Tafsir Surah al-Rahman Ayat 70-78; Deskripsi Bidadari Surga

0
177

BincangSyariah.Com – Harapan setiap wanita ialah menjadikan dirinya wanita sahlihah di hadapan suami dan Tuhannya. Dambaan ini seakan bisa sirna dan tidak ada guna saat para suami dihadapkan bidadari surga. Allah berfirman:

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ . حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ . لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia” (Q.S.al-Rahman : 70-75)

Pada kedua surga yang telah disampaikan pada artikel sebelumnya, Allah SWT. menempatkan para bidadari yang memiliki paras yang menarik. Pada ayat di atas bidadari tersebut digambarkan dengan memiliki sifat yang baik dan paras yang menarik. Imam Suyuti menyampaikan pendapat Qatadah :

خيرات الأخلاق حسان الوجوه

“(Para bidadari) yang berakhlaq baik dan berwajah menarik”.

Imam al-Razi berkata :

في باطنهن الخير وفي ظاهرهن الحسن

“Mereka (para bidadari) memiliki Lahir dan batin yang baik”.

Tafsir al-Qurthubi menyampaikan :

سعيد بن عامر قال : لو أن خيرة من {خَيْرَاتٌ حِسَانٌ} اطلعت من السماء لأضاءت لها ، ولقهر ضوء وجهها الشمس والقمر

Sa’id bin ‘Amir berkata “Andaikah para bidadari tersebut nampak dari langit maka patilah (langit) akan bersinar karenanya serta sinar wajahnya menundukan matahari dan rembulan”.

Baca Juga :  Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis

Anas meriwayatkan sebuah hadis dari Nabi SAW. beliau bersabda :

إن الحور العين يتغنين في الجنة يقلن :نحن الخيرات الحسان خبئنا لأزواج كرام

Sesungguhnya bidadari bersuara dalam surga, mereka berkata “Kami para bidadari yang baik disembunyikan (diperuntukan) untuk suami yang baik”.

Tafsir al-Qurthubi menampilkan satu hadis :

وروى أنس قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : مررت ليلة أسري بي في الجنة بنهر حافتاه قباب المرجان فنوديت منه السلام عليك يا رسول الله فقلت : يا جبريل من هؤلاء قال : هؤلاء جوار من الحور العين استأذن ربهن في أن يسلمن عليك فأذن لهن فقلن : نحن الخالدات فلا نموت أبدا ونحن الناعمات فلا نبؤس أبدا ونحن الراضيات فلا نسخط أبدا أزواج رجال كرام

Anas meriwayatkan bahwa nabi bersabda ; Saya berjalan dalam surga pada malam isra’ bertemu dengan sebuah sungai, pada mulut sungai itu terdapat beberapa kuba dari biji mutiara. Kemudian tedengar seruan “Assalamu’alaikum yaa rasulallah”. Lalu aku berkata “Hai jibril, siapa mereka?”. Jibril menjawab “Mereka adalah para bidadari. mereka meminta izin kepada tuhan mereka untuk memberi salam kepadamu lalu mereka mendapatkan izin”. Kemudian mereka berkata “Kami abadi tidak mati selamanya, lembut tidak keras selamanya dan kami rela tidak akan murka selamanya kepada suami dari laki-laki yang mulia”.

Keberadaan para bidadari di surga di khususkan dan diperuntukan untuk pasangan atau suami mereka masing-masing sehingga mereka tidak akan menatapkan kedua bola matanya kepada laki-laki selain suaminya dan mereka tidak pernah tersentuh kecuali oleh suami mereka yang menjadi penghuni surga. Jami’ al-Bayan menyampaikan :

قال: قصرن أنفسهنّ وقلوبهن وأبصارهنّ على أزواجهنّ، فلا يردن غيرهم.–وقال آخرون: عُنِي بذلك أنهنّ محبوسات في الحجال.– يقال: خيامهم في الجنة من لؤلؤ

Mujahid berkata “Jiwa, hati dan mata mereka dipingit (dikhususkan) untuk suami mereka sehingga tidak lari kepada selainnya”. Ulama lain berpendapat mereka (bidadari) terkurung dalam (perkemahan) asrama wanita. Perkemahan mereka tercipta dari intan.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 48-55; Gambaran Surga di Akhirat

