Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 17; Allah Tak Akan Melalaikan Amal Perbuatan Makhluk-Nya

1
1389

BincangSyariah.Com – Allah Swt. tidak akan melalaikan amal perbuatan makhluk-Nya. Dan dengan  Anugrah-Nya Dia membalas perbuatan mereka. Allah Swt. berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

Fa lā ta’lamu nafsum mā ukhfiya lahum ming qurrati a’yun, jazā`am bimā kān ya’maln

Artinya: “Seseorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S.al-Sajdah: 17) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 15-16; Kriteria Menjadi Mukmin yang Sempruna)

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir mengarahkan arti seseorang dengan makna mereka yang memiliki hati.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan pendapat Ibnu Sirin dalam mengartikan (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata dengan makna melihat Allah Swt. Lain halnya dengan Ibnu Sirin, Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir mengartikanya sebagai perumpamaan (kinayah) dari sebuah kegembiraan.

Pada ayat di atas, Allah Swt. memberikan nikmat yang menyedapkan  mata, pemberian tersebut diperuntukan oleh-Nya kepada para mukmin yang telah dipuji oleh-Nya pada ayat sebelumnya (Q.S.al-Sajdah 15-16) yaitu mereka yang ketika mendangarkan ayat-ayat Allah Swt maka menyungkur bersujud, bertasbih dan bertahmid, lambung mereka jauh dari tempat tidur, berdo’a dan menafkahkan sebagian hartanya.

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari  menyampaikan alasan atau sebab munculnya nikmat tersebut kepada mereka:

ثوابا لهم على أعمالهم التي كانوا في الدنيا يعملون.

“(Sebagai balasan) pahala atas amal-amal mereka di dunia.”

Muhammad bin Ahmad al-Syirbini dalam karyanya Tafsir al-Siraj al-Munir memahami bahwa ayat di atas mengandung arti adanya balasan nikmat yang disembunyikan oleh-Nya kepada mereka orang-orang yang merahasiakan atau menyembunyikan amalnya, baik amal tersebut berupa shalat di tengah malam, sahdakah dan lain sebagaianya.

Baca Juga :  Inilah Anak-anak yang Dibanggkan oleh Orangtua yang Sudah Meninggal

Imam Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan  perkataan al-Hasan al-Bashri:

قال الحسن البصري: أخفى قوم عملهم فأخفى الله لهم ما لم تر عين، ولم يخطر  على قلب بشر. رواه ابن أبي حاتم

“al-Hasan al-Bashri berkata: kaum menyembunyikan amalnya, maka Alla Swt. menyembunyikan (pula) balasa) untuk mereka. Yaitu (balasan yang) tidak bisa dilihat mata, dan dirasakan oleh hati manusia” (diriwayatkan oleh Abi Hatim).

Dari Abu Hurairah, rasul Saw. bersabda:

قال الله تعالى : أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشرن

“Allah Swt. berkata: Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku berupa sesuatu yang tidak bisa terlihat oleh mata, tidak bisa terdengar telinga dan hati manusia tidak bisa merasakan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Lalu Abu Hurairah berkata: Bacalah (Ayat) “Seseorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata” (Q.S.al-Sajdah: 1).

Amal-amal yang disembunyikan merupakan ibadah yang bernilai tinggi disi-Nya, seperti halnya ibadah sedekah yang disembunyikan. Dalam sebuah hadis disampaikan:

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل الا ظله امام عادل ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه 

“Tujuh orang yang kelak akan mendapatkan naungan Allah Swt. di hari tidak adanya naungan kecuali naungan-Nya, (yaitu) imam yang adil, laki-laki yang bersedekah dengan sedekah yang disembunyikan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kananya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Syaikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bujairimi seorang ahli fiqh, ia dalam karyanya Tuhfah al-Habib ‘Ala al-Khatib menyampaikan:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : ” صَدَقَةُ السِّرِّ فِي التَّطَوُّعِ تَفْضُلُ عَلَانِيَتَهَا بِسَبْعِينَ ضِعْفًا ، وَصَدَقَةُ الْفَرْضِ عَلَانِيَتُهَا أَفْضَلُ مِنْ سِرِّهَا بِخَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ ضِعْفًا “

Baca Juga :  Makna Diamnya Abu Daud Terhadap Suatu Hadis dalam Kitab Sunannya

“Dari Ibnu Abas bahwa sedekah sunah yang disembunyikan melebihi sedekah sunah yang ditampakan dengan selisih tujuh puluh lipat. Dan sedekah wajib dengan cara diperlihatkan lebih utama dari pada disembunyikan dengan berkelipatan dua puluh lima.”

