Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 21-22; Sebab Malapetaka Menimpa Manusia

1
1268

BincangSyariah.Com – Manusia menanggung segala perbuatan yang dilakukannya di dunia. Terkadang malapetaka menimpa manusia di dunia itu akibat ulahnya sendiri. Terkait hal ini, Allah Swt. berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ . وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

Wa lanużīqannahum minal-‘ażābil-adnā dnal-‘ażābil-akbari la’allahum yarji’n. Waman alamu mim man żukkira bi`āyāti rabbihī umma a’raa ‘an-hā, innā minal-mujrimīna muntaqimn

Artinya:“Dan sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar ( di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (Q.S.al-Sajdah: 21-22) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 18-20; Kebahagiaan Seorang Mukmin di Akhirat)

Para ulama berselisih pendapat dalam mengartikan azab yang dekat sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari: Pertama, sebagian ulama mengartikanya musibah di dunia, baik musibah yang menimpa jiwa maupun harta. Kedua, ulama lain mengartikanya dengan makna terbunuh dengan pedang. Ketiga, diartikan sebagai kelaparan yang melanda. Keempat, ulama lainya memahaminya dengan arti siksa kubur. Kelima, siksa dunia adalah makna yang dipahami oleh sebagian ulama.

Dari beberapa pendapat di atas, Imam al-Thabari berkata:

وأولى الأقوال في ذلك  —والعذاب: هو ما كان في الدنيا من بلاء أصابهم، إما شدّة من مجاعة، أو قتل، أو مصائب يصابون بها، فكل ذلك من العذاب الأدنى، ولم يخصص الله تعالى ذكره، إذ وعدهم ذلك أن يعذّبهم بنوع من ذلك دون نوع

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 7-9; Adakah Ciptaan Tuhan yang Tak Sempurna?

“Pendapat yang paling utama bahwa azab (yang dimaksud) adalah musibah yang menimpa mereka di dunia, baik itu kelaparan, terbunuh atau bencana yang melanda, semua itu merupakan azab yang dekat. Allah Swt. tidak menjelaskan satu persatu (dari musibah tersebut) sebab janjiNya ialah menyiksa mereka dengan berbagai siksaan”

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu katsir menyampaikan riwayat Ibnu Abbas dalam mengartikan azab yang dekat sebagai berikut:

وقال ابن عباس -في رواية عنه -: يعني به إقامة الحدود عليهم

“Ibnu Abbas dalam riwayatnya berpendapat tentang azab yang dekat yakni didirikanya had kepada mereka.”

Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith menyampaikan riwayat Ubay:

وقال أبيّ أيضا : هو البطشة واللزام والدخان

 “Ubay berkata bahwa (azab yang dekat merupakan) kehancuran, keputusan dan (keluarnya) asap.”

Ja’far bin Muhammad mengartikanya dengan makna lain sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi:

والأدنى غلاء السعر

“Azab yang dekat (menurut Ja’far) adalah mahalnya barang dagangan”

Imam al-Thabari mengarahkan azab yang lebih besar pada makna siksaan di hari kiamat. Lain halnya dengan al-Thabari, ulama lain memberikan pandangan berbeda sebagaimana penyampaian Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith:

قال ابن عطية : لا خلاف أنه عذاب الآخرة — وقيل : هو القتل والسبي والأسر. وعن جعفر بن محمد : أنه خروج المهدي بالسيف

“Ibnu ‘Athiyah menyampaikan bahwa tidak ada perselisihan tentang artinya, yaitu siksaan akhirat. Disampaikan oleh pendapat lain, artinya ialah terbunuh, menjadi tawanan. Ja’far bin Muhammad mengartikanya dengan makna keluarnya Imam Mahdi.”

Imam al-Qurthubi dalam karyanya memberikan penyampaian yang hampir senada:

ولا خلاف أن العذاب الأكبر عذاب جهنم إلا ما روي عن جعفر بن محمد أنه خروج المهدي بالسيف والأدنى غلاء السعر

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 18-20; Kebahagiaan Seorang Mukmin di Akhirat

“Dan tidak ada perselisihan bahwa sesungguhnya azab yang lebih besar adalah siksa neraka Jahannam kecuali riwayat dari Ja’far bin Muhammad adalah keluarnya Imam Mahdi dengan membawa pedang.

Maksud Orang-orang yang berdosa ialah umum untuk siapa saja yang berbuat dosa, namun Yazid bin Rafi’ mengartikanya kedalam makna kaum Qadariyah, sebagaimana disampaikan oleh Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith:

وقال يزيد بن رفيع : هي في أهل القدر

Yazid bin Rafi’ berpendapat bahwa mereka adalah ahli Qadar (kaum Qadariyah)”.

Allah Swt. memberikan siksaan yang dekat kepada mereka orang-orang kafir dan para hali maksiat, minimal dari siksaan tersebut adalah musibah dan berbagai macam malapetaka yang melanda mereka di dunia sebelum siksaan yang lebih besar menimpa mereka kelak di akhirat, hal ini tidak lain agar mereka bertaubat kembali kejalan yang benar serta berada pada petunjukNya. Ibnu Abas berkata:

مصائب الدنيا وأسقامها وبلاياها يبتلي الله بها العباد كي يتوبوا

“Musibah, berbagai penyakit dan pagebluk di dunia yang melanda para hamba ialah agar mereka bertaubat.”

Sebuah siksaan muncul sebab adanya kezaliman. Sebagaimana disampakan oleh Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir:

ذكر اللّه تعالى سببا عاما للعقاب وهو ظلم الناس

“Allah Swt. menyebutkan adanya sebab sebuah siksaan adalah kezaliman manusia”.

Kezaliman terbesar ketika Allah Swt. telah menyebutkan ayat-ayat dan mu’jizat para utusan-Nya serta menjelaskanya dengan jelas dan luas namun mereka meninggalkannya dan mengingkari serta berpaling darinya. Ibnu Katsir menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh Qatadah:

قال قتادة، رحمه الله: إياكم والإعراض عن ذكر الله، فإن مَنْ أعرض عن ذكره فقد اغتر أكبر الغرَّة، وأعوز أشد العَوَز وعظم من أعظم الذنوب.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah al-Sajdah; Nama Lain dan Manfaat Membacanya

“Qatadah berkata: Takutlah dan jauhilah berpaling untuk menyebut Allah Swt. Barang siapa berpaling dari menyebut-Nya maka dia tertipu dengan tipuan yang besar dan sangat kesulitan serta (berada pada) dosa yang sangat besar.”

Dari kezalimanya mereka semua berdosa dan Allah Swt. mengancam kepada mereka para pendosa. Dalam hadis disampaikan:

روى ابن جرير وابن أبي حاتم عن معاذ بن جبلقال: سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم يقول: «ثلاث من فعلهن فقد أجرم: من عقد لواء في غير حق، أو عقّ والديه، أو مشى مع ظالم ينصره، فقد أجرم، يقول اللّه تعالى: إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ»

Ibnu Jarir dan Abi Hatim meriwayatkan dari Mu’ad bin Jabal, dia berkata: saya mendengar rasul Saw. bersabda “Ada tiga hal, barang siapa melakukanya maka benar-benar berdosa. (Mereka) adalah orang yang mengikat panji tanpa hak, durhaka kepada kedua orang tua atau berjalan menolong orang yang zalim  maka benar-benar berdosa. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Q.S.al-Sajdah: 22) “.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat), maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya dan Kami menjadikanya sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami” (Q.S.al-Sajdah: 23-24) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 21-22; Sebab Malapetaka Menimpa Manusia) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here