Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 10-11; Tugas Malaikat Maut Setiap Hari Sebelum Kiamat

0
68

BincangSyariah.Com – Kekufuran dan pengingkaran orang-orang musyrik selalu menyelimuti hatinya. Berbagai upaya menyadarkan hatinya selalu Muhammad lakukan. Allah Swt. berfirman:

وَقَالُوا أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الْأَرْضِ أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ.  قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Wa qālū a iżā ḍalalnā fil-arḍi a innā lafī khalqin jadīd, bal hum biliqā`i rrabbihi kāfirụn. Qul yatawaffākum malakul-mautillażī wukkila bikum ṡumma ilā rabbikum turja’ụn

Artinya;

“Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru”. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya. Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemuadian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Q.S.al-Rahman: 10-11)

Telah lenyap diartikan oleh Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir dengan arti jasad telah terpecah dan terpisah-pisah serta bercampur dengan tanah. Ibnu katsir dalam karyanya memberikan arti hampir sama:

تمزقت أجسامنا وتفرقت في أجزاء الأرض  وذهبت

“Jasad kita telah terpecah dan terpisah-pisah serta lenyap.” (Baca: Tafsir Surah al-Sajdah Ayat 7-9; Adakah Ciptaan Tuhan yang Tak Sempurna?)

Berbeda dengan Ibnu ‘Asyur dan Ibnu Katsir, ulama lain mengarahkan pada arti telah masuk ke dalam tanah. Wahbah Zuhaili dalam karyanya Tafsir Munir menyampaikan:

غبنا وبلينا

“(Artinya) kita telah telah hilang dan membusuk.”

Ibnu katsir mengartikan Malaikat maut yang dimaksud ialah malaikat ‘Izrail.

Ayat di atas memberikan pengertian bahwasanya secara kasat mata orang-orang musyrik mengingkari adanya kebangkitan dari kematian. Namun Tuhan mengetahui isi hati mereka sehingga Dia menegaskan bahwa sebenarnya yang diingkari oleh mereka bukanlah kebangkitan untuk hidup yang kedua kalinya, akan tetapi mereka mengingkari akan adanya pertemuan dengan Tuhan.

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan tentang arahan makna dari ayat di atas, bahwa orang-orang musyrik tidaklah mengingkari atas kebangkitan hidup yang kedua sebab hal itu bisa dipahami oleh mereka melalui dalil-dalil yang jelas. Dengan demikian pengingkaran mereka sebenarnya sama dengan apa yang diingkari oleh nenek moyangnya yaitu pengingkaran atas pertemuanya dengan Allah Swt. Oleh karena itu semua ayat dan dalil yang menjelaskan kebenaran atas pertemuanya dengan Tuhan setelah kematian, semua itu tidak akan berfaidah untuk mereka.

Baca Juga :  Sejarah Bulan Ramadhan: Ali bin Abi Thalib Mengislamkan Yaman

Ibnu ‘Asyur dalam karyanya al-Tahrir wa al-Tanwir kembali menyampaikan, bahwa  alasan orang musyrik memiliki dua kekufuran yang berbeda antara lahir dan batin, artinya mereka secara kasat mata seakan mengingkari kebangkitan dari kematian namun yang diingakari dalam benak adalah pertemuan dengan Allah Swt:

فإنه كفر بلقاء الله لكنهم أظهروه في صورة الاستبعاد تشكيكا للمؤمنين وترويجا لكفرهم

“(Mereka) mengingkari bertemu dengan Allah Swt. Akan tetapi mereka menampakan (kekufuran terhadap kebangkitan)nya guna untuk membimbangkan kepada para mukmin dan menentramkan terhadap kekufuran mereka.”

Wahbah al-Zuhaili sebagai Ilmuan kontemporer, ia mengarahkan pemahaman dari ayat di atas dalam karyanya Tafsir al-Munir bahwa orang musyrik menyamakan (mengqiyaskan) kekuasaan Tuhan dengan Kemampuan mereka  (yang) tidak mampu menciptakan kebangkitan dari kematian. Dari penyamaan ini berarti mereka sebenarnya mengakui kemampuan Tuhan untuk membangkitkan mereka kembali. Dan yang mereka ingkari adalah bertemunya mereka dengan Tuhan dalam rangka perhitungan dan pembalasan. Oleh karenanya Allah Swt. Berfirman “Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya.” (Q.S.al-Sajdah: 10).

Selanjutnya, Allah Swt. memerintahkan Muhammad Saw. untuk memberikan penolakan kepada kaum musyrikin dengan memberikan perintah kepada Muhammad untuk menyampaikan bahwa sesungguhnya malaikat maut diamanti untuk mencabut nyawa mereka dalam waktu yang telah dipastikan oleh-Nya. Kemudian di masa berakhirnya dunia setelah kematian mereka, semua akan kembali hidup sebagaimana sebelum kematian. Kehidupan kedua itu sebagai bentuk perhitungan dan balasan, orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikanya dan mereka yang telah berbuat buruk akan dibalas dengan keburukanya.

