Tafsir Surah al-Rahman Ayat 7-9; Kecurangan dan Ketidakadilan di Mata Agama

0
1553

BincangSyariah.Com – Sering kali kerusakan dan perselisihan muncul akibat perbuatan buruk dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Itu dilakukan manusia dengan sifat kecurangan, ketidakadilan, dan kerakusan yang ada di dalam dirinya. Untuk itu Allah berfirman:

وَالسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَان

“ Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakan neraca” (Q.S.al-Rahman :07).

Pada awal ayat ini Allah memberikan perhatian dan penegasan akan keberadaan langit yang memiliki derajat, sebab di sana tempat sumber keputusan dan hukum-Nya serta tempat para malaikat yang turun membawakan wahyu kepada para nabi, demikian penyampaian atas awal ayat di atas dalam tafsir al-Bahrul al-Muhith. Imam al-Baidhawi dalam Tafsir-nya menyampaikan hal yang senada:

والسماء رفعها خلقها مرفوعة محلا ومرتبة فإنها منشأ أقضيته ومتنزل أحكامه ومحل ملائكته

Allah telah meninggikan langit” artinya Dia menciptakanya dalam keadaan tinggi dari sisi tempat dan derajat karena sebagai tempat munculnya keputusan, hukum dan keberadaan para malaikatNya ”.

Berikutnya para ulama tafsir, seperti Abu ‘Abdillah Muhammad al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan perbedaan pendapat atas pengertian neracara ( al-Mizan) pada ayat di atas sebagai berikut:

Pertama, al-Mizan yang dimaksud adalah keadilan, berarti Allah menetapkan serta memerintahkan adanya keadilan di bumi. Penyampaian ini dipelopori oleh Mujahid dan Qatadah. Cendekiawan kontemporer Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasith senada :

العدل بأن وفر على كل مستعد مستحقه ووفى كل ذي حق حقه حتى انتظم أمر العالم واستقام كما قال ( صلى الله عليه وسلم ) بالعدل قامت السموات والأرض

(al-Mizan) adalah keadilan dengan cara memberikan kepada yang berhak sesuai haknya sehingga alam akan tertata dan seimbang, sebagaimana sabda nabi SAW. “ Dengan keadilan, langit dan bumi akan tegak”.

Kedua, al-Mizan adalah hukum syari’ah, berarti Allah memerintahkan penegakan hukum syari’ah.

Baca Juga :  Bahaya Mengkonsumsi Makanan Haram Menurut Imam Ghazali

Ketiga, al-Hasan berpendapat al-Mizan yang dimaksud adalah alat yang gunakan untuk menimbang. al-Tafsir al-Wasit menyampaikan :

ما يعرف به مقادير الأشياء من ميزان ومكيال ونحوهما-إلى أن قال- أراد وصف الأرض بما فيها مما يظهر به التفاوت ويعرف به المقدار ويسوى به الحقوق والمواجب

“(al-Mizan) diartikan sesuatu yang dipakai untuk mengetahui jumlah timbangan dan takaran sesuatu. Allah menyampaikan adanya sesuatu di bumi yang bisa digunakan untuk membedakan dan mengetahui ukuran serta mengseimbangkan hak dan kewajiban”.

Keempat, al-Mizan yang dimaksudkan adalah neraca perbuatan. Artinya Allah berkehendak meletakanya di akhirat guna untuk menimbang amal perbuatan manusia.

Selanjutnya allah berfirman :

أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَان

“ Supaya kamu jangan melampaui batas dalam neraca itu”( Q.S.al-Rahman : 8 )

Ayat di atas menegaskan atas larangan untuk melampaui batas dalam al-Mizan. Bermula dari perbedaan dalam mengartikan al-Mizan pada ayat sebelumnya maka ulama berselisih dalam memahami “larangan melampaui batas“ pada ayat tersebut. Al-Qurthubi menyampaikan:

