Tafsir Surah al-Rahman Ayat 46-47; Sikap Orang yang Takut di Hadapan Tuhan

1
1007

BincangSyariah.Com – Keperkasaan dan keberanian merupakan idaman setiap bagi seorang insan, lain halnya dengan Tuhan. Dia memberikan perlakuan spesial kepada para makhluk yang memiliki rasa takut dalam benaknya. Allah SWT berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ .فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhanya ada dua surga. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.al-Rahman : 46-47)

Ayat di atas diturunkan saat Abu Bakar al-Shidiq menyebutkan kejadian hari kiamat dan hisab serta keberadaan surga dan neraka. Selesai dari penyampaianya, dia berkata “Aku ingin menjadi hijau-hijauan yang dimakan oleh binatang dan tidak diciptakan (dibangkitkan). Seusai penyampaianya ini, turunlah ayat “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhanya ada dua surga” (Q.S.al-Rahman : 46). (Baca: Tafsir Surah al-Rahman Ayat 41-45; Para Pendosa Tak Bisa Mengelak dari Siksa Neraka)

Tafsir al-Munir menyampaikan:

وقال الضحاك : بل شرب ذات يوم لبناً على ظمأ فأعجبه فسأل عنه ، فأخبر عنه أنه من غير حل فاستقاءه ورسول الله صلى الله عليه وسلم ينظر إليه فقال : رحمك الله لقد أنزلت فيك آية وتلا عليه الآية

 “al-Dhahhak menyampaikan bahwa pada suatu hari Abu Bakar meminum susu sebab haus yang dia rasakan lalu ia merasa bahagia dan senang. Kemudian dia bertanya akan air susu tersebut lalu dikabarkan bahwa susu itu tidaklah halal. Kemudian dia memuntah-muntahkannya. Rasul melihatnya dan berkata “Allah menyayangimu, sungguh telah diturunkan padamu sebuah ayat” dan Dia membacakan ayat (di atas) kepada Abu Bakar”.

والصحيح أن هذه الآية عامة كما قاله ابن عباس وغيره

“Pendapat yang shahih bahwa sesungguhnya ayat ini umum (tidak terkhusus untuk Abu Bakar) sebagaimana penyampaian Ibnu Abas dan lainya” (Tafsir IBnu Katsir)

Untuk memahami secara penuh maksud dan kandungan dari ayat di atas maka terlebih dahulu perlu di ketahui arti kalimat “Khofa Maqooma Rabbihi” pada ayat tersebut.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 29-30; Tuhan Merasa Sibuk Kabulkan Doa Hamba-Nya?

Tafsir al-Qurthubi menyampaikan arti kalimat tersebut bahwa barang siapa yang takut atas berdirinya di hadapan Tuhan kelak pada hari perhitungan amal kemudian (sebab rasa takut tersebut) dia meninggalkan kemaksiatan.

Ulama lain berpendapat:

وقيل : خاف قيام ربه عليه أي إشرافه واطلاعه عليه ، بيانه قوله تعالى : {أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ} وقال مجاهد وإبراهيم النخعي : هو الرجل يهم بالمعصية فيذكر الله فيدعها من خوفه

Disampaikan (arti kalimat di atas) ialah bahwa barang siapa merasa takut atas pengawasan dan perhatian Tuhan kepadanya. (Arti tersebut) diperjelas oleh ayat “Maka apakah Tuhan yang menyaksikan setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya?) (Q.S.al-Ra’du : 33). Mujahid dan Ibrahim al-Nakha’i berkata “Dia seorang laki-laki yang berniat melakukan kemaksiatan lalu ingat kepada Allah (atas pengawasan-Nya) kemudian meninggalkan (kemaksiatan tersebut) sebab rasa takutnya”.

Demikian dapat dipahami bahwa maksud ayat di atas menegaskan atas siapa saja yang merasa takut di hadapan Tuhan kelak pada hari perhitungan atau takut kepada-Nya atas perhatian serta pengawasan dari-Nya, kemudian ia meninggalkan kemaksiatan maka surga sebagai jaminan baginya.

Tafsir Ibnu Katsir menyampaikan:

يقول تعالى: ولمن خاف مقامه بين يدي الله، عز وجل، يوم القيامة، { وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى } [ النازعات:40 ]، ولم يطغ، ولا آثر الدنيا، وعلم أن الآخرة خير وأبقى، فأدى فرائض الله، واجتنب محارمه، فله يوم القيامة عند ربه جنتان، كما قال البخاري، رحمه الله

“Allah menyampaikan bahwa bagi siapapun merasa takut di hadapan Allah kelak di hari kiamat, “Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya” (Q.S.al-Nazi’aat : 40), tidak sewenang-wenang, tidak mengutamakan dunia serta menyakini bahwa akhirat lebih baik dan kekal. Kemudian menunaikan kewajiban dari Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya maka di hari kiamat mendapatkan dua surga di sisi Tuhanya. Sebagaimana penyampaian al-Bukhari”.

