Tafsir Surah al-Rahman Ayat 10-13; Fasilitas Allah di Bumi untuk Makhluk Hidup

0
405

BincangSyariah.Com – Setelah Allah menyebutkan keberadaan nikmat-Nya di langit, lantas menyampaikan beberapa kenikmatan yang begitu banyak di bumi. Allah berfirman :

وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأنَامِ

“Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-Nya” (Q.S. al-Rahman: 10)

Pada ayat di atas disampaikan bahwa Allah membentangkan bumi agar dimanfaatkan dan diperuntukan oleh-Nya untuk al-Anam. Siapakah al-Anam? Dalam al-Bahrl al-Muhith dijelaskan:

وَالْأَرْضَ وَضَعَها لِلْأَنامِ : أي خفضها مدحوة على الماء لينتفع بها

Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-Nya. Artinya Allah membentangkanya di atas air agar dimanfaatkan

Para ulama berbeda pendapat mengenai tafsir arti al-Anam dalam ayat di atas. Perselisihan ini disampaikan dalam Tafsir al-Qurthubi:

الأنام الناس عن ابن عباس. الحسن : الجن والإنس. الضحاك : كل ما دب على وجه الأرض ، وهذا عام

Al-Anam adalah manusia menurut Ibnu Abas, menurut pandangan al-Hasan ialah jin dan manusia. al-Dhahak berpendapat segala sesuatu yang melata di atas bumi (manusia, jin dan binatang) dan pemahaman ini lebih umum

Imama Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkomentar:

وهم: الخلائق المختلفة أنواعهم وأشكالهم وألوانهم وألسنتهم، في سائر أقطارها وأرجائها

Mereka (al-Anam) adalah para mahluk yang bermacam-macam rupa, bentuk, warna dan bahasanya di berbagai wilayah 

Kemudian Allah menciptakan berbagai sumber kehidupan di bumi sebagai nikmat dari-Nya dan berfirman :

فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ

Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya (Q.S. al-Rahman :11-12).

Pada ayat di atas, Allah menyebutkan berbagai sumber kehidupan sebagai nikmat-Nya kepada makhluk di bumi. Beberapa nikmat tersebut diantaranya buah-buahan dengan berbagai jenis warna, rasa dan aroma, pohon kurma, berbagai macam bebijian sebagai makanan pokok seperti gandum, jewawut, jagung, padi dan lain sebagainya, kemudian daun padi kering (al-Ashfu) atau jerami sebagai makanan binatang dan tumbuhan yang beraroma wangi (bunga).

Baca Juga :  B.J Habibie, Komnas Perempuan dan Semangat Anti-Kekerasan

Terkait penyampaian ayat di atas, Fakhrudin Muhammad bin Umar al-Tamimi al-Razi al-Syafi’i dalam karyanya Mafatih al-Ghaib menyebutkan beberapa hikmah yang terkandung dalam penyebutan ayat di atas:

Pertama, al-Fakihah (buah) disebutkan terlebih dahulu kemudian al-Nakhl (kurma) lalu al-habb (bebijian). Hal ini memberikan pengertian bahwa buah memiliki kemanfaatan di bawah kurma sebab kurma dapat dijadikan makanan pokok, lain halnya dengan buah. Sedangkan kurma kemanfaatanya di bawah bebijian walaupun sama-sama dapat dijadikan makanan pokok, sebab kurma hanya dapat dikelola pada daerah yang panas, lain halnya bebijian diciptakan oleh allah diberbagai belahan bumi.

Kedua, buah-buahan disebutkan dalam bentuk nakirah (umum) dengan tanpa disertai alif lam atau al, sedangkan lainnya dalam bentuk ma’rifah (khusus) dengan menggunakan alif lam. Hal ini memberikan arti bahwa buah-buahan memiliki berbagai rasa sesuai keinginan orang yang mengonsumsinya seperti manis, asam dan lain sebagainya lain halnya dengan lainya.

Ketiga, buah-buahan hanya diperlukan pada sebagian waktu oleh sebagian manusia, sedangkan lainya lebih khusus artinya dibutuhkan oleh manusia setiap waktu sebagai makanan pokok sehingga penyebutan buah-buahan dalam bentuk umum ( nakirah ) dan lainya dalam bentuk lebih khusus (ma’rifah)

Keempat, al-Razi berkata:

وإنما ذكرهما لأنهما يؤولان إلى المقصود من أحدهما علف الدواب ومن الآخر دواء الإنسان

Kulit dan bunga disebutkan untuk menunjukan bahwa kulit dapat dimanfaatkan untuk makanan binatang dan bunga dapat dijadikan obat oleh manusia

Setelah Allah menyampaikan berbagai nikmat yang diciptakan di atas bumi, lantas berfirman:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. al-Rahman: 13).

Pada ayat di atas, Imam al-Shawi dalam kitab Hasyiyah-nya menyampaikan:

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Mulk Ayat 25-26: Azab Allah Itu Pasti   

ويصح أن يكون للتوبيخ على ما فصل من فنون النعم الموجبة للشكر والإيمان

(Pertanyaan ayat di atas) dapat diartikan sebagai bentuk teguran dan penegasan atas berbagai ni’mat yang seharusnya disyukuri dan diimani”.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here