Tafsir Surah al-Rahman Ayat 17-21; Bukti Kebenaran Sains Al-Qur’an

0
362

BincangSyariah.Com – Pada ayat sebelumnya Allah telah menjelaskan keberadaan matahari dan bulan beredar pada orbitnya. Dari peredaran ini menunjukan adanya tempat terbit dan terbenam. Lalu Allah berfirman:

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

“Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit Matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya“ (Q.S. al-Rahman: 17).

Dua tempat terbit dan terbenam pada ayat tersebut adalah tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan hujan menurut Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasith, yang  berarti Allah menjaga, mengatur dan memelihara matahari sehingga terjadi empat musih di bumi yaitu  semi, panas, gugur dan dingin serta terjadi beberapa iklim seperti iklim sedang, dingin, tropis dan subtropis.

Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyampaikan:

مما في ذلك من الفوائد التي لا تحصى كاعتدال الهواء واختلاف الفصول وحدوث ما يناسب كل فصل فيه إلى غير ذلك

“Dari ayat di atas terdapat berbagai manfaat dan faidah yang tidak terhitung seperti muncul iklim tropis, pergantian musim dan terjadinya berbagai hal pada tiap musim serta lain sebagainya.”

Dengan adanya berbagai nikmat tersebut, Allah kembali berfirman:

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُما تُكَذِّبانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?“ (Q.S. al-Rahman : 18)

Setelah Allah menegaskan bahwa Dia yang mengatur dan menguasai masyriq dan Maghrib maka selanjutnya Ia menyampaikan ciptaan-Nya yang berada di berbagai belahan bumi. Allah berfirman:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَان.بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِ. فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?“ (Q.S. al-Rahman : 19-21).

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa dua lautan tersebut mengalir dan bertemu, namun terdapat batas di antara keduanya. Kemudian pengertian tersebut diuraikan oleh para ulama, seperti Abu Abdillah Muhammad Syamsudin al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menjelaskan:

Ahli tafsir mengartikan dua Lautan dalam ayat tersebut sebagai berikut :

Pertama, Ibnu Abbas mengartikanya lautan di langit dan bumi, yang artinya air hujan dan air laut. Sebagaimana penyampaian dalam al-Muharrar al-Wajiz:

وقال ابن عباس أيضاً هو مطر السماء سماه بحراً وبحر الأرض

Baca Juga :  Pembagian Surah dalam Al-Quran

“Ibnu Abbas berpendapat lautan dimaksud ialah air langit (hujan) yang disebutkan (dalam Al-Qur’an) dengan kata al-Bahr (lautan) dan lautan di bumi.”

Kedua, al-Hasan dan Qatadah mengarahkanya kepada arti Teluk Persia dan Laut Tengah.

Ketiga, dua lautan dalam ayat tersebut ialah air tawar dan air asin (air laut), pendapat ini dipelopori oleh Ibnu Juraij. Dan didukung oleh sebuah ayat dalam penyampaian Tafsir Ibnu Katsir :

والمراد بقوله: { البحرين } الملح والحلو- إلى أن قال – وقد قدمنا الكلام على ذلك في سورة “الفرقان” عند قوله تعالى: { وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا } [ الفرقان:53 ]

Maksud dari dua laut adalah air asin (air laut) dan air tawar. Dan penjelasan tersebut telah lewat pada surah al-Furqan pada firman-Nya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi (Q.S. al-Furqan: 53).

Dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibnu ‘Asyur menjelaskan demikian:

وهما نهر الفرات وبحر العجم المسمى اليوم بالخليج الفارسي

“ Keduanya ialah Sungai Efrat dan Teluk Persia”.

Keempat, disampaikan oleh sebagian ulama :

بحر المشرق والمغرب يلتقي طرفاهما

“Lautan timur dan barat, ujung dari keduanya bertemu.“

 Dalam referensi lain, dua lautan ini di artikan Laut Merah dan Teluk Oman. Ibnu ‘Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir menyampaikan:

فالأظهر أن المراد البحر الأحمر-إلى أن قال- وبحر عمان وهو بحر العرب الذي عليه حضرموت وعدن من بلاد اليمن

“Pendapat yang kuat bahwa (dua lautan) adalah Laut Merah dan Teluk Oman yang berada pada Laut Arab. Daerah Aden dan Hadlra Maut dari negara Yaman berada di tepinya (tepi laut Arab)”.

Selanjutnya, ahli tafsir memperjelas arti batas (Barzakhan) pada ayat di atas:

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyampaikan tentang pengertian batas tersebut berdasarkan perbedaan pendapat tentang maksud dua lautan (al-Bahrain) pada keterangan di atas, sebagai berikut:

Pertama, berdasarkan pendapat pertama (Ibnu Abbas) yang mengartikan dua lautan adalah lautan di langit ( air hujan ) dan air laut maka batas ini adalah ruang antara langit dan bumi. Dan hal ini disampaikan oleh al-Dhahak.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 29-30; Tuhan Merasa Sibuk Kabulkan Doa Hamba-Nya?

Kedua, mengacu pada pendapat kedua dari pengertian dua lautan maka pembatas ini adalah tanah Hijaz . Artinya antara Teluk Persia dan laut Tengah dibatasi oleh wilayah Hijaz yang sehingga keduanya tidak saling  bercampur menjadi satu.

Dalam sejarah tertuang bahwa pada asalnya jalur perdagangan antara Teluk Persia menuju Laut Tengah dirasa sangat jauh maka orang-orang menggali tanah untuk mempermuda jalur perdangangan. Galian ini dikenal dengan Terusan Suez.

