Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 2-3: Shalat Malam bagi Nabi dan Umatnya

2
1124

BincangSyariah.Com – Pembahasan tafsir surah Al-Muzzammil ayat pertama yang membicarakan tentang khitob dan pemaknaan lafal al-muzzammil begitu banyak ditemui perbedaan cara pandang ahli tafsir. Pada segmen ini, akan dibahas kelanjutannya, yakni tafsir surah Al-Muzzammil ayat kedua dan ketiga tentang perintah untuk melaksanakan shalat malam. (Baca: Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 1: Orang yang Berselimut, Apa Maksudnya?)

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 2;

قُمِ ٱلَّیۡلَ إِلَّا قَلِیلࣰا () نِّصۡفَهُۥۤ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِیلًا

Qumil laila illa qolilan; nishfahu awinqush minhu qalilan

Artinya:

“Bangunlah (shalat lah) pada waktu malam, kecuali sebagian kecil () (yaitu) separuhnya atau kurangi sedikit dari itu” [Q.S. Al-Muzzammil (73): 2-3]

Ayat kedua surah Al-Muzzammil mengandung sebuah perintah untuk berdiri (shalat ) di waktu malam. Sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul fiqih, apabila dijumpai sebuah perintah (amr) maka itu menunjukkan atas suatu kewajiban, kecuali jika ada qarinah yang menunjukkan tidak wajib atau yang menggugurkan kewajibannya.

Berdasar pada Hasyiyah Ash-Showi, lafal “qum” ditafsirkan dengan qum lis shalati wal ‘ibadati, (bangunlah untuk shalat  dan beribadah). Redaksi al-lail berarti ‘pada waktu malam’. Sehingga kalimat qum al-lail jika diartikan secara tekstual diperoleh makna bangunlah pada waktu malam.

Ulama ahli tafsir berbeda pendapat apakah shalat  malam pernah diwajibkan bagi Nabi atau memang sejak awal sunah. Bagi ulama yang berpandangan bahwa shalat  malam diwajibkan bagi Nabi setelah diturunkannya surah Al-Muzzammil, maka perintah yang menunjukkan pada kewajiban itu telah dihapus (mansukh) dengan ayat terakhir surah Al-Muzzammil, sehingga shalat  malam hukumnya menjadi sunah.

Dalam Tafsir Mafatihul Ghaib, Imam Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan beberapa dugaan sebab penghapusan kewajiban shalat malam pada awal Islam bagi Nabi dan umatnya menjadi kesunahan.

Baca Juga :  Tiga Era Perkembangan Tafsir Perspektif History of Idea

Pertama, kewajiban shalat malam hanya berlaku sebelum diwahyukannya shalat lima waktu. Maka praktis setelah shalat  lima waktu diwajibkan bagi Nabi dan umat Nabi Muhammad, shalat  lima waktu menggantikan fardhunya shalat  malam. Sehingga shalat malam hukumnya menjadi sunah bagi Nabi dan umatnya.

Kedua, ketika diturunkan bagian awal surah Al-Muzzammil, umat Nabi Muhammad ikut menjalankan perintah wajibnya shalat malam tersebut. Karena ketidaktahuan mereka tentang berapa kali shalat  dan berapa lama, sebagian orang menghabiskan malamnya untuk shalat  malam karena kekhawatirannya jika tak menjaga kewajiban. Hal itu cukup berat bagi mereka, hingga membuat telapak kaki dan betis mereka bengkak. Kemudian Allah menurunkan ayat terakhir dari surah Al-Muzzammil yang me-nasakh kewajiban shalat malam.

Dalam Hasyiyah Ash-Showi disebutkan siapa yang kemudian menerima titah kewajiban menjalankan shalat  malam. Ada yang mengatakan bahwa kewajiban menjalankan shalat malam itu khusus untuk Nabi Muhammad Saw. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir. Melalui tafsirnya, Ibnu Katsir secara jelas mengisyaratkan bahwa shalat malam diwajibkan bagi Nabi Muhammad seorang.

Versi lain menyebutkan bahwa shalat  malam wajib bagi Nabi Muhammad dan seluruh Nabi sebelum beliau.

Sedangkan menurut ulama yang berpandangan bahwa shalat  malam tidak pernah diwajibkan bagi Nabi juga mengemukakan berbagai argumen yang dilandaskan pada indikasi kesunahannya. Argumen para ahli tafsir ini pun dikumpulkan oleh Imam Ar-Razi dalam tafsir beliau.

Pertama, berdasar pada Q.S. Al-Isra’ (17) ayat 79; “wa minal laili fatahajjad bihi nafilatan laka”, mengisyaratkan bahwa shalat  malam tidak pernah diwajibkan bagi Nabi Muhammad saja.

