Tafsir Surah al-Rahman Ayat 5-6; Matahari-Bulan Beredar pada Orbit dan Bintang-Pohon Bersujud

1
1487

BincangSyariah.Com – Setelah Tuhan menyatakan bahwa diri-Nya adalah Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, serta beberapa nikmat-Nya yang diberikan kepada umat manusia pada bagian awal dari surah al-Rahman, (Baca: Tafsir Surah al-Rahman Ayat 1-4; Anugerah Tuhan untuk Nabi Muhammad), selanjutnya Allah dalam firman-Nya menyebutkan dua nikmat besar yang berada di langit dan bumi:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Matahari dan rembulan (beredar) menurut perhitunganya. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan itu tunduk kepada-Nya ”(Q.S. al-Rahman: 05-06)

Ayat kelima ini dipahami oleh para ulama sebagai berikut:

Imam Ahmad al-Shawi dalam kitab Hasyiyah-nya atas Tafsir al-Jalalain memahami bahwa ayat tersebut menegaskan keberadaan matahari dan bulan beredar pada satu orbit, sehingga dari peredaran ini manusia dapat mengambil kemanfaatan berupa adanya pergantian musim dan bulan. Pernyataan senada dari Imam al-Baidhawi dalam kitabnya:

الشمس والقمر بحسبان يجريان بحساب معلوم مقدر في بروجهما ومنازلهما وتتسق بذلك أمور الكائنات السفلية وتختلف الفصول والأوقات ويعلم السنون والحساب

“ Matahari dan rembulan beredar menurut perhitunganya, perhitungan yang jelas dalam tempatnya (orbitnya). Peredaran tersebut mempengaruhi segala sesuatu yang berada di bawahnya dan terjadi pergantian musim dan waktu, serta tahun dan perhitungan.”

Tentang peredaran matahari dan bulan dari ayat di atas, al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyampaiakan bahwa keduanya memiliki garis orbit masing-masing :

فهو كقوله تعالى كُلٌّ فِى فَلَكٍ ( الأنبياء 33) لا بمعنى أن الكل مجموع في فلك واحد

Garis orbit sebagaimana firman Allah “masing-masing  dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (Q.S.al-Anbiya: 33), tidak berarti keduanya terkumpul dalam satu garis orbit.

Namun al-Razi kembali menegaskan bahwa dengan adanya kekuasaan Tuhan, keduanya mungkin beredar dalam satu orbit dengan tanpa berbenturan.

Baca Juga :  Benarkah Surah Yasin Mempermudah Sakratulmaut? Begini Kesaksian Buya Hamka

Demikian ayat kelima memberikan pengetahuan penting tentang penegasan atas keberadaan matahari berputar mengelilingi bumi pada orbitnya. Hal ini sebagaimana penegasan dalam Fatawa ismail zain yang meluruskan pemahaman atas revolusi bumi:

نظما عن كون الأرض هل هو دائرة أم ثابتة؟

– إلى أن قال- ومن يقول بأنها تدور     فهو برأي باطل مغرور

إذ نفي أن تميــــد قد أفـــــــــــــــادا     أن لاتدور فافهم الرشـــاد

“(Dalam bentuk nazam) keberadaan bumi apakah berputar (mengelilingi matahari) ataukah menetap? Barang siapa berpendapat keberadaan bumi berputar (mengelilingi), maka orang tersebut berpendapat yang salah dan tertipu, sebab pendapat tersebut ditiadakan. Sungguh memberikan pengertian bumi tidaklah berputar (mengelilingi), maka pahamilah kebenaran.”

