Tafsir Surah al-Rahman Ayat 37-40; Kengerian Hari Kiamat

0
1215

BincangSyariah.Com – Pada ayat sebelumnya Alla Swt. telah menyampaikan adanya nyala api yang membara di hari kiamat dan selanjutnya menyampaikan adanya hal dan kejadian yang lebih mengerikan. Allah berfirman:

فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka apabila langit telah terbelah dan menajdi merah mawar seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S.al-Rahman : 37-38)

Pada ayat di atas disampaikan keadaan hari kiamat yang begitu dahsyat hingga langit terpecah belah dan berwarna merah serta pada waktu inilah para malaikat turun dari langit.

Keadaan langit berubah begitu dahsyat dan malaikat turun kebumi, lantas bagaimana dengan para penduduk bumi? Allah berfirman pada ayat berikutnya :

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ .فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Pada waktu itu manusi tidak ditanya tentang dosanya. Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. al-Rahman: 39-40)

Ayat di atas merupakan pernyataan bahwa kelak di hari kiamat tidak akan ada pertanyaan kepada hambah-Nya (jin dan manusia) atas amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Namun pada ayat lain disampaikan akan adanya pertanyaan kepada mereka, seperti dalam ayat “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu” (Q.S.al-Hijr : 92-93). Untuk itu para ulama tafsir menjelaskan maksud dari ayat di atas sebagai berikut:

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan beberapa pendapat ahli tafsir mengenai ayat di atas sebagai berikut :

Pertama, sesungguhnya hari di saat kiamat sangat lama, oleh karenanya dalam sebagian waktu tidak ditanya oleh-Nya atas perbuatan yang telah dilakukan mereka dan pada waktu atau kesempatan lain mereka menerima pertanyaan dari-Nya, pendapat ini dipelopori oleh ‘Ikrimah. Dalam Tafsir Ibnu katsir disampaikan :

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 70-78; Deskripsi Bidadari Surga

فهذا في حال، وثَمّ حال يسأل الخلائق فيها عن جميع أعمالهم، قال الله تعالى: { فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ }

Hal ini (tidak adanya pertanyaan) terjadi pada satu kesempatan. Lalu pada kesempatan lain para makhluk ditanya atas semua amal perbuatanya, (oleh karenanya) Allah berfirman ““Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu” (Q.S.al-Hijr: 92-93).

Kedua, tidak adanya pertanyaan (dari ayat di atas) ilalah di saat mereka telah berada di dalam neraka.

وكأن هذا بعد ما يؤمر بهم إلى النار، فذلك الوقت لا يسألون عن ذنوبهم، بل يقادون إليها

Hal ini (tidak ada pertanyaan) setelah mereka diperintahkan untuk memasuki neraka dan justru mereka digiring untuk memasukinya” (Tafsir Ibnu Katsir).

Ketiga, dari Ibnu Abas dan Mujahid ayat di atas diartikan bahwa para manusia dan jin tidak ditanya atas apa yang telah diperbuatnya sebab Allah telah mengetahui semua amal perbuatan mereka dan telah dicatat oleh para malaikat dan pertanyan yang dilemparkan kepada mereka ialah pertanyaan tentang alasan atas perbuatanya. Tujuan dilontarkannya pertanyaan tersebut ialah sebagai teguran dan celaan dari Tuhan atas perbuatan mereka. Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Wasith berkata:

قال ابن عباس رضي الله عنهما: إن السؤال متى أثبت فهو بمعنى التقرير والتوبيخ، ومتى نفي فهو بمعنى الاستخبار المحض والاستعلام، لأن الله تبارك وتعالى عليم بكل شيء

Ibnu Abas berpendapat “Adanya pertanyaan hanyalah (pertanyaan alasan) sebagai teguran dan celaan. Yang dimaksud tidak ada pertanyaan ialah pertanyaan untuk mencari tahu kabar atas apa yang telah diperbuat (mereka), sebab Allah SWT. Adalah dzat yang Maha mengetahui segala sesuatu”.

Keempat, pada awalnya mereka ditanya oleh Tuhan, kemudian mulut mereka disegel dan ditutup lalu masing-masing anggota tubuh mereka berkata (menyampaikan apa yang telah diperbuat)  dan menjadi saksi atas perkataan mereka. Pendapat ini dijelaskan oleh Qatadah.

Baca Juga :  Muhammad Asad dan Tafsir "The Message of The Qur’an"

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi berkata “Allah akan menemui seorang hamba dan berkata “Apakah Aku tidak memulyakan, menjadikan pemimpin, menjodohkan, memberi kemanfaatan kuda dan unta, menumbuhkan kepada kamu?” dia menjawab “Iya, tentu saja”.

Lalu Allah kembali berkata “Apakah kamu tidak mengira (akan) bertemu Aku?” hamba menjawab “Tidak”. Kemudian Dia berkata “Aku telah melupakanmu seperti kamu telah melupakan-Ku”.

Allah menemui dan menanyai si-hamba dengan hal sama sebanyak empat kali kemudian si-hamba berkata “Wahai Tuhanku, aku beriman kepada-Mu, kitab dan utusan-Mu serta aku shalat, puasa, shadaqah dan melakukan kebaikan semampuku”. Dia berkata “Dimana itu semua? sekarang aku bangkitkan saksi yang telah menggores (mencatat) persaksianmu kepada-Ku”.

Lalu Allah SWT. Menyegel (menutup) mulutnya dan berkata kepada paha, daging dan tulang mereka “Berkatalah!”. Lalu mereka mengatakan apa yang telah diperbuat mereka masing-masing. Itulah orang munafiq, orang yang dimurkai oleh-Nya.

Kelima, al-Hasan berpendapat bahwa mereka tidak ditanya atas dosa-dosa mereka sebab adanya tanda pada mereka masing-masing. Wahbah al-Zuhaili berkata :

لا يسأل أحد من الإنس ولا من الجن عن ذنبه، لأنهم يعرفون بعلامتهم عند خروجهم من قبورهم

“Mereka tidak ditanya atas dosanya karena telah diketahui dengan adanya tanda disaat keluar dari kubur”.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here