Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 17-19: Pertanyaan Allah kepada Para Pembangkang

0
165

BincangSyariah.Com – Melalui ayat sebelumnya, telah dijelaskan diutusnya Nabi Muhammad sebagai saksi bagi kaumnya. Sebagaimana diutusnya Nabi Musa kepada kaumnya, termasuk kepada Fir’aun. Juga telah disebutkan, azab apa saja yang bisa jadi menimpa para pembangkang, kelak setelah hari kiamat.

Adapun ayat yang akan di bahas dalam tulisan ini, menjelaskan tentang peringatan Allah dengan gambaran kengerian hari kiamat bagi mereka yang mendustakan Nabi.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 17-19:

فَكَیۡفَ تَتَّقُونَ إِن كَفَرۡتُمۡ یَوۡمࣰا یَجۡعَلُ ٱلۡوِلۡد⁠نَ شِیبًا ۝  ٱلسَّمَاۤءُ مُنفَطِرُۢ بِهِۦۚ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَفۡعُولًا ۝  إِنَّ هَـٰذِهِۦ تَذۡكِرَةࣱۖ فَمَن شَاۤءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِیلًا ۝

Fa kaifa tattaquna in kafartum yauman yaj’alul wildana syiban. As-sama’u munfathirun bihi, kana wa’duhu maf’ulan. Inna hadzihi tadzkiratun, fa man sya’at takhadza ila rabbihi sabilan.

Artinya:

Lalu bagaimanakah kamu akan dapat menjaga dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit terbelah pada hari itu. Janji Allah pasti terlaksana. Sungguh, ini adalah peringatan. Barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya. [Q.S. Al-Muzzammil (73): 15-16]

Ayat di atas diawali dengan sebuah pertanyaan. Akan tetapi pertanyaan itu tidak digunakan untuk mencari jawaban. Melainkan hanya untuk meremehkan penduduk Makkah yang membangkang dan mengecam kelakuan mereka.

Membincang redaksi pertanyaan pada ayat di atas, Prof. M. Quraish Shihab memberikan pengibaratan yang sangat mudah untuk membantu kita memahami surah Al-Muzzammil ayat 17-19.

Apabila seseorang takut terhadap sesuatu, maka ia akan lari dari yang membuatnya takut. Misalnya, ketika seseorang takut kepada buaya yang bisa jadi menerkamnya, maka ia akan berlari menjauh dari buaya itu. Berbeda halnya apabila seseorang takut kepada pencipta-Nya. Apabila seseorang takut kepada Allah, maka ia tak akan berlari menjauh dari-Nya. Kemudian, seseorang yang takut kepada buaya, bisa saja ia selamat dengan berlari sekencang mungkin dari buaya itu. Tetapi jika takut akan hari kiamat dan azab Allah Swt., mana mungkin seseorang bisa lari dari-Nya.

Baca Juga :  Di Zaman Nabi, Ini Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban

Selanjutnya kita bahas redaksi-redaksi yang perlu dipahami secara lebih mendalam.

Kalimat “yauman yaj’alul wildana syiban” apabila diterjemahkan secara bebas, maka menghasilkan makna bahwa hari kiamat itu menjadikan anak-anak kecil beruban. Meski substansi yang dihasilkan dari berbagai penafsiran masih sama, yakni membincang seputar kengerian hari akhir, akan tetapi terdapat perbedaan cara pemaknaan yang cukup kentara di kalangan para ahli tafsir. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib.

Sebagian ulama menafsirkan bahwa lafal tersebut bermakna keadaan aslinya (haqiqi). Kalimat tersebut dapat diartikan bahwa ketika datang hari akhir, rambut anak-anak kecil benar-benar menjadi beruban. Karena sejatinya situasi yang menakutkan bagi seseorang, dapat menjadikannya tiba-tiba beruban sebelum waktu kebiasaan. Sedangkan hari kiamat ialah hari yang menakutkan dan akan terasa sangat lama.