Penyampaian tersebut senada dengan pemaparan Imam al-Nawawi dalam karyanya al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzab menyampaikan;

(واما) الزكاة فيستحب اظهارها باتفاق اصحابنا وغيرهم من العلماء كما ان صلاة الفرض يستحب اظهارها في المسجد والنافلة يندب اخفاؤها

“Zakat sunah menampakanya (sesuai) dengan kesepakatan Ash-habuna (para murid imam al-Syafi;i) dan ulama lainya, sebagaimana shalat wajib sunah ditampakan (dengan dilakukan) dalam masjid dan shalat sunah dianjurkan menyembunyikanya.” 

Amal-amal ibadah yang dianjurkan untuk melakukanya dengan sembunyi-sembunya (sirri) lebih utama dari pada melaksanakanya secara terang-terangan, hal ini bisa berbalik hukum. Artinya menampakan ibadah tersebut akan lebih utama dibandingkan dengan menyembunyikanya. Hal ini adalah di saat ibadah tersebut dilakukan oleh seseorang yang menjadi panutan (dianggap sebagai contoh) oleh orang lain, dilakukanya dengan tujuan supaya orang lain mengikuti (mencontoh)nya dan tidak ada niatan riya serta tidak menyakitkan terhadap orang yang mencontohnya. Abu Bakar bin Muhammad Syatha’ al-Dimyati dalam karyanya I’anah al-Thalibin:

إن أظهرها المقتدى به ليقتدى به ولم يقصد نحو رياء ولا تأذى به الآخذ، كان أفضل.

“Bila seorang panutan menampakannya agar ditirukan, tidak ada riya’ dan tidak menyakitkan orang yang menirunya maka hal itu lebih utama.”

Dari pemaparan di atas, ada satu hal lagi yang perlu diketahui yaitu tentang definsi amal yang disembunyikan dan ditampakkan. Amal yang disembunyikan (sirri) bukanlah amal yang harus tidak terlihat oleh siapapun, begitupula menampakan amal bukan berarti amal harus terlihat oleh orang lain. Dengan demikian amal sirri (amal yang disembunyikan) adalah amal ibadah yang orang lain tidak mengetahui bahwa amal perbuatan tersebut adalah salah satu jenis ibadah dari sipelaku, seperti halnya seseorang memberikan sebagian harta kepada orang lain dan orang lain tersebut tidak menyangka bahwa pemberian tersebut diniati sedekah olehnya. Sebagaimana Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha’ al-Dimyati menyampaikan:

Baca Juga :  Lakukan Tiga Hal Ini Agar Pahala Amal Saleh Menjadi Sempurna

(تنبيه) ليس المراد بالسر ما قابل الجهر فقط، بل المراد أن لا يعلم غيره بأن هذا المدفوع صدقة، حتى لو دفع شخص دينارا مثلا وأفهم من حضره أنه عن قرض عليه أو عن ثمن مبيع مثلا، كان من قبيل دفع الصدقة سرا.

“(Perhatian), yang dikehendaki dengan sirri bukanlah kebalikan dari jahr (terlihat), akan tetapi yang dikehendaki (sirri disembunyikan) adalah orang lain tidak mengetahui bahwa yang diberikan adalah sedekah. Sehingga andaikan seseorang memberikan dinar dan orang yang hadir memahaminya sebagai bayaran hutang atau bayaran barang dagangan maka termasuk kategori sedekah yang disembunyikan (sirri)”.

وجعل بعضهم من الصدقة الخفية: أن يبيع مثلا ما يساوي درهمين بدرهم.

“Sebagian ulama mengkategorikan ke dalam sedekah sirri (pada permasalahan) seseorang menjual barang yang (seharusnya/sebenarnya) seharga dua dinar dan dijual dengan harga satu dinar”.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Artinya: “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak ke luar dari padanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka? Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu dustakan”. (Q.S.al-Sajdah 18-20) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 17; Allah Tak Akan Melalaikan Amal Perbuatan Makhluk-Nya) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here