Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 1: Orang yang Berselimut, Apa Maksudnya?

4
1447

BincangSyariah.Com – Sebagaimana beredar di kalangan umat Islam bahwa di antara keutamaan membaca Al-Qur’an surah Al-Muzzammil adalah dijadikan wasilah untuk kemudahan rezeki dan memimpikan Rasulullah Saw. Terlepas dari percaya atau tidak dengan keutamaan membaca surah Al-Muzzammil yang disebutkan oleh ulama, mari kita pelajari tentang tafsir surah Al-Muzzammil.

Untuk menghindari sempitnya pemahamahaman terhadap tafsir surah Al-Muzzammil, tulisan ini berusahasa memanfaatkan berbagai rujukan yang kredibel. Akan tetapi yang paling sering dirujuk dalam tulisan ini adalah Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Imam Jalaliddin Al-Mahalli, Hasyiyah Ash-Showi karya Imam Ahmad bin Muhammad Ash-Showi, Tafsir At-Tahrir wat Tanwir karya Imam Ibnu ‘Asyur, Tafsir Ar-Razi/Tafsir Kabir/Tafsir Mafatihul Ghoib karya Imam Fakhruddin Ar-Razi dan lain sebagainya.

Surah Al-Muzzammil tergolong dalam surah makkiyah, kecuali ayat terakhir yang dikategorikan madaniyah. Keterangan ini diungkapkan oleh Imam As-Sa’labi dan Imam Al-Qurthubi dan kemudian disepakati oleh jumhur ulama ahli tafsir.

Jumlah ayat surah Al-Muzzammil menurut sahabat ahli Madinah ialah 19 ayat, sedangkan menurut sahabat ahli Bashrah ialah 20 ayat. Secara lebih rinci apabila mengikuti ulama yang berbendapat bahwa surah ini terdiri atas dua puluh ayat, maka ayat 1-19 tergolong makiyah, sedangkan ayat ke-20 tergolong madaniyah.

Terdapat selang waktu sekitar sepuluh tahun antara diturunkannya bagian awal surah Al-Muzzammil dengan bagian akhirnya. Dalam sebagian riwayat ada yang menyebutkan satu tahun. Perkiraan rentang waktu tersebut berdasar pada penuturan Imam Ath-Thabari yang bersumber dari Said bin Zubair.

Menurutnya, ketika turun bagian awal surah Al-Muzzammil, Nabi selalu melaksanakan shalat malam selama sepuluh tahun, ada juga yang menyebut setahun. Para sahabat pun mengikuti apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Kemudian ketika telah diwahyukan ayat terakhir surah Al-Muzzammil (pada saat itu telah diwajibkan shalat lima waktu), shalat malam tak diwajibkan lagi bagi Nabi Muhammad. Karena fardhunya telah digantikan oleh shalat fardhu lima waktu.

Baca Juga :  Waspada Tiga Jalan Menuju Neraka!

Surah Al-Muzzammil turun terjadi pada masa awal turunnya wahyu. Sedangkan urutan turunnya surah ini masih diperselisihkan. Sebagian mengabarkan bahwa surah Al-Muzzammil turun ketiga, yakni setelah Al-‘Alaq dan Al-Muddatsir, atau setelah Al-‘Alaq dan Al-Qalam. Sebagian lain mengabarkan bahwa surah Al-Muzzammil turun keempat setelah Al-‘Alaq, Al-Qalam dan Al-Muddatsir.

Imam Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir secara tegas mengungkapkan bahwa penamaan surah ini dengan nama Al-Muzzammil ialah penamaan tunggal. Artinya tidak ditemukan penyebutan dengan nama lain pada surah ini, selain nama Al-Muzzammil.

Ada beberapa versi tentang sebab turunnya surah Al-Muzzammil. Mengutip dari Tafsir Ibnu Katsir yang menyebutkan sebuah hadis bersumber dari sahabat Jabir, diceritakan bahwa suatu ketika kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka berencana membuatkan julukan untuk Nabi Muhammad Saw. Sebuah yang bisa membuat orang-orang menjauhinya. Beberapa dari mereka pun mengusulkan beberapa nama, di antaranya adalah; kahin (dukun), majnun (orang gila), dan sahir (penyihir).