Diriwayatkan dari Abi al-Darda’ bahwa suatu waktu Rasulullah SAW. berada di atas mimbar dan berkata “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhanya ada dua surga”. Lalu aku bertanya “Walalupun dia berzina dan mencuri?”. Rasul berkata “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhanya ada dua surga”. Aku kembali bertanya kedua kalinya “Walalupun dia berzina dan mencuri?”. Rasul menyampaikan jawaban yang sama lalu aku bertanya ketiga kalinya “Walalupun dia berzina dan mencuri?”. Rasul menjawab ketiga kalinya “Walaupun dia berzina dan mencuri kepadas Abi al-Darda” (HR.al-Nasa’i)

Baca Juga :  Ini 3 Wasiat Fatimah Putri Rasulullah Menjelang Ajal pada Suami Tercinta

Selanjunya, dua surga yang dijanjikan dalam ayat di atas diperjelas oleh para ulama tafsir sebagai berikut:

Abu Hayan al-Andalusi dalam karyanya al-Bahru al-Muhith menjelaskan:

قيل : إحداهما منزله ، والأخرى لأزواجه وخدمه.وقال مقاتل : جنة عدن ، وجنة نعيم. وقيل : منزلان ينتقل من أحدهما إلى الآخر- إلى أن قال – وقيل : هما للخائفين والخطاب للثقلين ، فجنة للخائف الجني ، وجنة للخائف الإنسي. وقال أبو موسى الأشعري : جنة من ذهب للسابقين ، وجنة من فضة للتابعين. وقال الزمخشري : ويجوز أن يقال : جنة لفعل الطاعات ، وجنة لترك المعاصي 

Disampaikan (arti dua surga) bahwa salah satunya sebagai tempat tinggalnya dan lainya sebagai tempat bagi para istri dan pelayanya. Muqatil berpendapat ialah surga ‘And dan Na’im.  Disampaikan (dua surga tersebut) dua tempat guna berpindah dari salah satunya. Dua surga untuk dua golongan yaitu surga untuk mereka yang memiliki rasa takut dari golongan jin dan satu surga lainya untuk mereka yang merasa takut dari golongan manusia. Abu Musa al-Asy’ari berkata “Surga dari emas untuk para al-Sabiqun dan surga dari perak untuk para Tabi’in”. Al-Zamakhsyari berkata “Surga sebagai balasan atas keta’atan dan surga sebab meninggalkan kemaksiatan”.

Berikutnya, dari ayat di atas Mafatihul Ghaib memahami bahwa hamba di mata Allah ada dua macam yaitu Khaif dan Khasyi.

Pertama, Khaif ialah keberadaan hamba yang menatap atas kekurangan dan kelemahan dirinya. Dari tatapan ini akan menumbuhkan rasa takut yang disebut dengan khaif.

Kedua, Khasyi ialah mereka yang melihat atas keagungan Tuhan, dengan pandanganya terhadap keagungan-Nya maka akan menimbulkan rasa takut pada dirinya hingga dia disebut dengan Khaif.

Disampaikan:

Baca Juga :  Malam Ini Nisfu Sya'ban, Ini Amalan Sunah Nabi Muhammad dan Ulama Salaf

لكن درجة الخاشي فوق درجة الخائف فلهذا قال إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء جعله منحصراً فيهم

“Bahkan derajat khasyi di atas derajat khaif. Oleh karenanya Allah berfirman “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (Q.S.Fatir : 28). Allah menghususkan keberadaan khasyi hanya terdapat pada ulama.

وإذا كان هذا للخائف فما ظنك بالخاشي

“Saat hal ini (balasan dua surga) bagi seorang khaif, maka bagaimana dugaanmu (balasan) bagi khasyi?” (Mafatihu al-Ghaib).

Tafsir Ibnu Katsir kembali menyampaikan :

وهذه الآية عامة في الإنس والجن، فهي من أدل دليل على أن الجن يدخلون الجنة إذا آمنوا واتقوا؛ ولهذا امتن الله تعالى على الثقلين بهذا الجزاء فقال: وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ . فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Ayat ini umum pada manusia dan jin serta merupakan dalil (terkuat) atas keberadaan jin kelak akan masuk surga ketika mereka beriman dan bertaqwa. Oleh karenanya Allah memberikan anugrah kepada dua golongan ini (manusia dan jin) dengan balasan ini “Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhanya ada dua surga. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S.al-Rahman :46-4)”.

 Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here