Tafsir Surah Al-Muthaffifiin: Orang-Orang yang Mengambil Hak Orang Lain

0
1449

BincangSyariah.Com – Setiap orang memiliki hak untuk dirinya, akan tetapi tidak berhak untuk mengambil bagian dari orang lain, terlebih jika hal itu merugikan orang lain. Surah al-Muthaffifiin adalah surat yang pada permulaan ayat melaknat orang yang berbuat curang dan mengurangi hak orang lain.

ويل للمطفيفين . الذين اذااكتالوا على الناس يستوفون . و اذا كالوهم اووزنوهم يخسرون .

“Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang). (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan. Dan apabila mereka menakar atau menimbang, mereka mengurangi.”

Perbuatan menakar atau menimbang sering kali dinisbatkan pada pedagang, memang betul. Adab para pedagang, menurut Hamka harus menghindari sikap curang karena telah jelas neraka Wail adalah balasannya. Menurutnya, mengapa neraka wail yang diperuntukkan bagi orang yang curang? Sebab mereka telah meninggalkan garis keadilan. Seorang harus sempurna dalam takaran dan timbangannya.

Dalam beberapa penafsiran kata wail, sebenarnya para ulama masih berbeda pendapat. Sebagian ulama ada yang mengatakan wail dalam surat Al-Muthaffifiin ini adalah lembah neraka. Sedangkan sebagian ulama lainnya, berpendapat dengan meninjau dari segi bahsa bahwa wail  adalah bentuk kecelaan atau kebinasaan. Yakni, binasalah orang orang yang curang itu. Kemudian, pendapat kedua inilah yang lebih kuat dari pendapat pertama.

Makna Luas dari Muthaffifiin

Mengurangi timbangan dan takaran memang lebih mungkin terjadi pada seorang pedangang, akan tetapi perilaku ini juga tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh orang-orang non-pedagang. Salman Al-Farisi menjadikan makna ancaman dalam surat ini berlaku bukan hanya pada proses jual-beli, akan tetapi pada pekerjaan atau kondisi lainnya.

Intinya yang dapat diambil dari dari ayat ke-2 dan ke-3, ia menuntut hak pada orang lain, akan tetapi tidak memberikan hak sama pada orang lain. Misalnya, seorang yang mencuri-curi waktu pekerjaannya, ia datang terlambat, dan pulang diam-diam kemudian menuntut gaji yang tinggi pada perusahannya. Tentu ini juga termasuk dari menuntut hak akan tetapi enggan menunaikan kewajibannya.

Baca Juga :  Pembagian Surah dalam Al-Quran

Selain itu, contoh dalam rumah tangga, seorang suami yang yang menuntut istrinya menjadi sholihah dan taat padanya, akan tetapi ia sendiri lalai pada memberikan haknya pada istri. Sebagian ulama mencontohkan bahwa hal ini masuk dalam contoh lain dari kata muthaffifiin ini.

Ketika diperluas lagi makna muthaffifiin, juga akan sampai pada contoh hubungan rakyat dan pemerintah. Ketika seorang rakyat menuntut haknya pada pemerintah, sedangkan rakyat tidak menjalankan menjalankan kewajibannya sebagai rakyat tidak mematuhi peraturan perintah. Atau sebaliknya, Pemerintah yang selalu menuntut hak pada rakyat sedang ia tidak menjalankan kewajiban sebagai pemimpin dengan baik.

Memberikan hak pada orang lain adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Jika mengurangi hak orang lain walau  hanya sedikit saja, maka celakalah ia di akhirat kelak. Naudzubillahi min dzalik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here