Dengan kesempurnaanya, para bidadari yang disampaikan dalam al-Qur’an mendapatkan klaim bahwa mereka ialah isri-istri para nabi dan para wanita mu’min (mu’minat) istri para mu’minin (laki-laki mu’min). Pernyataan ini dipelopori oleh Hasan al-Bashri, namun Imam al-Qurthubi menyampaikan :

والمشهور أن الحور العين لسن  من نساء أهل الدنيا وإنما هن مخلوقات في الجنة

“Pendapat yang masyhur atau kuat bahwasanya bidadari bukanlah wanita dunia. Mereka (bidadari) diciptakan dalam surga”.

Keberadaan bidadari yang begitu sempurna, seakan kesempurnaan tersebut tiada duanya. Lantas bagaimana dan seperti apa nasib para wanita dunia kelak di surga?. Tafsir al-Qurthubi menyampaikan ;

Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan siapakah yang paling sempurna antara bidadari dan wanita dunia kelak di surga sebagai berikut :

Pendapat pertama ; paling sempurna ialah bidadari, sebab mereka disebutkan dalam qur’an dan hadis serta dalam do’a nabi kepada seorang mayat “Gantikanlah (untuknya) istri yang lebih baik dari pada istrinya (di dunia)”.

Pendapat kedua ; wanita dunia lebih utama dari pada bidadari dengan selisih tujuh puluh ribu lipat. Imam Hayan berkata :

إن نساء الدنيا من دخل منهن الجنة فضلن على الحور العين بما عملن في الدنيا

“Sesungguhnya para wanita dunia yang memasuki surga, mereka lebih utama dari bidadari sebab amal mereka saat di dunia”.

Berikutnya Allah berfirman :

مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ . فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia” (Q.S.al-Rahman : 76-77)

Mereka para suami bidadari tersebut berteletakan di taman surga yang hijau atau di atas bantal yang hijau (menurut satu versi)  dan permadani yang indah. Dalam ayat ini kata Muttaki’in yang artinya bertelekan atau bersandar disebutkan setelah menyampaikan tentang wanita mereka (para bidadari) dan pada ayat sebelumnya (al-Rahman : 54) kata Muttaki’in disebutkan sebelum menyampaikan tentang wanita mereka (bidadari). Hal ini memberikan hikmah bahwa ahli surga tidak memiliki lelah dan gerakan serta mereka selalu menikmati kenikmatan sebelum atau sesudah berkumpul dengan pasangan mereka.

Baca Juga :  Abu al-Laits as-Samarkandi dan Yahudi yang Sering Baca Biografi Nabi Muhammad

ليعلم أنهم دائم على السكون فلا تعب لهم لا قبل الاجتماع ولا بعد الاجتماع

“Agar diketahui bahwa mereka ahli surga selalu dalam keadaan diam sehingga tidak ada lelah sebelum maupun setelah berkumpul bersama dengan pasangan mereka” ( Mafatihu al-Ghaib)

Dan berikut ialah ayat penutup dalam surah al-Rahman :

تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia” (Q.S.al-Rahman : 78)

Ayat penutup dalam surah al-Rahman ini memberikan pengertian bahwa Allah SWT. ialah dzat yang harus diagungkan tidak didurhakai, dimulyakan untuk disembah, disyukuri tidak dikufuri dan disebut serta diingat tidak dilalaikan. Sebagai penutup Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Wasith menyampaikan :

وهذه الخاتمة تدلّ على بقاء أهل الجنة ذاكرين اسم الله، منزهين له، مستمتعين به. وأما أوصاف نعيم الدنيا فختمت بما يشير إلى فناء كل شيء من الممكنات يوم القيامة مع بقاء الله: وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرام

(Ayat) penutup ini menunjukan kekekalan ahli surga dalam menyebut dan mensucikan-Nya. Sifat-sifat dari kenikmatan dunia diakhiri dengan sesuatu yang memberikan isyarah akan rusaknya segala sesuatu ( mumkinat) di hari kiamat dan kekalnya Allah SWT. “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (al-Rahman :27).

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here