Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 12-14; Berbuat Baik Sebelum Menyaksikan Keputusan Tuhan di Akhirat

1
143

BincangSyariah.Com – Berbagai dalil dan suritauladan telah disampaikan oleh Muhammad Saw. untuk mengajak umatnya mengikuti jalan yang benar dan berbuat baik, namun pengingkaranpun tidak hentinya terputus sehingga kelak mereka akan merasakan apa yang telah diperbuat. Allah Swt. berfirman:

وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ . وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ. فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Walau tarā iżil-mujrimna nākis ru`sihim ‘inda rabbihim, rabbanā abarnā wa sami’nā farji’nā na’mal ālian innā mqinn. walau syi`nā la`ātainā kulla nafsin hudāhā wa lākin aqqal-qaulu minnī la`amla`anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma’īn. Fa żq bimā nasītum liqā`a yaumikum hāżā, innā nasīnākum wa żq ‘ażābal-khuldi bimā kuntum ta’maln

Artinya:

Jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukan kepalanya di hadapan Tuhanya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”. Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi akan tetaplah perkataan (ketetapan) dari padaku: “Sesungguhnya akan Aku penuhi menaraka Jahannah itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami akan melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan” (Q.S.al-Sajdah; 12-14)

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menampilkan maksud kata kamu dalam kalimat kamu melihat menurut al-Zujaj ialah Muhammad Saw. dan dalam pandangan Ibnu Abas ialah pendosa.

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir mengartikan orang-orang yang berdosa adalah mereka yang berkata “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru” (Q.S.al-Sajdah: 10).

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 21-22; Sebab Malapetaka Menimpa Manusia

Di hadapan Tuhannya diarahkan oleh Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith kedalam arti di saat pembalasan dari-Nya tiba.

Orang-orang yang yakin ialah orang yang telah diberitahu dengan kesamaran (kejelekan) menurut Abu Hayan al-Andalusi dan dalam karyanya disampaikan pendapat ulama lain:

وقيل : موقنون : زالت الآن عنا الشكوك

“Disampaikan (oleh ulama lain) Orang-orang yang yakin artinya (mereka yang) saat ini keraguan telah lenyap darinya”.

Imam al-Thabari dalam karyanya Tafsir al-Thabari mengartikan petunjuk (bagi)nya dengan makna:

رشدها وتوفيقها للإيمان بالله

“Petunjuk dan pertolongan baginya untuk beriman kepada Allah Swt.”

Dan jin dan manusia ialah Ahli maksiat dan kufur kepada Tuhan.

Abu Hayan al-Andalusi mengartikan melupakan kamu dengan arti membalas kamu. Dalam karyanya ia menampilkan pendapat Ibnu Abas dalam mengartikanya dengan makna meninggalkan kamu dari belas kasihan (rahmat).

Imam al-Thabari dalam karyanya mengarahkan maksud  kamu kerjakan ialah kemaksiatanmu.

Pada ayat di atas, Allah Swt. memberikan kabar atas keadaan orang-orang musyrik di hari kiamat. Saat mereka dibangkitkan dari kubur dan berada di hadapan Tuhan untuk menerima pembalasan dari-Nya, mereka semua menundukan kepala merasa malu, hina dan takut serta berkata bahwa mereka saat ini akan mendengarkan perkaat Tuhan dan menta’ati-Nya sebagaimana dalam firman-Nya “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami” (Q.S.Maryam; 38). Oleh karenanya mereka meminta untuk dikembalikan ke dunia dan berjanji akan beramal saleh dan meyakini bahwa janji dan bertemu Tuham adalah hal yang hak.Namun Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan mereka sebagaimana Ibnu Katsir menyampaikan dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir:

أنه لو أعادهم إلى الدار الدنيا لكانوا كما كانوا فيها كفارا يكذبون آيات  الله ويخالفون رسله، كما قال: { وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ } [الأنعام: 27-29]

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 7-9; Adakah Ciptaan Tuhan yang Tak Sempurna?