Malaikat yang diamanti untuk mencabut nyawa ialah ‘Izrail, Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan bahwa dalam proses pencabutan nyawa, ‘Izrail dibantu oleh malaikat lainya. Mereka para pembantu ‘Izrail mencabut roh dari semua anggota tubuh hingga saat roh telah sampai tenggorokan, Izrail mengambil roh tersebut. Ulama lain seperti Ibnu ‘Asyur al-Tunisi dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menyampaikan:

Baca Juga :  Tiga Ciri Orang yang Ikhlas dalam Beramal

وجعل الملائكة الموكلين بقبض الأرواح أعوانا له وأولئك يسلمون الأرواح إلى عزرائيل فهو يقبضها ويودعها في مقارها التي أعدها الله لها

“(Allah Swt.) menugaskan para malaikat sebagai wakil dari ‘Izrail untuk mencabut arwah. Mereka (kemudian) memasrahkanya kepada ‘Izrail. Ia mencabutnya dan menempatkan pada tempat (arwah) yang telah disediakan oleh Allah Swt.”

Ibnu Abbas ditanya dari (permasalahan) dua jiwa berada di ujung barat dan timur            yang mati bersamaan dalam kedipan mata “Bagaimana mampu malaikat maut membunuhnya?”. Ia menjawab “Tidaklah kemampuan malaikat maut terhadap penduduk ujung barat dan timur, petang, di udara dan lautan kecuali bagaikan seorang laki-laki yang di (telapak) tanganya terdapat makanan, ia (dapat) mengambilnya dari (sisi) manapun yang dikehendaki.”

Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan bahwa Ja’far bin Muhammad berkata; Saya mendengar Ubay berkata: Rasulullah Saw. menatap malaikat maut berada di atas kepala seorang laki-laki dari golongan Anshor. Nabi berkata kepada malaikat tersebut “Wahai malaikat maut, lemah lembutlah dengan sahabatku karena ia seorang mukmin”. Malaikat maut menjawab “Wahai Muhammad tenanglah, sungguh aku lemah lembut dengan seorang mukmin. Ketahuilah!, bahwa tidak ada gedung dan perkemahan di darat dan bumi kecuali aku mengintainya dalam sehari sebanyak lima kali hingga aku mengetahui masa kecil dan dewasa mereka. Demi Tuhan, wahai Muhammad.  Andaikan aku akan mencabut nyawa nyamuk tidaklah kuasa hingga Allah Swt. Memerintahkanya.” (Riwayat lain) Ja’far berkata; (Malaikat maut) mengintai mereka setiap waktu shalat, ketika akan mencabut nyawa mereka maka bila orang tersebut termasuk golongan orang-orang yang menjaga shalat maka syaitan di jauhkan darinya dan malaikat mendekat mengajarinya kalimat “Laila­ha illaloh Muhammadar rasululloh”.

Abdurrahman bin Abi Bakar al-Suyuti dalam karyanya al-Dur al-Manshur fi al-tafsiri bi al-ma’tsur menyampaikan bahwa Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abas berkata; Di saat Allah Swt. menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya, ia berkata kepada malaikat maut “Wahai malaikat maut, perlihatkan kepadaku bagaimana kamu mencabut nyawa orang kafir.” Lalu malaikat maut menjawab “Wahai Ibrahim, engkau tidak akan kuat”. Ibrahim menjawab “Baiklah”. Kemudian Ibrahim melihat (malaikat maut berubah menjadi) seorang laki-laki hitam yang kepalanya sampai ke langit dan dari mulutnya keluar bara api  serta rambutnya berupa seseorang yang mulut dari telinganya berupa api. Ibrahim berkata “Wahai malaikat maut andaikan orang kafir tidak mengalami cobaan dan kesusahan maka wujudmu cukup untuknya. Perlihatkan padaku bagaimana kau mencabut nyawa seorang mukmin”. Lalu Ibrahim melihat  malaikat maut (berubah menjadi) seorang pemuda yang berwajah sangat bagus dan berpakaian putih dan berkata “Andaikan seorang mukmin saat meninggal tidak mendapatkan ketenangan dan kemulyaan maka wujudmu cukup untuknya”.

Baca Juga :  Benarkah Ruh Hewan juga Dicabut Malaikat Maut?

Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya Tafsir al-Munir menambahkan beberapa hal yang bisa dipetik dari ayat di atas diantaranya:

Pertama, orang-orang musyriK mengingkari kebangkitan dari kematian sebab mereka menyamakan Tuhan dengan kekuasaanya.

Kedua, pada hakikatnya orang musyrik tidaklah mengkufuri kebangkitan akan tetapi mereka meyakini tidak adanya perhitungan (hisab) dan tidak akan bertemu dengan Allah Swt.

Ketiga, dengan kekuasaan-Nya, Dialah yang mematikan makhluk dan malaikat maut hanyalah wakil dari-Nya. Diriwayatkan bahwa saat Allah Swt. Mewakilkan pencabutan nyawa kepada malaikat maut, ia berkata “Engkau menjadikanku disebut-sebut dengan keburukan dan anak adam mencaciku”. Kemudian Allah Swt. menjawab:

أجعل للموت عللا وأسبابا من الأمراض والأسقام ينسبون الموت إليها، فلا يذكرك أحد إلا بخير

“Aku jadikan (buatkan) sakit dan penderitaan sebagai alasan dan sebab atas sebuah kematian, maka tidak seorangpun menyebutmu kecuali dengan kebaikan.”

Keempat, ayat di atas memberikan indikasi atau isyarah bahwa wakalah (perwakilan) merupakan akad yang dilegalkan dalam syari’ah.

Wallahu A’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here