Bahkan Prof. M. Quraish Shihab juga menyebutkan bahwasanya orang yang terlalu berpikir yang berat-berat, akan lebih cepat rambutnya beruban, daripada keadaan normalnya. Sebuah cerita, bahwa ketika Nabi menerima wahyu surah Hud, Al-Waqiah dan At-Takwir, beliau lantas menjadi beruban. Hal itu lantaran isi yang terkandung dalam ketiga surah tersebut.

Sebagian ahli tafsir lain menyatakan bahwa lafal “yauman yaj’alul wildana syiban” tidak menunjukkan makna asli, melainkan sebuah majaz (majazi). Maka dituturkannya lafal tersebut hanyalah sebagai gambaran kengerian hari kiamat.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan sebuah hadis yang diceritakan oleh Ibnu Abbas. Bahwa Rasulullah ketika membaca surah Al-Muzzammil ayat 17 (yauman yaj’alul wildana syiban), kemudian beliau bersabda: “hal itu terjadi pada hari kiamat. Yaitu hari di mana Allah berfirman kepada Nabi Adam, [bangkit dan kirim keturunanmu yang akan diceburkan ke neraka!] Adam bertanya, [Berapa jumlahnya, Wahai Tuhan?] Allah pun menjawab, [setiap seribu orang diambil sembilan ratus sembilan puluh sembilan, yang satu orang selamat].”

Kaum Muslim yang mendengar cerita itu merasa ciut dan ketakutan. Rasulullah yang melihat ekspresi mereka pun melanjutkan sabdanya dan memberikan ketenangan kepada mereka, “keturunan Adam itu sangat banyak. Bahkan Ya’juj dan Ma’juj pun keturunan Adam. Dan tidaklah mereka mati sebelum menebarkan seribu orang anak dari tulang sulbinya. Maka yang dikirimkan ke neraka ialah mereka dan orang yang serupa dengan mereka. Sedangkan bagi kalian ialah surga.”

Beranjak pada lafal selanjutnya, firman Allah “kana wa’duhu maf’ulan” diartikan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa janji Allah Swt. yang berkaitan dengan akan terjadinya hari kiamat itu pasti akan terjadi dan tak mungkin dapat terelakkan. Karena sejatinya Allah adalah Dzat yang suci dari dusta (munazzahun ‘anil kadzibi).

Baca Juga :  Kaidah Tafsir: Bentuk Mufrad dan Jamak dalam Al-Qur'an

Adapun maksud dari kalimat yang menunjukkan makna jalan Allah–menurut Imam Ahmad Ash-Shawi–adalah jalan keimanan dan ketaatan kepada Allah. Jalan tersebut akan mampu ditempuh oleh manusia apabila ia telah berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Menganut pemahaman Imam Jalaluddin Al-Mahalli, ringkasan tafsir surah Al-Muzzammil ayat 17-19 ialah bermula ketika penduduk Makkah mendustakan Nabi Muhammad Saw. Allah kemudian meremehkan mereka, bahwa mereka tak akan bisa menjaga diri mereka pada hari kiamat, selama mereka masih menutup hatinya untuk beriman kepada Rasul yang diutus-Nya. Dengan benteng apa pun, mereka tak akan mampu terhindar dari azab di hari akhir. Berlari sekencang apa pun, mereka tak akan bisa selamat dari azab-Nya.

Langit yang begitu luas dan senantiasa bertasbih saja bisa terpecah-belah karena keganasan hari kiamat, apalagi sekadar mereka para pembangkang. Bagaimana mungkin mereka bisa selamat dari azab Allah pada hari yang sangat mengerikan itu.

Pada hari itu pula, janji-janji Allah benar-benar ditunaikan. Saat ayat di atas diwahyukan, semua memang masih menjadi sebuah tanda-tanda dan peringatan bagi mereka saja. Maka siapa saja yang berkehendak menuju kebenaran, maka ia akan bergegas menuju jalan keimanan, ketaatan dan ketakwaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here