Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 20: Alternatif Jika Tidak Melaksanakan Shalat Malam

0
1303

BincangSyariah.Com – Sudah dibahas sebelumnya, bahwa pada masa awal diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, shalat malam berstatus sebagai ibadah fardhu. Selang beberapa waktu, diturunkanlah Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 20 yang menghapus status kefardhuannya. Sehingga hukum salat malam menjadi sunah. Adapun shalat yang difardhukan setelah diturunkannya ayat tersebut hanyalah shalat lima waktu dalam sehari.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 20:

إِنَّ رَبَّكَ یَعۡلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدۡنَىٰ مِن ثُلُثَیِ ٱلَّیۡلِ وَنِصۡفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَاۤىِٕفَةࣱ مِّنَ ٱلَّذِینَ مَعَكَۚ وَٱللَّهُ یُقَدِّرُ ٱلَّیۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحۡصُوهُ فَتَابَ عَلَیۡكُمۡۖ فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِۚ عَلِمَ أَن سَیَكُونُ مِنكُم مَّرۡضَىٰ وَءَاخَرُونَ یَضۡرِبُونَ فِی ٱلۡأَرۡضِ یَبۡتَغُونَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَءَاخَرُونَ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ فَٱقۡرَءُوا۟ مَا تَیَسَّرَ مِنۡهُۚ وَأَقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقۡرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنࣰاۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَیۡرࣲ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَیۡرࣰا وَأَعۡظَمَ أَجۡرࣰاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمُۢ

Inna rabbaka ya’lamu annaka taqumu adna min tsulusayil laili wanishfahu wa tsululusahu, wa thaifatun minalladzina ma’aka. Wallahu yuqaddirul laila wan nahara, ‘alima an lan tuhshuha fataba ‘alaikum. Faqra’u ma tayassara minal qur’an. ‘Alima an sayakunu minkum mardha wa akharuna yadhribuna fil ardhi yabtaghuna min fadhlillahi wa akharuna yuqatiluna fi sabilillah. Faqra’u ma tayassara minhu. Wa aqimus shalata wa atuz zakata waqrahulla qardhan hasanan. Wama tuqaddimu lianfusikum min khairin tajiduhu ‘indallahi huwa khairan wa a’dzamu ajran. Wastaghfirullaha, innallaha ghafurun rahimun.

Artinya:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Q.S. Al-Muzzammil (73): 20]

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 17-19: Pertanyaan Allah kepada Para Pembangkang

Kesimpulan hukum yang diperoleh dari surah Al-Muzzammil ayat 20 di atas memang ditemui perbedaan. Menurut Imam Syafi’i–sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Ash-Shawi–, ayat ini menandakan perubahan hukum shalat malam yang awalnya wajib menjadi sunah, bagi Nabi Muhammad juga bagi umatnya.

Sedangkan menurut Imam Malik, perubahan hukum shalat malam menjadi sunah hanya berlaku bagi umat Rasulullah saja. Sedangkan bagi Nabi Muhammad Saw., hukum shalat malam masih tetap diwajibkan, tetapi hanya ketika beliau sedang di rumah atau tidak sedang berpergian. Adapun alasannya sudah dijelaskan dalam pembahasan tafsir surah Muzzammil bagial awal surah.

Allah mengetahui bahwa ketika Nabi Muhammad menjalankan shalat tahajud, tidak selamanya beliau melaksanakannya secara penuh setiap malamnya. Dalam artian dimulai dari permulaan hingga akhr malam. Nabi Muhammad terkadang menjalankan shalat malam kurang dari dua pertiga malam, kadang juga setengah malam, bahkan juga menjalankannya sepertiga dari keseluruhan waktu malam. Begitu juga yang dilaksakan oleh umat beliau.

Melalui redaksi “alima an sayakunu minkum…”, memberikan gambaran kepada kita akan pengetahuan Allah. Sesungguhnya Allah Swt. mengetahui bahwasanya sebagian hambanya-Nya ialah orang-orang yang memiliki uzur untuk menjalankan shalat malam.

