Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 6-7: Ini Alasan Nabi Diperintah Shalat Malam

1
1280

BincangSyariah.Com – Melalui surah Al-Muzzammil, Nabi diperintah shalat malam, Allah bahkan mewajibkannya untuk Nabi menurut sebagian ulama. Sebagaimana diketahui bahwasanya kewajiban ini berlaku pada awal diturunkannya wahyu. Tepatnya sebelum diwajibkannya shalat liwa waktu bagi Rasul dan umat beliau.

Melalui surah Al-Muzzammil pula, Allah memerintahkan untuk membaca Al-Quran secara perlahan (tartil), khususnya pada waktu malam. Adapun alasan mengapa dikhususkannya waktu malam pada saat itu, Allah menjelaskan secara gamblang dalam surah Al-Muzzammil ayat keenam dan seterusnya. Dalam tulisan ini, akan dijelaskan alasan tersebut, tentunya dengan merujuk pendapat ulama ahli tafsir.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 6-7:

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّیۡلِ هِیَ أَشَدُّ وَطۡـࣰٔا وَأَقۡوَمُ قِیلًا ۝  إِنَّ لَكَ فِی ٱلنَّهَارِ سَبۡحࣰا طَوِیلࣰا ۝

Inna Nasyiatal laili hiya asyaddu wath’an wa aqwamu qilan, inna laka fin nahari sabhan thawilan.

Artinya:

Sungguh, waktu malam itu lebih kuat dan lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. [Q.S. Al-Muzzammil (73): 6-7] (Baca: Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 5:  Al-Qur’an Merupakan Perkataan yang Berat)

Para ahli tafsir bersepakat bahwasanya surah Al-Muzzammil ayat 6 berisi tentang alasan mengapa Allah mengkhususkan waktu malam dalam perintah-Nya kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan shalat. Oleh karenanya, surah Al-Muzzammil ayat 6 dinyatakan memiliki kaitan erat dengan lafal “qumil laila” yang terdapat dalam surah Al-Muzzammil ayat 2.

Karena adanya kaitan ini, Imam Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir mengajukan sebuah redaksi penafsiran dan mengaitkannya dengan surah Al-Muzzammil ayat 2. Beliau menafsirkannya dengan redaksi; qumil laila lianna nasyiatahu asyaddu wat’an wa aqwamu qilan (bangunlah untuk shalat pada waktu malam, karena bangun pada waktu malam itu lebih kuat mengisi jiwa dan bacaan pada waktu malam itu lebih berkesan).

Baca Juga :  Ini Doa Sayidina Ali Setelah Shalat Malam, Baik Dibaca di Waktu Sahur

Terdapat dua pendapat yang sama-sama kuat dalam mengartikan lafal “nasyiah”. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi dalam Tafsir Kabir.

Pendapat pertama mengartikannya sebagai waktu malam. Apabila mengikuti pendapat ini, maka perlu dipahami bahwa yang dimaksud waktu malam ialah keseluruhan waktu malam yang dimulai ketika telah masuk waktu Isya’.

Penafsiran yang menyatakan bahwa lafal “nasyi’ah” diartikan sebagai waktu malam ini juga disetujui Imam At-Thabari. Beliau menambahkan penjelasan bahwasanya seluruh waktu malam dapat disebut sebagai “nasyi’ah”. Redaksi tambahan penafsiran At-Thabari ini adalah; wa kullu sa’atin min sa’atil laili nasyi’atun minal laili.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir pun ditemukan sebuah simpulan yang tak jauh berbeda dengan penafsiran At-Thabari. Imam Ibnu Katsir menyampaikan bahwa “nasyiatul lail” memiliki arti bagian-bagian waktu malam hari. Oleh karena penafsiran tersebut, maka makna yang dimaksud dari ayat 6 surah Al-Muzzammil adalah bahwasanya mengerjakan shalat sunah atau qiyamul lail pada malam hari dapat lebih khusuk, juga membaca Al-Qur’an pada waktu tersebut lebih dapat meresap di hati.

Pendapat kedua mengartikannya sebagai perkara atau kegiatan yang terjadi pada waktu malam, dalam hal ini maksudnya adalah bangun untuk shalat pada waktu malam. Apabila mengikuti pendapat yang kedua, maka dampak dari lebih dipilihnya redaksi “nasyi’ah” dibanding lafal lain yang memiliki maksud sama–seperti qiyam atau tahajjud–menurut Imam Ibnu ‘Asyur adalah agar manusia bergegas dan lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan salat malam.

Beralih ke surah Al-Muzzammil ayat 7, terdapat suatu lafal yang perlu dipahami secara lebih teliti, yakni lafal “sabhan thawilan”. Lafal “sabhan thawilan” ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, Qatadah dan Yahya bin Ya’mar dengan kekosongan hati (dari mengingat Allah) yang lama, yang disebabkan tidur. Sedang menurut Ibnu Zaid dan Abu Ja’far kekosongan tersebut disebabkan karena kesibukan untuk memenuhi kebutuhan.

Baca Juga :  Di Masa Lalu, Mengapa Bani Hud di Zaragoza dan Bani Zunnun di Toledo juga Konflik?

Imam At-Thabari menjelaskan bahwa dalam ayat ketujuh terdapat sebuah informasi yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Karena pada waktu siang terdapat kesenggangan yang cukup lama, yang cukup untuk menjadikan hati terombang-ambing pada waktu tersebut.

Disebutnya waktu siang sebagai waktu sibuk ini dalam surah Al-Muzzammil ayat 7, menurut Imam Ibnu ‘Asyur, secara umum menggambarkan keadaan nyata aktivitas Nabi Muhammad dan umat beliau ketika siang hari pada saat itu. Karena ketika siang hari, Rasulullah lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Tugas Rasulullah untuk mengajak manusia menuju jalan Allah, menyampaikan ajaran Al-Qur’an, mengajarkan agama Islam tentu sangat menyibukkan Nabi di siang hari.

Kemudian mengapa untuk menyambung dua alasan dikhususkannya waktu malam yang dijawab dengan ayat keenam dan ketujuh tidak menggunakan huruf ‘athaf? Hal ini dikarenakan ayat keenam menjelaskan alasan faktor internal (amr dakhili) sedangkan ayat ketujuh menjelaskan alasan faktor eksternal (amr khoriji).

Meski ayat ketujuh dianggap sebagai alasan faktor eksternal, akan tetapi bukan berarti tak memiliki arti penting. Justru dengan dituturnya faktor internal dan eksternal sekaligus, semakin menguatkan bahwa sebuah perintah yang termaktub dalam Al-Qur’an memiliki tujuan dan alasan yang sangat kuat. Wallahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here