Kedua, apabila shalat malam memang diwajibkan bagi Nabi Muhammad, maka juga wajib bagi umatnya. Tetapi kenapa umatnya tidak diwajibkan untuk menjalankan shalat  malam? Pendapat tersebut ini dilandaskan pada Q.S. Al-A’raf (7) ayat 158; “wattabi’uhu”.

Ketiga, perintah Allah yang berbunyi “qum al-lail” sangat berpeluang besar menunjukkan hukum sunah, bukan wajib. Hal ini dikarenakan selain dijumpai perintah Allah dalam Al-Qur’an yang memberi faidah wajib juga dijumpai perintah yang berfaidah mandzub/sunah.

Baca Juga :  Pengantar Tafsir Surah an-Nisa; Sejarah dan Kandungan Surah

Terlepas dari uraian sejarah apakah shalat malam awalnya diwajibkan atau memang sunnah. Kita tahu bahwa shalat malam adalah imbauan Allah Swt., sehingga sudah sepantasnya apabila kita sebagai hamba menjalankan perintah-Nya. Berapa lama durasi shalat malam pada masa awal turunnya wahyu?

Kadar waktu diperintahkannya shalat malam pada awal turunnya wahyu adalah seluruh malam kecuali sedikit. Yang dimaksudkan sedikit adalah setengahnya (nishfahu). Hal ini diketahui dari penjelasan dalam Tafsir Al-Jalalain yang menyebutkan bahwa lafal “nishfahu” yang berarti setengahnya adalah pengganti atau badal dari lafal “qalil” yang berarti sedikit.

Kemudian apabila tidak menjalankan setengah dari keseluruhan malam, diberikan pilihan untuk menguranginya hingga menjadi sepertiga malam saja. Keterangan pengurangan menjadi sepertiga malam ini berdasar pada penegasan Iman Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Al-Jalalain. Jika ternyata dirasa kurang, maka diberikan pilihan kembali untuk menambahnya menjadi dua pertiga malam.

Imam Ahmad Ash-Showi lantas memberikan sebuah penafsiran, bahwa makna yang dihasilkan dari surat Al-Muzzammil ayat 2-4 adalah; “qum nishfahu au tsulusahu au tsulusaihi, fahuwa minal wajib al-mukhoyyar” (bengunlah untuk shalat dan beribadah setengah malam atau sepertiganya atau dua pertiganya. Karena shalat malam adalah kewajiban yang diperkenankan untuk memilih).

Pendapat di atas juga didukung oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dengan mengutip dalil surat Al-Muzzammil ayat terakhir. “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu.” [Q.S. Al-Muzzammil (73): 20].

Secara tegas beliau mengungkapkan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa kadar paling banyak pelaksanaan kewajiban shalat malam adalah dua pertiga malam, pertengahannya setengah malam, sedangkan paling sedikit sepertiga malam. Berdasarkan pemahaman ini, Imam Ar-Razi menduga bahwa kewajiban shalat malam adalah sepertiga malam, sedangkan setengah dan dua pertiga malam ialah durasi kesunahan.

Baca Juga :  Kejujuran Syekh Abdul Qodir al-Jailani Selamatkannya dari Segerombolan Perampok

Menyusul pendapat di atas, Imam Ar-Razi pun menyebutkan bahwa ada ulama yang menafsirkan batas kewajiban menjalankan shalat malam pada awal turunnya wahyu bukanlah sepertiga malam, melainkan seperempat malam. Dengan dalil yang sama, yakni surat Al-Muzzammil, disebutkan sebuah kesimpulan lain;

وعلى هذا التقدير يكون الواجب الذي لا بد منه هي قيام الربع، والزائد عليه يكون من المندوبات والنوافل.

Atas penilaian ini, kewajiban yang harus dijalankan darinya (malam) adalah bangun untuk sholah selama seperempat malam. Adapun menambah atasnya (seperempat malam) ialah sebuah kesunahan. (Tafsir Ar-Razi, Juz 30, h. 173).

Diberikannya pilihan setengah malam, mengurangi atau menambahnya dalam melaksanakan shalat malam, menurut Imam Ibnu ‘Asyur adalah sebuah rukhsoh (keringanan) dan wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Wallahu a’lam bis showab

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Bagian awal ayat keempat surah Al-Muzzammil mengisyaratkan sebuah pilihan untuk menambah durasi pelaksanaan shalat malam apabila dirasa sepertiga atau setengah dari keseluruhan waktu malam dirasa masih kurang. Setelah perintah untuk melaksanakan shalat malam berikut kadar waktu pelaksanaannya, dalam surah Al-Muzzammil ayat keempat juga terdapat lanjutan perintah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. (Baca: Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 2-3: Shalat Malam bagi Nabi dan Umatnya) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here