Di antara orang yang mengalami uzur ialah orang yang sedang menderita sakit jasmani maupun rohani, sehingga menjadikannya tak mampu menjalankan shalat malam. Kemudian orang yang berjalan di muka bumi untuk mencari karunia Allah, berupa rezeki yang halal untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Juga orang yang turut serta dalam peperangan membela agama Allah. Selain itu, termasuk di dalamnya juga orang yang tersibukkan untuk menuntut ilmu dan silaturrahmi.

Terdapat fakta menarik dalam ayat ini, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Shawi. Menurut beliau, disandingkannya redaksi orang-orang yang berperang atau berjihad (mujahidin) dan orang-orang yang mencari rezeki halal (muktasibina lil mali al-halali) ialah sebuah isyarat bahwa derajat mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan sendiri dan kebutuhan keluarga itu dapat disejajarkan dengan derajat orang yang berjihad di jalan Allah Swt.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 8-9: Beribadah pada Allah dengan Sepenuh Hati

Kalimat perintah “faqra’u ma tayassara minal qur’an” atau “faqra’u ma tayassara minhu”, secara tekstual memang menunjukkan perintah untuk membaca Al-Qur’an sesuai kadar kemampuan pelakunya, seringan mungkin tidak malasah. Tetapi terdapat perbedaan, apakah lafal tersebut menunjukkan perintah shalat dengan kadar bacaan Al-Qur’an meski pun ringan, atau perintah membaca Al-Qur’an secara bebas, baik di luar maupun ketika shalat.

Di antara ulama yang menafsirkan bahwa redaksi tersebut menunjukkan perintah untuk shalat malam, meski dengan bacaan Al-Qur’an yang ringan ialah Imam Ibnu ‘Asyur. Beliau melandaskan penafsirannya pada aturan shalat yang terdapat rukun untuk membaca ayat Al-Qur’an. Karena apabila sebuah rukun ditinggalkan, berakibat pada tidak sahnya shalat.

Akan tetapi ulama ahli tafsir memiliki pemahaman yang berbeda terkait kadar ringan yang dimaksud dari redaksi tersebut. Disebutkan dalam Tafsir Mafatihul Ghaib, ada ulama yang menafsirkan bahwa kadar ringan ini setara dengan seratus ayat. Apabila tidak mampu, maka bisa dikurangi menjadi lima puluh ayat. Begitu pun terus turun kadarnya hingga setara dengan ayat-ayat pendek, sesuai dengan kadar kemampuan yang melakukan.

Sedangkan Prof. M. Qurais Shihab memberikan kesimpulan tengah-tengah, bahwa Allah memerintahkan kepada seluruh manusia supaya jangan sampai meninggalkan membaca Al-Qur’an dalam sehari semalam. Meski sedikit, tetap perlu diusahakan untuk membaca Al-Qur’an, baik di dalam maupun di luar shalat.

Ayat ini juga menjelaskan tentang alternatif bagi umat Nabi Muhammad yang tak mampu menjalankan shalat malam, yakni terdapat pada lafal “waqridhullaha qardhan hasanan”. Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, lafal tersebut memiliki tiga bentuk penafsiran, yakni  dimaknai dengan “sedekah”, dimaknai dengan “zakat”, maupun dimaknainai dengan “segala amal baik yang berhubungan dengan harta”.

Baca Juga :  Keutamaan Siti Aisyah, Istri Nabi Muhammad Saw.

Tetapi jika merujuk penuturan Prof. M. Quraish Shihab, ayat ini menunjukkan alternatif bagi orang-orang yang tak mampu menjalankan shalat. Yaitu dengan cara memperbanyak sedekah. Meski beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa alangkah lebih baiknya apabila kita mampu melaksanakan shalat malam sekaligus mampu bersedekah.

Sekian uraian tentang tafsir surah Al-Muzzammil. Semoga dapat bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here