Tafsir Surah al-Rahman Ayat 22-23; Tempat Asal Mutiara

1
422

BincangSyariah.Com – Pada ayat-ayat yang telah lewat, Allah menyampaikan berbagai ni’mat dan anugrah-Nya kepada para makhluk. Dan pada ayat ini Allah berfirman :

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ .فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَان

“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?“ (Q.S. al-Rahman: 22-23)

Dari penyampaian ayat di atas, pertamakali yang perlu diketahui ialah pengertian dari Lu’lu’ dan Marjan menurut ahli tafsir. Berikut adalah pengertian dari keduanya berdasarkan penjelasan dalam Tafsir al-Qurthubi:

Pertama, disampaikan oleh Ibnu Abas dan Ali bahwa arti Lu’lu’ ialah mutiara besar dan mutiara kecil disebut dengan Marjan. Penyampaian senada diungkapkan dalam Tafsir Ibnu Katsir:

واللؤلؤ معروف، وأما المرجان فقيل: هو صغار اللؤلؤ. قاله مجاهد، وقتادة، وأبو رزين، والضحاك. وروي عن علي

Arti Lu’lu sudah diketahui, dan Marjan adalah Mutiara kecil. Hal ini disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, Abu Razin dan al-Dhahak yang diriwayatkan dari Ali.”

Kedua, dalam pandangan ulama lain, Lu’lu adalah mutiara kecil dan Marjan sebaliknya. Di antaranya diungkapkan dalam Tafsir Ibnu Katsir:

وقيل: كباره وجيده. حكاه ابن جرير عن بعض السلف

“Konon (Marjan) adalah mutiara terbesar dan terindah. Demikian disampaikan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ulama salaf.”

Ketiga, Ibnu Mas’ud dan Abu Malik berpendapat Lu’lu’ ialah mutiara dan Marjan adalah merjan atau manik-manik dari batu karang merah. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disampaikan:

قال السدي، عن أبي مالك، عن مسروق، عن عبد الله قال: المرجان: الخرز الأحمر. قال السدي وهو البُسَّذ بالفارسية

al-Sadi dari Abi Malik dari Masruq dari Abdillah berkata, “Marjan adalah manik-manik dari batu karang merah.“ Menurut al-Sadi benda itu disebut Bussadz dalam bahasa Persia.

Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir hampir senada dalam menjelaskan maksud dari Marjan:

و {المرجان} : حيوان بحري ذو أصابع دقيقا ينشأ لينا ثم يتحجر ويتلون بلون الحمرة ويتصلب كلما طال مكثه في البحر فيستخرج منه كالعروق تتخذ منه حلية ويسمى بالفارسية بسذ

“Marjan adalah binatang laut yang berjari-jari kecil dan muncul dalam keadaan lunak lalu mengeras dan berwarna merah dengan sebab lamanya berdiam di laut. Kemudian mengeluarkan seperti urat dan dari urat ini diambil perhiasan berupa Bussadz dalam bahasa Persia.“

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan pendapat lain tentang pengertian Marjan:

وقيل: هو نوع من الجواهر أحمر اللون

“Konon (Marjan) adalah jenis Intan berwarna merah.“

Selanjutnya kandungan lain dari ayat di atas ialah menjelas proses dan tempat terjadinya Lu’lu’ dan Marjan. Untuk tempat kedua benda berharga ini berada pada dua lautan yang telah disampaikan dalam artikel sebelumnya, yang berarti keduanya diciptakan oleh Allah pada dua lautan tersebut, baik muncul pada masing-masing dari dua laut itu ataupun hanya pada salah satunya.

Lu’lu’ dan Marjan berada pada dua lautan, yang berarti kedua benda berharga ini berada pada air asin. Imam al-Qurthubi menegaskan:

وإنما يخرج من الملح

“ Sesungguhnya keluar dari air asin “

Ibnu ‘Asyur menyampaikan pula:

لأن الؤلؤ والمرجان يكونان في البحر الملح

“Karena sesunguhnya Lu’lu dan Marjan muncul dalam laut asin.“

Kemudian apabila berbijak dari pengertian dua lautan adalah air tawar dan dan asin seperti penyampaian pada tulisan yang lalu, maka kedua benda berharga ini muncul pada pertemuan dua air ini. Ibnu ‘Asyur menyampaikan :

وإن كان المراد بالبحرين: البحر الملح، والبحر العذاب – إلى أن قال- أي يخرج اللؤلؤ والمرجان بسببهما، أي بسبب مجموعهما، أما اللؤلؤ فأجوده ما كان في مصب الفرات على خليج فارس

“ Apabila arti dua lautan adalah laut berair asin dan air tawar, keduanya muncul sebab perkumpulan kedua air tersebut. Mutiara terbaik berada pada mulut sungai Efrat yang berada pada Teluk Persia (Persian Gulf)”.

Selanjutnya untuk proses terciptanya “ Lu’lu” dan Marjan “ disampaikan oleh Imam Ibnu katsir:

قال ابن عباس: ما سقطت قط قطرة من السماء في البحر، فوقعت في صدفة إلا صار منها لؤلؤة. وكذا قال عكرمة، وزاد: فإذا لم تقع في صدفة نبتت بها عنبرة. وروي من غير وجه عن ابن عباس – إلى أن قال- قال: إذا أمطرت السماء، فتحت الأصداف في البحر أفواهها، فما وقع فيها -يعني: من قطر-فهو اللؤلؤ.

Ibnu abas berkata bahwa disaat tetesan air hujan jatuh pada laut lalu mengenai kerang maka menjadi mutiara dan pendapat ini senada dengan penyampaian Ikrimah. Kemudia dia menambahkan uraian  “ ketika ( tetesan hujan ) tidak mengenai karang maka tumbuh menjadi Anbar ( bahan bibit minyak wangi ). Diriwayatkan dari  jalur lain  Ibnu Abas berkata “ Disaat hujan, kerang-kerang di lautan membuka mulutnya. Kemudian air hujan yang jatuh pada mulutnya maka menjadi mutiara”.

Dalam Tafsir al-Qurthubi disampaikan:

وقيل : إن العذب والملح قد يلتقيان ، فيكون العذب كاللقاح للملح ، فنسب إليهما كما ينسب الولد إلى الذكر والأنثى وإن ولدته الأنثى ، لذلك قيل : إنه لا يخرج اللؤلؤ إلا من وضع يلتقي فيه العذب والملح.

“ Dikatakan ( oleh sebagian ulama ) bahwa terkadang air asin dan tawar bertemu maka air tawar bagaikan vaksin untuk air asin. oleh karenanya mutiara tidaklah muncul kecuali pada tempat berkumpulnya air tawar dan asin “.

Ibnu ‘Asyur menyampaikan:

يخرج اللؤلؤ والمرجان بسببهما، أي بسبب مجموعهما أما اللؤلؤ فأجوده ما كان في مصب الفرات على خليج فارس

 “Keduanya muncul sebab perkumpulan kedua air tersebut (air tawar dan air asin). Mutiara terbaik berada pada mulut sungai Efrat yang berada pada Teluk Persia (Persian Gulf).”

 Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here