فمن قال : الميزان العدل قال طغيانه الجور. ومن قال : إنه الميزان الذي يوزن به قال طغيانه البخس. قال ابن عباس : أي لا تخونوا من وزنتم له. وعنه أنه قال : يا معشر الموالي! وليتم أمرين بهما هلك الناس : المكيال والميزان. ومن قال إنه الحكم قال : طغيانه التحريف

“ Barang siapa berpendapat al-Mizan adalah keadilan maka melampauinya berarti ketidakadilan dan penindasan. Pendapat yang menyatakan al-Mizan merupakan alat yang digunakan untuk menimbang maka malampaui ialah mengurangi takaran. Ibnu Abas berkata :” ( arti ayat di atas ) janganlah kalian berbuat curang atau menipu dalam menimbang untuk orang lain. Penguasa ! kalian menguasai dua hal yang bisa menyebabkan manusia rusak, yaitu takaran dan timbangan ”. Dan pendapat bahwa al-Mizan adalah hukum ( syari’ah ) maka melampauinya berarti mengubah (menyimpangkan)”.

Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir berkata :

Baca Juga :  Izhar Asatir al-Mudhillin fi Tasyabbuhihim al-Muhtadi : Kitab Kritik Tarikat milik Haji Rasul

فمعنى الطغيان في العدل الاستخفاف بإضاعته وضعف الوازع عن الظلم. ومعنى الطغيان في وزن المقدرات تطفيفه.

“ Arti melampaui batas dalam keadilan ialah merendahkan dengan membiarkanya  dan pihak berwenang membiarkan penganiayaan. Dan melampaui batas dalam timbangan ( takaran ) adalah kecurangan”.

Setelah adanya larangan melampaui batas pada ayat di atas, maka Allah lebih menegaskan dengan perintahnya :

وَأَقِيمُواْ الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلاَ تُخْسِرُواْ الْمِيزَانَ

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”( Q.S.al-Rahman : 9)

Pada ayat tersebut muncul sebuah perintah untuk adil dalam menimbang dan larangan mengurangi timbangan, sehingga Qatadah berkata :

آعدل يا ابن آدم كما تحب أن يعدل لك ، وأوف كما تحب أن يوفى لك ، فإن العدل صلاح الناس

“ Berbuat adilah anak adam !, sebagaimana kamu menginginkan keadilan dan tepatilah seperti kamu menginginkan untuk ditepati”.

Di sisi lain ayat tersebut juga melarang kecurangan. Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menyampaikan arti larangan pada ayat di atas :

فإن حمل الميزان فيه على معنى العدل كان المعنى النهي عن التهاون بالعدل – إلى ،ت قال- وإن حمل فيه على آلة الوزن كان المعنى النهي عن غبن الناس في الوزن لهم كما قال تعالى في سورة المطففين [3 ] {وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ} .

Apabila al-Mizan berdasarkan arti adil maka artinya dilarang untuk meremehkan keadilan. Dan bila al-Mizan diartikan alat penimbangan maka dilarang menipu dan berbuat curang kepada orang lain dalam menimbang. Sebagaimana Allah berfirman pada surah al-Muthafifin ayat tiga “ Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.

Tafsir al-Qurthubi menyampaikan pendapat lain dari sebagian ulama terkait larangan tersebut :

Baca Juga :  "An-Nadhafatu Minal Iman", Hadis atau Bukan?

المعنى ولا تخسروا ميزان حسناتكم يوم القيامة فيكون ذلك حسرة عليكم

“ Artinya adalah janganlah mengurangi timbangan amal kebaikan kalian di hari kiamat, sehingga kerugian melanda kalian”.

Wahbah al-Zuhaili berkata :

وأما ما لا يقدر البشر عليه من تحرير الميزان وتسويته بدقة، فهو موضوع عن الناس

“ Sesuatu yang tidak mampu bagi manusia memperbaikinya dalam menimbang dan menyesuaikanya secara akurat maka tidak dipermasalahkan “.

Penyampaian serupa diterangkan dalam al-Bahrul Muhith:

وأما مالا يقدر عليه من التحرير بالميزان فمعفو عنه

“Ketidakmampuan memperbaiki dalam menimbang mendapatkan toleransi.“

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here