); cangkang (al-da’awa); diri (al-nufus); dan nafsu (al-syahwah). Sedangkan rafi’ah adalah kecukupan (al-wafaq); makna (al-ma’ani); hati (al-qulub); dan ketulusan (al-shafwah).

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Marah Labid li Kasyf Ma’na al-Quran al-Majid kata li pada kalimat liwaq’atiha bukan bermakna kepemilikan (al-milk), tetapi bermakna fi (pada) dengan makna, “tidak ada kebohongan pada waktu terjadinya kiamat.” Adapun penamaan kiamat dengan nama al-Waqi’ah, menurut Syekh Nawawi adalah karena kerasnya suara gemuruh pada hari kiamat yang dapat di dengar oleh seluruh makhluk hidup. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Para mufassir tidak banyak melakukan eksplorasi makna maupun penggambaran keadaan tentang Hari Kiamat selain yang sesuai dengan bunyi ayat dan penjelasan-penjelasan tambahan berangkat dari riwayat-riwayat hadis dari Nabi maupun keterangan-keterangan para sahabat. Hal ini dapat dimaklumi karena begitu dahsyatnya Hari Kiamat dan para mufassir tidak dapat menggambarkan bagaimana keadaan umat manusia di Hari Kiamat nanti. (Baca: Tafsir Surah al-Waqi’ah Ayat 1 – 3: Kepastian Terjadinya Hari Kiamat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here