Tetapi usulan mereka pun dibantah oleh golongan mereka sendiri. Karena jelas, Nabi Muhammad di mata mereka bukanlah seorang dukun, bukan orang gila, juka bukan penyihir. Karena perdebatan itu, orang-orang Quraisy pun terpecah-pecah dan terkelompokkan berdasarkan usulan yang didukungnya.

Rasulullah yang mendengar kejadian ini pun bersedih dan menahan diri, lantas beliau menyelimuti dirinya dengan kain. Dalam keadaan tersebut, datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu, yakni surah Al-Muzzammil (ya ayyuhal muzzammil) dan surah Al-Muddatsir (ya ayyuhal muddatsir).

Ada juga riwayat lain yang menghubungkan dengan pertama kali Nabi menerima wahyu, yakni surah Al-‘Alaq 1-5. Yang mana ketika Nabi pulang dari tahannus di Gua Hira’, Nabi meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Setelah Nabi berkata kepada istrinya “zammiluni!” (selimuti aku), Jibril turun menyampaikan wahyu selanjutnya, yaitu surah Al-Muzzammil (ya ayyuhal muzzammil) dan surah Al-Muddatsir (ya ayyuhal muddatsir). (Baca: Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 3; Kondisi Nabi Saat Terima Wahyu di Gua Hira)

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 17-19: Pertanyaan Allah kepada Para Pembangkang

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Muzzammil ayat 1;

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلۡمُزَّمِّلُ

Ya ayyuhal muzzammil.

Artinya:

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad).” [Q.S. Al-Muzzammil (73): 1]

Terkait makna dari lafal al-muzzammil sendiri masih diperselisihi oleh para ulama. Sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Ash-Shawi bahwa sebagian ulama mengartikannya dengan al-mutalaffif bi tsiyabih (orang yang berselimut dengan pakaiannya).

Penafsiran tersebut berdasar pada Tafsir Al-Jalalin yang menyebutkan bahwa al-muzzammil berasal dari kata al-mutazammil, yang di-idghom-kan huruf Ta’–yang telah dibalik menjadi huruf Za’–pada huruf Za’. Dari analisis tersebut, lafal al-muzzammil kemudian ditafsirkan menjadi, orang yang berselimut dengan pakaiannya kala datangnya wahyu karena ketakutannya akan kemuliaan dan keagungannya.

Ada juga yang menafsirkan dengan al-muzzammil bin nubuwwah war risalah (orang yang berselimut berita kenabian dan pesan kerasulan). Sebagian lain juga ada yang menafsirkan sebagai al-muzzammil bil qur’an (orang yang berselimut Al-Qur’an) dan ya ayyuha alladzi zammala bi hadzal amr (wahai orang yang berselimut sebab perintah ini). Adapun menurut Ibnu Abbas, ya ayyuha al-muzzammil ditafsirkan dengan ya ayyuhan naim (wahai orang yang tidur).

Meski terdapat perbedaan ulama dalam menafsirkan kata al-muzzammil, tetapi semua bersepakat bahwa peruntukkan (khithob) ayat pertama ialah Nabi Muhammad Saw. Juga disepakati bahwa kata al-muzzammil merupakan nama atau julukan yang berikan Allah untuk Nabi Muhammad Saw. Sehingga kita diperkenankan memutlakkan nama tersebut untuk beliau.

Wallahu a’lam bis shawab.

4 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Pembahasan tafsir surah Al-Muzzammil ayat pertama yang membicarakan tentang khitob dan pemaknaan lafal al-muzzammil begitu banyak ditemui perbedaan cara pandang ahli tafsir. Pada segmen ini, akan dibahas kelanjutannya, yakni tafsir surah Al-Muzzammil ayat kedua dan ketiga tentang perintah untuk melaksanakan shalat malam. (Baca: Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 1: Orang yang Berselimut, Apa Maksudnya?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here