Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 25; Allah Akan Memutuskan Perselisihan Hamba-Nya

1
1139

BincangSyariah.Com – Semua makhluk Tuhan akan menerima balasan berdasarkan atas keputusan-Nya, termasuk memutuskan perselisihan hamba-Nya. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Inna rabbaka huwa yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānụ fīhi yakhtalifụn

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya” (Q.S.al-Sajdah: 25) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 23-24; Pentingnya Sebuah Kesabaran dalam Berjuang)

Ibnu ‘Asyur al-Tunisi dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir mengarahkan kata kamu pada kalimat Tuhanmu kepada Muhammad Saw. Keputusan yang dimaksud pada ayat di atas adalah sebuah penghakiman dan pengadilan sebagaimana telah disampaikan oleh Ibnu ‘Asyur. (Baca: Doa Abdullah bin Mas’ud Agar Terhindar dari Perselisihan)

Pada ayat sebelumnya disebutkan bahwa Allah Swt. telah menjadikan beberapa pemimpin dari kalangan Bani Israil. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan bagi para mukmin yang mendengarkan penjelasan al-Qur’an. Sebab bagaimana mungkin munculnya pemimpin dari kalangan Bani Israil, sedangkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa banyak sebuah perselisihan di antara mereka dan banyak yang berpaling dari ajaran nabinya. Oleh karenanya, ayat di atas memberitahu dan menjawab kejanggalan dari pertanyaan para mukmin.

Sesungguhnya Allah Swt. memberikan keputusan kepada hamba-hamba-Nya dalam masalah yang diperselisihkan oleh mereka, mulai dari masalah keyakinan, agama, hisab, balasan pahala, adanya siksa dan berbagai amal lainya. Mereka mendapatkan keputusan Tuhan di Hari Kiamat, bagi para hamba yang berada pada jalan yang benar menerima balasan surga dan neraka untuk mereka ahli batil sebagaimana penyampaian Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari.

Perselisihan yang tidak dilegalkan oleh agama adalah berbagai macam perselisihan yang tidak berdasarkan dalil syari’ah serta tidak sejalan dengan usuluddin. Artinya berbagai perselisihan yang berdasarkan hawa nafsu dan tujuan duniawi. Sebagaimana telah disampaikan dalam berbagai ayat al-Qur’an “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Q.S.Ali Imran: 105).

Baca Juga :  Doa Abdullah bin Mas’ud Agar Terhindar dari Perselisihan

Perselisihan yang berdasarkan dasar dan dalil agama merupakan sebuah hal yang terpuji. Ibnu ‘Asyur menyampaikan:

ومن أعظم ذلك الاختلاف كتمانهم الشهادة ببعثة محمد صلى الله عليه وسلم وجحدهم ما أخذ عليهم من الميثاق من أنبيائهم

“Perselisihan terbesar adalah menyembunyikanya mereka terhadap persaksian atas keterutusanya Muhammad Saw. dan keingkaran mereka terhadap janji-janji untuk mereka dari para nabinya.”

وليس منه اختلاف أئمة الدين في تفاريع الأحكام وفي فهم الدين مما لا ينقض أصوله ولا يخالف نصوصه وإنما هو إعمال لأصوله ولأدلته في الأحوال المناسبة لها وحمل متعارضها بعضه على بعض فإن ذلك كله محمود غير مذموم

“Tidak termasuk perselisihan tersebut (yang dilarang) adalah perselisihan para pembesar (pimpinan) agama dalam furu’iyah hukum dan pemahaman agama yang tidak merobohkan usuludin dan tidak menyimpang dasar-dasar agama. Hal itu merupakan beramal berdasarkan usuludin dan dalil-dalil agama dalam keadaan yang selaras. Semua itu adalah hal yang terpuji”.

