Tafsir Surah al-Rahman Ayat 56-61; Bidadari dari Golongan Manusia dan Jin

1
624

BincangSyariah.Com – Bidadari sering kali menjadi dambaan setiap hamba kelak di dalam surga. Allah Swt. telah menyiapkanya untuk mereka seperti dalam firman-Nya:

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ . فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukan pandanganya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.al-Rahman: 56-57)

Ayat di atas menyampaikan keberadaan bidadari dalam surga dalam keadaan sangat terjaga. Mereka tidak pernah dan tidak akan pernah melemparkan pandanganya kecuali kepada pasangan mereka di surga dan mereka tidak pernah disetubuhi atau (dalam versi lain) tidak pernah menerima sentuhan sebelumnya kecuali dari pasangan mereka.

Disampaikan dalam al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsiri bi al-Mantsur li al-Suyuti bahwa Ibnu Mardawiyah meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari kakenya bahwa Rasul SAW. menjelaskan arti ayat tersebut :

لا ينظرن إلا إلى أزواجهن

“Para bidadari tidaklah memandang kecuali kepada pasanganya”

Imam al-Razi menyampaikan:

فيها دلالة عفته

“Ayat tersebut menunjukan keterjagaanya para bidadari”

Selanjutnya, apa yang ada di mata para bidadari hanyalah para mukmin (penghuni surga). Sehingga di waktu mereka dipertemukan dengan pasanganya, hanya kata-kata manis yang terucap dari bibir mereka. Ucapan tersebut disampaikan dalam Tafsir Ibnu Katsir :

والله ما أرى في الجنة شيئا أحسن منك، ولا في الجنة شيئ أحب إلي منك، فالحمد لله الذي جعلك لي وجعلني لك

“Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu yang lebih bagus dari pada dirimu. Dan aku tidak mencintai sesuatu dalam surga yang melebihi rasa cintaku kepadamu. Maka segala puji bagi Allah dzat yang telah menciptakanmu untuk aku dan menciptakanku untukmu.”

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa kelak yang akan masuk surga tidak hanya para mukmin dari golongan manusia, akan tetapi para jin mukmin juga akan masuk ke dalam surga.

Baca Juga :  Hidup Berbangsa dan Bernegara Menurut Ibnu Taimiyah

Imam al-Suyuti dalam karyanya menyampaikan bahwa Arthah bin Mundzir berkata; “Kami bertukar wawasan bersama Dlomroh bin Habib, (saya bertanya) apakah jin kelak akan masuk surga?” Dia menjawab “Benar, hal tersebut dibenarkan dalam al-Qur’an Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin (Q.S.al-Rahman 56). Pasangan bagi (penghuni surga) golongan jin laki-laki adalah jin perempuan dan bagi manusia (laki-laki) adalah perempuan (dari golongan manusia)”.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya menyampaikan :

وقيل : أي لم يطمث ما وهب الله للمؤمنين من الجن في الجنة من الحور العين من الجنايات جن ، ولم يطمث ما وهب الله للمؤمنين من الإنس في الجنة من الإنس في الجنة من الحور العين من الإنسيات إنس

“Disampaikan (oleh sebagian ulama) bahwa bidadari dari golongan jin yang diberikan kepada para mukmin dari golongan jin tidak tersetubuhui oleh jin lain. Bidadari dari golongan manusia yang diberikan kepada para mu’min dari golongan manusia tidak tersetubuhui oleh orang lain.”

Berikutnya Allah menyampaikan sifat dari para bidadari dalam firman-Nya :

كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ . فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.al-Rahman : 58-59)

Abi Sa’id al-Khudri meriwayatkan sebuah hadis bahwa Nabi SAW. dalam menjelaskan ayat (di atas) berkata :

ينظر إلى وجهها في خدها أصفى من المرآة وإن أدنى لؤلؤة عليها لتضيء ما بين المشرق والمغرب وإنه يكون عليها سبعون ثوبا ينفذها بصره حتى يرى مخ ساقها من وراء ذلك

“Pipi pada wajahnya (bidadari) terlihat lebih jernih dari pada kaca. Bila mendekati akan terlihat (bagaikan) permata diwajahnya (yang) menyinari bagian timur hingga barat. Dia (bidadari) memakai tujuh puluh pakaian, pandangan mata masih menembusnya hingga bagian dalam betis dari arah belakangnya” (dinukil dari karya Imam al-Suyuti).

Kemudian Allah menyampaikan sebab adanya balasan seperti di atas dalam firman-Nya :

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 48-55; Gambaran Surga di Akhirat

هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ . فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.al-Rahman : 60-61)

Ayat di atas menegaskan adanya sebuah balasan di akhirat atas kebaikan yang telah diperbuat saat berada di dunia. Wahbah al-Zuahili berkata :

وهذه آية وعد وبشرى لنفوس جميع المؤمنين

“Ayat ini merupakan janji dan sebagai kabar gembira untuk hati para mu’min”

Dijelaskan oleh Imam al-Suyuti dalam karyanya bahwa Jabir bin Abdillah menyampaikan sebuah hadis dari rasululloh SAW. saat rasul menyampaikan ayat di atas :

هل جزاء من أنعمت عليه بالإسلام إلا أن أدخله الجنة

“Tidak ada balasan bagi orang yang telah diberi ni’mat islam kecuali Dia memasukanya dalam surga”.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : {هل جزاء الإحسان إلا الإحسان} وقال : هل تدرون ما قال ربكم قالوا : الله ورسوله أعلم قال : يقول : هل جزاء من أنعمت عليه بالتوحيد إلا الجنة.

Rasul SAW. berkata “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (Q.S.al-Rahman 60). Dan apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Tuhan kalian?”. Para sahabat berkata “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Nabi kembali berkata “Tidak ada balasan bagi orang yang telah Engkau beri ni’mat tauhid (meng-Esakan) kecuali surga” (HR.al-Tirmidzi).

Dari Ibnu Abas bahwa ayat di atas diturunkan untuk menjelaskan keberadaan balasan bagi mu’min dan kafir. Muhammad bin Hanafi berkata :

هي مسجلة للبر والفاجر

“(Ayat tersebut) sebagai arsip atau catatan bagi orang yang berbuat baik dan pelaku maksiat”.

{هل جزاء الإحسان} أي : بالطاعة من الإنس والجن وغيرهما {إلا الإحسان} أي : بالثواب

Baca Juga :  Doa Ketika Mendengar Kalimat ‘Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban’ dalam Surah Al-Rahman

“Tidak ada balasan kebaikan yang artinya sebuah ketaatan dari manusia, jin dan lainya kecuali kebaikan artinya balasan (atas kebaikan yang diperbuatnya)” (Tafsir al-Siraj al-Munir).

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here