Ketiga, selain dari pendapat pertama dan kedua dalam pengertian dua lautan maka pembatas ini ialah kekuasaan Allah. Artinya dengan kekuasaan tuhan maka kedua lautan tersebut tidak dapat saling bercampur menjadi satu.

Pembuktian Kandungan Ayat

Selanjutnya pembenaran pernyataan ayat di atas  tentang adanya pertemuan dua air laut yang tidak saling bercampur menjadi satu (berdampingan) sudah diperkuat dengan penemuan dan penyampaian Sains dari berbagai sumber oleh para cendekiawan kontemporer. Contoh kecil adalah pertemuan antara Laut Atlantik yang memasuki Laut Tengah melalui selat Gibraltar. Dalam pertemuan ini, karakteristik masing-masing tidak berubah disaat keduanya bertemu.

Dalam al-Bahr al-Muhith dijelaskan demikian:

فالمعنى : لا يبغيان حالا غير الحال التي خلقا عليها وسخرا لها

“Artinya ialah kedua lautan tersebut tidak akan melampaui keadaan ( sifat ) yang telah diciptakan dan diperuntukan untuk masing-masing.“

Berdasarkan arti Dua Lautan yang diarahkan pada teluk Oman dan laut Merah pada penjelasan di atas, Ibnu ‘Asyur menjelasakan dalam Tahrir wa Tanwir:

والبرزخ الذي بين هذين البحرين هو مضيق باب المندب حيث يقع مرسى عدن ومرسى زيلع

Pemisah antara laut Merah dan teluk Oman ialah Bab al-Mandab Strait, yang di sekitarnya terdapat pelabuhan Zeila dan ‘Aden “.

Selanjutnya Ibnu ‘Asyur menjelaskan tentang pemisah antara air laut dengan air tawar :

والمراد بالبرزخ الذي بينهما: الفاصل بين الماءين الحلو والملح بحيث لا يتغير أحد البحرين طعم الآخر بجواره. وذلك بما في كل ماء منهما من خصائص تدفع عنه اختلاط الآخر به

“ Arti pembatas antara keduanya ialah membatasi antara air tawar dan asin sekira rasa masing-masing tidak berubah akibat berkumpul. Sebab kedua air tersebut memiliki karakteristik dan sifat sendiri yang tidak akan bercampur”.

Sebuah hadis menyampaikan :

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 48-55; Gambaran Surga di Akhirat

أن الله تعالى كلم الناحية الغربية فقال : إني جاعل فيك عبادا لي يسبحوني ويكبروني ويهللوني ويمجدوني فكيف أنت لهم ؟ فقالت : أغرقهم يا رب. قال : إني أحملهم على يدي ، وأجعل بأسك في نواحيك. ثم كلم الناحية الشرقية فقال : إني جاعل فيك عبادا يسبحوني ويكبروني ويهللوني ويمجدوني فكيف أنت لهم ؟ قالت : أسبحك معهم إذا سبحوك ، وأكبرك معهم إذا كبروك ، وأهللك معهم إذا هللوك ، وأمجدك معهم إذا مجدوك ، فأثابها الله الحلية وجعل بينهما برزخا ، وتحول أحدهما ملحا أجاجا ، وبقي الآخر على حالته عذبا فراتا

Allah berbicara kepada wilayah barat “ Aku menciptakan hamba-hambaKu untuk menempatimu, mereka bertasbih, bertakbir, tahlil dan memulyakanKu, maka apa yang akan kamu perbuat ?”. Wilayah barat menjawab “ Aku akan menenggelamkan mereka”. Dia menjawab “ Aku akan menjaga mereka di atas kekuasaanKu, dan Aku jadikan kerusakan pada wilayahmu “.

Kemudian Dia berkata kepada wilayah timur “Aku menciptakan hamba-hamba untuk menempatimu, mereka bertasbih, bertakbir, tahlil dan memulyakanKu, maka apa yang akan kamu perbuat ?”

Wilayah timur menjawab “Aku akan bertasbih, bertakbir, bertahlil dan memulnyakaMu ketika mereka melakukanya”. Kemudian Allah memberinya intan permata dan membatasi antara keduanya ( tidak bercampur lebur ). Dan salah satunya menjadi asin serta pahit dan lainya tetap dalam keadaan tawar dan segar (HR. al-Tirmidzi).

Pembuktian pertemuan air tawar dengan air asin diperkuat dan dibuktikan dengan keberadaan Sungai Efrat yang mengalir dan bertemu di Teluk Persia ( Persian Gulf ). Sebagaimana Ibnu ‘Asyur sampaikan dalam al-Tahrir wa al-Tanwir :

فالمقصود ما يعرفه العرب من هذين النوعين وهما نهر الفرات وبحر العجم المسمى اليوم بالخليج الفارسي. والتقاؤهما انصباب ماء الفرات في الخليج الفارسي. في شاطىء البصرة، والبلاد التي على الشاطىء العربي من الخليج الفارسي تعرف عند العرب ببلاد البحرين لذلك

“ Yang dimaksud ( dua lautan ) ialah Sungai Efrat dan Teluk Persia (Teluk Arab/Persian Gulf). Pertemuan keduanya degan mengalirnya Sungai Efrat melalui daerah Bashrah dan daerah tepi teluk hingga pada Teluk tersebut (Persian Gulf).”

Wallahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here