Banyak para sahabat nabi Saw. berselisih di masa hidup nabi, tidak seorangpun dari mereka yang mendapatkan cercaan dan celaan dari nabi. Begitupula setelah wafat Muhammad Saw, mereka berselisih dan tidak ada di antara mereka yang saling mencela. Oleh karenanya nabi telah menjelaskan keberadaan mereka dalam sabdanya:

أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم

“Sahabat-sahabaku bagaikan bintang-bintang dengan manapun dari mereka kalian mengikutinya maka mendapatkan petunjuk”

Perselisihan antara orang-orang yang sesat dengan mereka yang mendapatkan petunjuk dan perselisihan dalam hal yang telah disepakati sebagai kesesatan oleh para pembesar agama (ulama saleh) merupakan sebuah penyimpangan terhadap syari’ah dan sunah rasul. Ibnu ‘Asyur al-Andalusi dalam karyanya menyampaikan:

فإن ذلك خلاف بين المجمعين وبين ما نطقت به شريعتهم وسنته أنبياؤهم

Baca Juga :  Tempat Siti Khadijah Dimakamkam

“Sesungguhnya perselisihan tersebut merupakan penyimpangan atas kesepakatan ulama dan syari’ah serta sunah para nabi”.

Ismail Haqi bin Musthafa al-Istanbuli al-Hanafi dalam karyanya Tafsir Ruh al-Bayan menyampaikan penyampaian para ulama bahwa Tuhan memberikan keputusan kepada hamba-hambanya sebab berbagai hal, di antaranya:

Pertama, kemuliaan mereka. Di sisi Tuhan mereka mendapatkan derajat yang mulia sehingga tidak akan mendapatkan keputusan dan penghakiman dari siapaun kecuali dari-Nya. Dengan anugerah-Nya, Dia memberikan keputusan kepada para hamba-hambaNya. Kedua, supaya tidak seorangpun mengetahui keadaan mereka kecuali Dia. Ketiga, sebagai bentuk rahmat dan penghormatan dari-Nya. Dengan adanya keputusan ditangan-Nya, kecacatan mereka tertutupi dan dosa-dosa mereka tidak tersebar luas sampai pada orang lain.

Keempat, sebagai anugrah dan keadilan-Nya. Sebagai pencipta yang bijaksana, Dia menciptakan mereka dan apa yang diperbuat olehnya sesuai kehendak-Nya. Kebaikan yang muncul dari mereka merupakan buah dari kebaikan dan anugrah-Nya. Oleh karenanya Dia memberikan keputusan atas dasar anugrah dan keadilan-Nya. Kelima, sebagai bentuk perhatian dan belas kasihan dari-Nya.  Keenam, sebagai rahmat dan kecintaan dari-Nya. Berdasarkan kasih sayang dan kecintaan, Dia menciptakan mereka. Dalam firman-Nya:

 {يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ}

“Allah mencintai mereka dan merekapun  mencintai-Nya” (Q.S.al-Maidah: 54)

Oleh karenanya Allah memandang dan memberi keputusan kepada mereka dengan kecintaan dan kerelaan-Nya.

وعين الرضى عن كل عيب كليلة

“Pandangan kerelaan (ridlo), akan membuat suram setiap kesalahan”.

Ketujuh, sebagai keramahan Tuhan. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak adam” (surah al-Isra’: 27). Keputusan yang diberikan merupakan bentuk kemuliaan dan keramahan Tuhan kepadanya dan bukan sebuah hinaan dari-Nya. Kedelapan, sebagai bentuk ampunan dari-Nya. Sesungguhnya Tuhan Maha Pemaaf dan bila melihat sebuah kesalahan pada hamba-Nya, Dia menginginkan untuk memaafkanya.

Baca Juga :  Perjanjian Al-Fudhul: Pasca Perang Fujjar

Sebagai penutup, Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan:

وهذا باعث آخر على الإيمان الصحيح والعمل الصالح، وتهديد ضمني لمن يعرض عن هداية اللّه التي صارت متمثلة بالقرآن بعد فقد التوراة وافتقاد الأصل الصحيح للإنجيل

“(Ayat) ini mendorong untuk memiliki iman yang benar serta melakukan amal saleh dan menyimpan ancaman terhadap orang yang berpaling dari petunjuk Allah Swt. yang telah digambarkan (disampaikan) oleh al-Qur’an setelah hilang (terhapus)nya Taurat dan lenyapnya pokok yang benar di dalam Injil”. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] A wa lam yahdi lahum kam ahlaknā ming qablihim minal-qurụni yamsyụna fī masākinihim, inna fī żālika la`āyāt, a fa lā yasma’ụn. A wa lam yarau annā nasụqul-mā`a ilal-arḍil-juruzi fa nukhriju bihī zar’an ta`kulu min-hu an’āmuhum wa anfusuhum, a fa lā yubṣirụn (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 25; Allah Akan Memutuskan Perselisihan Hamba-Nya) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here