Setelah penyampaian di atas, ayat keenam dipahami oleh al-Razi dalam Mafatihl Ghaib bahwa tumbuhan dan pepohonan melakukan sujud kepada Tuhan dan al-Razi menyampaikan perselisihan pendapat tentang bagaimana sujud yang dilakukan oleh keduanya, sebagai berikut:

أحدها ما ذكرنا من سجود الظلال ثانيها خضوعهما لله تعالى وخروجهما من الأرض ودوامهما- إلى أن قال – فشبه النبات في مكانها بالسجود لأن الساجد يثبت ثالثها حقيقة السجود توجد منهما وإن لم تكن مرئية كما يسمح كل منهما وإن لم يفقه كما قال تعالى وَلَاكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ  الإسراء 44

رابعها السجود وضع الجبهة أو مقاديم الرأس على الأرض والنجم والشجر في الحقيقة رؤوسهما على الأرض وأرجلهما في الهواء لأن الرأس من الحيوان ما به شربه واغذاؤه وللنجم والشجر اغتذاؤهما وشربهما بأجذالهما- إلى أن قال – فالنجم والشجر رؤوسهما على الأرض دائماً فهو سجودهم

Pendapat pertama, sujud tumbuhan dan pohon ialah dengan bayanganya. Kedua, sujud  keduanya dengan merasa rendah kepada Allah dan keluar dari dalam bumi serta menetap. Menetapnya di atas bumi dianggap sujud, sebab sujud pastilah diam dan menetap. Ketiga, keduanya melakukan sujud semestinya walaupun tidak terlihat. Sebagaimana keduanya bertasbih walaupun tidak dimengerti, seperti firman-Nya“ Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (Q.S.al-Isra’ :  44).

Keempat, sujud ialah dengan meletakan jidat atau bagian depan kepala di atas bumi, tumbuhan dan pohon pada hakikatnya kepala mereka berdua berada di dalam bumi dan kakinya di udara. Sebab kepala dari binatang adalah anggota yang dipakai untuk minum dan makan, tumbuhan dan pohon makan dan minum dengan tonggaknya. Maka kepala keduanya berada di dalam bumi dan itulah sujud mereka.”

Baca Juga :  Kisah Polemik Mengaji Sifat 20 di Medan dan Bukittinggi di Awal Abad ke-20

Sebagai penutup dari dua ayat di atas, al-Razi menyampaikan :

تدل على فاعل مختار سخرهما على وجه مخصوص ولو اجتمع من في العالم من الطبيعيين والفلاسفة وغيرهم وتواطئوا أن يثبتوا حركتهما على الممر المعين على الصواب المعين والمقدار المعلوم في البطء والسرعة لما بلغ أحد مراده إلى أن يرجع إلى الحق ويقول حركهما الله تعالى كما أرا

“Pergerakan matahari dan bulan menunjukan adanya Zat yang menggerakanya dengan cara tertentu. Andaikan manusia di alam semesta (cendekiawan, ahli filsafat dan lain sebagainya ) bersepakat menetapkan pergerakan matahari dan bulan di atas jalan dan pergerakan yang ditentukan, maka kehendak mereka tidak akan tercapai hingga mereka mengembalikan semuanya kepada yang benar dan berkata, “Allah menggerakan keduanya sebagaimana terlihat.“

Adanya  keberadaan matahari dan bulan membawa beribu kemanfaatan bagi makhluk hidup, sebab dengan tidak adanya peredaran dari keduanya maka hal negatif akan melanda dunia, contoh kecil akan terselimutinya dunia oleh kegelapan dan perekonomian seperti pertanian akan hancur sebab tidak akan ada pergantian musim. Tumbuhan dan pepohonan adalah sumber rezeki bagi makhluk hidup, dengan tidak ada keduanya maka manusia tidak akan dapat hidup seperti umumnya. Imam al-Razi dalam Mafatihul Ghaib menyampaikan:

فإن الرزق أصله منه ولولا النبات لما كان للآدمي رزق إلا ما شاء الله- إلى أن قال – لأن الرزق إما نباتي وإما حيواني كاللحم واللبن وغيرهما من أجزاء الحيوان ولولا النبات لما عاش الحيوان والنبات وهو الأصل

“ Rezeki bersumber dari tumbuhan, andaikan tidak ada tumbuhan maka manusia tidak akan memperoleh rezeki kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sebab rezeki adakalanya berjenis tumbuhan dan binatang seperti daging, susu dan lainya dari bagian-bagian binatang. Andaikan tidak ada tumbuhan maka binatang tidak akan hidup”.

Wallahu A’lam.

 

Baca Juga :  Dua Peristiwa Penting di Bulan Jumadil Akhir

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here