Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 8-9: Beribadah pada Allah dengan Sepenuh Hati

0
219

BincangSyariah.Com – Allah tak pernah bosan mengimbau hamba-Nya supaya mengingat keagungan-Nya. Tak seorang pun–termasuk Nabi Muhammad Saw.–luput dari imbauan-Nya supaya selalu mengingat-Nya dan senantiasa menyebut-menyebut nama-Nya. Kita juga diminta untuk beribadah pada Allah dengan sepenuh hati.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 8-9;

وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَیۡهِ تَبۡتِیلࣰا ۝  رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِیلࣰا ۝

Wadzkur isma rabbika wa tabattal ilaihi tabtilan, rabbul masyriqi wal maghribi la ilaha illa huwa fattakhidzhu wakilan.

Artinya:

“Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” [Q.S. Al-Muzzammil (73): 8-9] (Baca: Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 6-7: Ini Alasan Nabi Diperintah Shalat Malam)

Selanjutnya akan dijelaskan secara rinci lafal-lafal yang terdapat dalam kedua ayat di atas. Menurut penafsiran Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Al-Jalalain, memang secara simpel maksud dari kalimat “wadzkur isma rabbika” ialah sebuah imbauan supaya mengucapkan basmalah setiap akan membaca Al-Qur’an.

Berdasarkan penafsiran tersebut, Imam Ahmad Ash-Shawi memberikan penafsiran tambahahan, yakni imbauan untuk melanggengkan menyebut nama Allah dalam berbagai keadaan dan berbagai cara. Baik dengan tasbih, tahmid, tahmid, takbir dan lain sebagainya.

Adapun lafal “wa tabattal ilaihi tabtilan”, jika merujuk pendapat Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan Ad-Dhahak, maka secara khusus diartikan sebagai perintah supaya ikhlas dan dengan sepenuh hati dalam menjalankan ibadah pada Allah Swt. Penafsiran inilah yang kemudian disepakati oleh jumhur mufassirin sebagai penafsiran yang paling mendekati benar. Imam Ahmad Ash-Shawi, dalam Hasyiyah Ash-Shawi juga menyebutka penafsiran sebagaimana penafsiran di atas.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 5:  Al-Qur'an Merupakan Perkataan yang Berat

Terkait kalimat “rabbul masyriqi wal maghribi”, terdapat dua cara penafsiran, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir.

Pertama, lafal “masyriq wal maghrib” diartikan sebagai arah timur dan barat. Artinya, Allah adalah Dzat yang menjadi tuhan dari seluruh ruang. Dasar dari penafsiran ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 15, Al-Baraqah ayat 142, Al-Baqarah ayat 177, dan ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang menguasai arah timur dan barat, serta segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Dari penafsiran yang pertama ini, Imam At-Thabari mengajukan sebuaah simpulan bahwa maksud dari ayat ini yang berarti Tuhan penduduk timur dan penduduk barat, serta yang berada diantara keduanya adalah seluruh alam, tanpa terkecuali.

Kedua, lafal “masyriq wal maghrib” diartikan sebagai waktu terbit dan waktu magkrib. Artinya, Allah adalah Dzat yang menjadi tuhan seluruh waktu. Penafsiran yang kedua ini berdasar pada hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Yaitu ayat yang menjelaskan tentang waktu siang dan waktu malam.

Lafal “fattakhadzu wakilan” menurut Imam Ibnu Katsir menunjukkan sebuah perintah supaya ikhlas dalam beribadah dan menjalankan ketaatan semata-mata karena Allah Swt. Karena hanya Allah lah tempat menggantungkan segala perkara.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan bahwa surah Al-Muzzammil ayat 8 memuat sebuah perintah kepada Nabi Muhammad untuk memperbanyak mengingat-Nya, mengabdikan diri untuk beribadah kepada-Nya bilamana telah selesai dari menjalani hal-hal yang menyibukkan. Meskipun, sejatinya Nabi Muhammad tak membutuhkan perkara dunia, (aktsir min dzikrihi wa tafarragh li’ibadatihi idza faraghta min ashghalika wa ma tahtaju ilaihi min umuri dunyaka).

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Al-Insyirah ayat 7, “fa idza faraghta fanshab”, yang mengandung sebuah seruan supaya meneguhkan diri untuk beribadah dan menjalankan ketaatan setelah selesai menjalankan pekerjaan lain.

Baca Juga :  Tuduhan-Tuduhan Batil Terhadap Tradisi Maulid Nabi

Adapun ringkasan tafsir surat Al-Muzzammil ayat 8-9, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnu ‘Asyur adalah; bahwasanya Nabi diimbau supaya tak sekali pun mengosongkan waktunya dari menghadap dan beribadah kepada Allah. Selain itu juga supaya Nabi selalu menunjukkan dan mengajak menuju agama yang sebenarnya. Sebagaimana diketahui bersama, bahwasanya Nabi Muhammad bukanlah orang yang lupa kepada Allah, sehingga peringatan ini memberikan faidah kepada seluruh umatnya supaya tak sekali-kali melupakan Allah.

Setelah membaca berbagai penafsiran di atas, ada yang perlu menjadi catatan penting untuk kita. Yakni ketika Allah mengimbau untuk mengingat dan menyebut-nyebut nama-Nya, kemudian mengimbau untuk bisa menyembah-Nya dengan sepenuh hati, Allah juga menyebutkan sebabnya. Sebab tersebut terkandung dalam firman-Nya di ayat selanjutnya. Yakni bahwasanya Allah adalah Tuhan pemilik arah timur dan barat (menurut penafsiran pertama), serta waktu terbit dan waktu maghrib (menurut penafsiran kedua), yang tiada Tuhan selain-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here