Sesungguhnya andaikan mereka kembali ke dunia maka niscaya mereka akan kembali seperti semula, yaitu mengkufuri serta menyimpang terhadap ayat-ayat dan utusan-Nya. Sebagaimana firman-Nya “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata; Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman. (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi sebenarnya telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikanya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakanya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula) “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan” (Q.S.al-An’am: _-29).

Pada hakikatnya andaikan Allah Swt. mengehendaki, pastilah Dia akan memberikan petunjuk kepada mereka sehingga hati mereka beriman kepada-Nya dan Dia akan memperlakukan lemah lembut sebagaimana orang mukmin. Akan tetapi ucapan serta kepastian-Nya telah mendahului semuanya sehingga mereka memilih kekufuran, kesesatan, keyakinan yang salah dan amal buruk di dunia dan  Allah Swt. menyiapkan untuk mereka siksaan api neraka sebab di dunia mereka telah meninggalkan amal baik untuk bekal di hari perhitungan sebagai bentuk pembalasan.

Imam al-Suyuti dalam karyanya al-Dur al-Manstur fi al-Tafsir bi al-ma’tsur almenyampaikan sebuah hadis bahwa Abu Hurairah berkata; Aku mendengar rasul Saw. berkata: Sesungguhnya Allah Swt. memberikan tiga alas kepada Adam dan berkata “Hai Adam, andaikan Aku (sebelumnya) tidak melaknat dan memurkai para pendusta dan penyimpang serta menyiksa mereka maka hari ini niscaya Aku menyayangi (mengjauhkan) anak turunmu semua dari siksa yang aku siapkan untuk mereka. Akan tetapi kebenaran perkataanKu untuk orang yang mendustai utusan dan mengdurhakai perintahKu Benar-benar AKu akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya” (Q.S.al-An’am; 18).

Hai Adam, sungguh Aku tidak akan memasukan seseorang dari keturunanmu ke dalam api neraka serta tidak akan menyiksa mereka kecuali orang yang telah Aku ketahui andaikan Aku mengembalikanya ke dunia pastilah ia kembali kepada keburukan yang telah diperbuatnya. Hai Adam, hari ini Aku mengadakan perhitungan antara Aku dan anak turunmu, maka berdirilah disisi timbangan (mizan) lihatlah amal mereka yang di sampaikan kepadamu. Barang siapa kebaikan lebih unggul dari pada keburukanya (walaupun) seberat biji jagung maka baginya surge sehingga kau mengetahui bahwa Aku tidak memasukan ke neraka kecuali orang yang zalim.” (HR.al-Tirmidzi)

Baca Juga :  Tiga Ibu yang Menyusui Nabi Muhammad

Imam Ibnu katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu katsir menyampaikan bahwa ada dua alam yang wujud:

Pertama, alam yang penuh dengan kebaikan yaitu alam malaikat. Dan disebut dengan ‘Alam ‘Ulya (alam yang tinggi).

Kedua, alam yang didalamnya terdapat kebaikan dan keburukan atau yang disebut dengan ‘Alam al-Sufla (alam yang rendah). Alam ini ialah alam kita.     Alam kedua dipenuhi dengan kebaikan yang lebih unggul dari pada keburukan, sebab tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kebaikan walupun itu dari orang kafir sehingga secara keseluruhan, kebaikan yang ada di alam ini lebih banyak dari pada keburukan.

Siksaan neraka diperuntukan untuk mereka penghuni alam kedua sebab dalam ayat yang sharih (jelas) orang kafir (musyrik) oleh-Nya di ancam dengan siksaan neraka dan bahkan iblispun mendapatkan ancaman itu sebagaimana Allah Swt.mengancam kepada Iblis dalam firman-Nya “Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka jahannam dengan jenis kamu dan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya” (Q.S.Shaad: 85) dan para malaikat (‘Alam ‘Ulya) terbebas dari siksa neraka. Dengan demikian memberikan isyarah bahwa Iblis bukanlah dari golongan malaikat sebagaimana pendapat yang kuat.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

  1. […] Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagiandari  rezki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S.al-Sajdah: 15-16) (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 12-14; Berbuat Baik Sebelum Menyaksikan Keputusan Tuhan di Akhirat) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here